Welcome Guest [Log In] [Register]

Welcome to Indo-FanFiction. We hope you enjoy your visit.


You're currently viewing our forum as a guest. This means you are limited to certain areas of the board and there are some features you can't use. If you join our community, you'll be able to access member-only sections, and use many member-only features such as customizing your profile, sending personal messages, and voting in polls. Registration is simple, fast, and completely free.


Join our community!


If you're already a member please log in to your account to access all of our features:

Username:   Password:
Add Reply
  • Pages:
  • 1
  • 18
*~ ROTK ~*; Chapter 1 :: The Yellow Turban Rebellion
Topic Started: Nov 26 2008, 07:31 AM (7,392 Views)
Claude_C_Kenni
Member Avatar
Gundam Meister
[ *  *  *  * ]
PROLOGUE

In the beginning, there was "darkness."
Then, the "darkness" shed a "tear."
From that "tear," the brothers Sword and Shield were born.
Shield claimed it could defend against any attack.
Sword claimed it could slice through anything.
The brothers began a legendary battle.
At the end, both Sword and Shield shattered.
Sword became the sky, Shield became the earth, and the sparks from the battle became the stars.
As for the jewels, they fell to the ground and became the True Runes--The runes that all other runes were born from.


---

Setelah 300 tahun berdiri, Dinasti Han kini mulai diambang kehancuran. Di ibukota Luo Yang, Kaisar Ling, kaisar pada masa itu, tidak memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Ia malah mempercayakan pemerintahannya kepada kaum sida-sida (kasim) istana. Bahkan diantara para kasim tersebut ada seorang yg bernama Zhang Rang yg diangkat oleh kaisar sebagai ayah angkatnya. Penyalahgunaan kekuasaan dan korupsi pun membuat negara semakin terpuruk.

Para pejabat istana yg masih setia terhadap kaisar, telah berkali2 memperingati kaisar, tetapi kaisar tidak mau mendengar mereka, bahkan banyak yg dihukum mati karena dianggap memberontak. Akibatnya, tidak ada yg berani menentang para kasim yg mengatasnamakan kaisar. Rakyat semakin sengsara, pemberontakan pun terjadi di mana2. Kehancuran hanya tinggal menunggu waktu saja.

Tahun 178 AD, di Yanzhou (Yanzhou -> Provinsi Yan. Yan -> Nama Zhou -> Provinsi), hiduplah 3 orang kakak beradik yg bernama Zhang Jiao, Zhang Bao, dan Zhang Liang. Zhang Jiao, yg tertua, adalah seorang terpelajar yg mendedikasikan hidupnya untuk mempelajari obat2an. Suatu hari, sewaktu Zhang Jiao sedang memetik tanaman obat di hutan, ia bertemu dengan seorang lelaki tua yg seluruh tubuhnya memancarkan cahaya terang. Lelaki itu membawa Zhang Jiao ke sebuah gua, dan di sana ia memberikan Zhang Jiao tiga jilid buku yg disebut "The Book of Heaven"

"Buku2 ini adalah jalan menuju kedamaian, The Way of Peace.
Apabila kau mempelajari ketiga buku ini, kau dapat mengubah dunia
dan menyelamatkan umat manusia" kata lelaki tua itu.
Zhang Jiao menangis gembira saat menerima ketiga buku itu, berkali2 ia bersujud dan mengucapkan terima kasih kepada lelaki tua itu. Melihat kesungguhan Zhang Jiao, lelaki tua itu pun memberikan sebuah bekal tambahan bagi Zhang Jiao. Dengan tongkatnya, lelaki tua itu menulis di atas telapak tangan Zhang Jiao dan sebuah simbol pun muncul.

"Ini adalah Beast Rune, salah satu diantara 54 True Rune yg ada di dunia ini. Dengan menggunakan rune ini dan mempelajari ketiga buku tersebut, kau dapat meminjam kekuatan langit dan bumi untuk menciptakan keajaiban. Semoga rune ini dapat membantumu untuk mewujudkan impianmu"

Setelah berkata demikian, lelaki tua itu menghilang dari hadapan
Zhang Jiao.

Siang dan malam, dengan tekun Zhang Jiao dan 2 orang adiknya mempelajari ketiga buku itu, dan dalam waktu singkat, mereka
sudah dapat memanggil angin dan hujan.

Di awal tahun 184 AD, terjadi wabah penyakit di Yanzhou. Zhang Jiao dan kedua adiknya membagi2kan kertas jimat yg ternyata sangat ampuh untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Ia pun dipuja2 rakyat sebagai penyelamat, dan mempunyai banyak pengikut. Zhang Jiao mengajari para muridnya untuk menciptakan keajaiban dan menggunakan sihir, dan menyuruh mereka untuk pergi menyebar ke berbagai daerah. Dalam waktu singkat, pengikut Zhang Jiao pun berjumlah puluhan ribu.

Dengan jumlah yg begitu besar, Zhang Jiao pun bersiap2 untuk memberontak. Ia mengangkat dirinya sebagai the Lord of Heaven, Zhang Bao sebagai the Lord of Earth, dan Zhang Liang sebagai the Lord of Human. Mereka menggunakan bendera dan kain kuning sebagai simbol, dan menamakan diri mereka, Pemberontak Kain Kuning, The
Yellow Turban.


Mereka juga menyebarkan selebaran ke seluruh penjuru yg isinya
"Surga telah mati, dan bumi memerintah. Mari berjalan di jalan kebenaran, dan kita wujudkan perdamaian bersama!" Akibatnya, di mana2 penduduk pun mengikat kepala mereka dengan kain kuning, dan bergabung dengan pasukan Zhang Jiao untuk memberontak. Kekuatan mereka saat itu kurang lebih setengah juta jiwa.
(Penjelasan : Surga -> Dinasti Han, Bumi -> rakyat, ngerti kan maksudnya? Dinasti Han telah hancur, dan kini saatnya rakyat yg mengambil alih tonggak pemerintahan)

Kaisar memerintahkan Panglima Besar He Jin untuk menumpas para pemberontak itu. He Jin pun menyebarkan pemberitahuan ke seluruh
provinsi untuk menyiapkan pasukan dan berperang melawan pemberontak. He Jin pun memerintahkan 3 orang jenderal kerajaan---Lu Zhi, Huangfu Song, dan Zhu Jun untuk pergi membawa pasukan dan menyerang para pemberontak dari 3 arah.

Sementara itu, setelah berhasil menguasai Yanzhou, Yuzhou, dan Xuzhou, Zhang Jiao memerintahkan pasukannya untuk menyerang Jizhou. Jizhou saat itu diperintah oleh Liu Yan, seorang gubernur yg setia pada Dinasti Han. Mendengar kabar bahwa pasukan pemberontak datang menyerang, Liu Yan menyebarkan pengumuman ke seluruh provinsi, meminta sukarelawan untuk datang dan bergabung dengan pasukannya...

This is where our story begins...

---

Mapnya, kalo mau lebih ada gambaran soal provinsi2
http://i303.photobucket.com/albums/nn153/keppi_kun/map2.gif
Ibukota kerajaan : Luo Yang
Ibukota pemberontak : Pu Yang
Start of our story : Ji (ibukota Jizhou, ga ada di map)
Posted Image

I am the bone of my sword.
Steel is my body, and fire is my blood.
I have created over a thousand blades.
Unaware of loss.
Nor aware of gain.
Withstood pain to create weapons,
Waiting for one's arrival.
I have no regrets,
This is the only path.
My whole life was,
UNLIMITED BLADE WORKS.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Claude_C_Kenni
Member Avatar
Gundam Meister
[ *  *  *  * ]
Siang ini, di kota Ji, tampak rakyat bergerombol di pusat kota,
membaca pengumuman yg ditempel oleh Liu Yan

Pasukan pemberontak akan datang menyerang. Rakyatku yg
pemberani, dinasti Han membutuhkan kalian. Bergabunglah dan mari
kita pertahankan kota ini bersama!

Itulah bunyi pengumuman tersebut

Setelah membaca pengumuman tersebut, timbul berbagai macam reaksi dari rakyat

"Pasukan pemberontak akan datang menyerang, habislah kita!"

"Aku dengar mereka berjumlah 50 ribu orang, kita tidak akan
sanggup bertahan"

"Jangan putus asa dulu, bapak2 sekalian. Kita masih punya jenderal Zhou Jing. Beliau pasti akan memimpin kita menuju kemenangan"

"Betul, lagipula kaisar pasti tidak akan tinggal diam. Mereka pasti akan mengirimkan pasukan istana untuk menumpas para pemberontak tersebut"

"Ta...tapi, kita kan hanya rakyat biasa, kita bisa apa?"

"Tuan gubernur selalu memperlakukan kita dengan baik, kita harus membalas budi baik beliau"

"Demi kota ini, demi istri dan anak kita, kita harus berjuang sampai titik darah penghabisan"


Sementara itu, seorang laki2 dari tadi memperhatikan keributan itu dari jauh. Ia menggunakan sebuah topi jerami untuk menutupi mukanya. Ia tersenyum, kemudian ia pergi menuju balai kota, tempat pendaftaran untuk bergabung menjadi prajurit.

Di balai kota, sudah ada puluhan pemuda yg mengantri untuk mendaftar. Mereka tampak antusias dan penuh semangat.
Lelaki itu tersenyum kepada prajurit yg menjaga meja pendaftaran, lalu ia masuk ke dalam balai kota melalui pintu belakang.

"Oh jendral Zhou Jing, bagaimana reaksi rakyat? Apakah banyak yg akan bergabung" tanya seorang laki2 yg sedang sibuk bekerja di balik mejanya.

Lelaki yg memakai topi jerami itu pun tersenyum, lalu sambil
membuka topinya, ia menjawab
"Yang mulia Liu Yan, rakyat menjawab panggilan kita. Perbekalan cukup untuk 1 bulan dan seribu set perlengkapan perang sudah siap. Setidaknya, walaupun pasukan pemberontak mengepung kita dengan kekuatan penuh, kita mungkin sanggup bertahan beberapa hari hingga bala bantuan tiba"

"Bagaimana dengan kurir yg kita kirim? Sanggupkah ia meyakinkan Ding Yuan untuk mengirimkan pasukan bantuan bagi kita?" tanya Liu Yan lagi

"Tadi malam ia sudah berangkat, Yang Mulia, seharusnya saat ini ia telah tiba di tempat Ding Yuan. Menurut perkiraan hamba, Jian Yong pasti mampu meyakinkan Ding Yuan untuk mengirimkan pasukannya ke sini. Mereka akan sampai dalam 2-3 hari ke depan." jawab Zhou Jing

"Kerja yg bagus Zhou Jing, kata2mu membuatku tidak terlalu cemas." kata Liu Yan kata sambil tersenyum

"Terima kasih Yang Mulia." kata Zhou Jing

"Sekarang kita hanya bisa berharap semua berjalan sesuai rencana, dan pasukan pemberontak tidak sampai lebih awal dari perkiraan." kata Liu Yan sambil termenung melihat ke luar jendela

---

SUMMARY
Character discovered
Zhou Jing
Liu Yan

Character mentioned (khusus SM, buat nandain NPC)
Ding Yuan
Jian Yong

Place discovered
Ji City
Balai kota

FIRST TASK
> Pergi ke kota Ji (buat yg starting pointnya bukan di Ji)
> Pergi ke balai kota dan daftarkan karaktermu untuk menjadi prajurit. DUA karakter pertama yg selesai mendaftar, akan mendapatkan BONUS dari SM.


Berhubung banyak NPC, sering2 cek Encyclopedia biar ga bingung, hehe
Posted Image

I am the bone of my sword.
Steel is my body, and fire is my blood.
I have created over a thousand blades.
Unaware of loss.
Nor aware of gain.
Withstood pain to create weapons,
Waiting for one's arrival.
I have no regrets,
This is the only path.
My whole life was,
UNLIMITED BLADE WORKS.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
dawnbringer
Member Avatar
Active Reader
[ *  * ]
Sementara itu di luar pos pendaftaran:
" Nomer 107... 107..."
Di tempat itu pula berdiri pria cukup tinggi memakai pakaian seadanya maju ke meja pendaftaran.
" Nama dan alasan alasan mendaftar"
" Ma Feng.. Keinginan pribadi"
" Pengalaman perang?"
"Pernah bertarung 1-2 kali"
"Baiklah, silahkan menuju ke belakang untuk pembagian divisi anda"

Ketika berjalan keluar menuju pintu belakang, tiba-tiba
DUK
Muncul pria gendut besar berada di depan Ma Feng, menghalangi jalannya..

"APA KAMU MAIN TABRAK SAJA!! MAU CARI GARA-GaRA APA?"

Ma Feng hanya terdiam dan menunduk.

"... gir"

"APA? APA KATAMU? TIDAK MENDENGARNYA?"

" minggir"

" HAH? APA? KAMU? SI CEKING INI? MENYURUHKU MINGGIR?"

" ...ind ...forth"

"KAMU BICARA APA? LAKI-LAKI BUKAN? BICARALAH YANG KERAS!!"

tiba-tiba hanya sekitar 1 detik saja, tangan kiri Ma Feng mengeluarkan cahaya kehijauan, dan tiba-tiba angin cukup kencang datang entah dari mana.
Setelah angin yang hanya sesaat itu hilang, tiba-tiba celana sang pria besar itu sobek dan terjatuh.

"AA!! APA YANG TERJADI? TOLONG!! MAMA!!!"

Pria besar itu lari terseok-seok keluar dari balai kota karena malu dan langsung menghilang ditelan tawa dari massa.

***

Tak jauh dari situ, terlihat Liu Yan memperhatikan kejadian tadi.
" Sepertinya kita mendapat prajurit-prajurit yang cukup menarik.."

___
SUMMARY
Character discovered
Ma Feng

Character mentioned
-

Place discovered
-
Posted Image
全てを破壊し、全てを繋げ,
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Claude_C_Kenni
Member Avatar
Gundam Meister
[ *  *  *  * ]
OOC1 : here, as promised

Di bagian belakang balai kota, Ma Feng berpapasan dengan jenderal Zhou Jing

"Hmm kemampuanmu tidak buruk anak muda, tapi lain kali berhati2lah dalam menggunakan runemu" kata Zhou Jing

Ma Feng hanya diam menanggapi perkataan Zhou Jing tersebut

"Here I want you to keep this" kata Zhou Jing kata Zhou Jing sambil memberikan selembar talisman berwarna merah kepada Ma Feng

"Apa ini?" tanya Ma Feng

"Fire arrows talisman. Gunakanlah dalam pertarungan apabila dirasa perlu" kata Zhou Jing

Setelah berkata demikian, Zhou Jing pun pergi

---

SUMMARY

Ma Feng got Fire Arrows Talisman
Talisman yg di dalamnya tersimpan magic fire arrows...hanya sekali pakai

OOC2 : Buat yg udah selesai daftar, silakan interaksi sama karakter laen
Posted Image

I am the bone of my sword.
Steel is my body, and fire is my blood.
I have created over a thousand blades.
Unaware of loss.
Nor aware of gain.
Withstood pain to create weapons,
Waiting for one's arrival.
I have no regrets,
This is the only path.
My whole life was,
UNLIMITED BLADE WORKS.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
terus01
Member Avatar
Active Reader
[ *  * ]
Hmm, so they started to attack at least that is the news in tha whole country...

So, which one is the right thing to do?
I guess, defending my country is not wrong...
That's what I thought yesterday...

"Ta DAAA!! Shang Lao ge ge, why are you dazzing off in the bright day??" Ling Hua surprised me.
"Ah, no. I'm only thinking..."
"What? what-what, ge..?"
"..." It is hard to tell her. But I have to.
" I will go to Ji town."
"Eh?" She does not know what it means, as she is doing is playing all the day.
"For what?"

... .... .....
I deeply breath, "I will join the war. We have to defend the country."
"....." she silent, trying to understand my word.
"WWHHHHHHAAAAAAAAT!!!!!!!!!!!!!!!!!"

Ugh, I should protect my ears knowing this would happen--but I did not T.T

After so many effort to calm her, and said that she cannot come with me, I go.
She leave behind with tears in her eyes and a long face. I am riding a carriage with two horse, along with me are two male servants.

I think she will obediently follow my words not to come, but.... well that's later story to be told.

After I arrive at Ji town, I search for a hotel, at least for this night.

I go to Balai Kota And registered there. At another counter I saw a young woman who wan to volunteer as well, but rather that, shouting that she has not find a husband yet. Seeing that, I want to laugh, but musn't. My heart tell me so. But, it is strange for her to become warrior, I said in my heart.

SUMMARY
Character Meet at Luo Yang:
Ling Hua

Left Character at Luo Yang:
Ling Hua

Town Left:
Luo Yang

Arrived at Town :
Ji Town
My Color is Black
I value darkness, violence, and disorder.
I love to protect Chaos.
My symbol is Heaven of Eternal Darkness.
At my worst, I am kind and warmth.
My enemy is white.


Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Rheille
Member Avatar
Active Writer
[ *  *  *  * ]
Rumah makan, 3 hari sebelumnya.

Semua meja dan kursi terisi penuh oleh para tamu yang sedang menikmati makan siang mereka dengan lahap. Sebagian besar membentuk kelompok dan menggosipkan isu-isu terbaru seputar kondisi pertanian dan perdagangan, tak terkecuali juga masalah pemerintahan yang hanya mereka dengar secara tak lengkap.

Dari arah dapur, seorang gadis keluar untuk menyapa tamu-tamunya tentang rasa makanan yang telah ia masak pada siang ini. Seperti biasa, ia juga bisa sekalian mendengar berita-berita yang masih hangat dibicarakan warga sekitar. Dihampirinya sebuah meja di mana para pedagang langganannya melahap makanan sembari mendiskusikan entah apa. Tetapi suasana ramai di antara mereka mengalahkan tamu-tamu lainnya.

"Tuan-tuan, apakah ada keluhan dengan pelayanan kami hari ini?" ia bertanya sopan, mencoba mencari celah tanpa menyela pembicaraan para lelaki paruh baya tersebut.

Salah seorang di antaranya, Tuan Kang si penjual kain, menengok ke arah Hua Ce Wei diikuti oleh rekan-rekannya yang lain. Seketika obrolan mereka terhenti selama sesaat, memberikan tempat bagi juru masak favorit mereka dalam diskusi rutin mereka di rumah makan.

"Lezat seperti biasa, selalu pas di lidah kami. Tenang saja, kau tak akan dipecat dalam waktu dekat, Ce Wei," canda Tuang Kang yang meledakkan tawa mereka semua.

"Ngomong-ngomong, kudengar gubernur Kota Ji, Gubernur Liu Yan, membuka pendaftaran prajurit baru untuk berperang melawan pasukan pemberontak," Tuan Qing, sang saudagar besar penjual emas, memberitahu Ce Wei.

"Mungkin kau dapat menguji kemampuan memotongmu di sana, Ce Wei. Tidak ingin mencoba membuat revolusi dengan menjadi prajurit wanita?" goda Tuan Rong yang membuahkan senyum lebar di wajah gadis muda di tengah mereka.

Sudah bukan rahasia kalau Hua Ce Wei, juru masak di rumah makan ini, terkadang suka membuat kehebohan dengan hal yang tak biasa. Contohnya, berlatih melempar pisau di gang kosong saat malam hari, membela pengemis yang mencuri kecapi kesayangannya sendiri, juga tak segan-segan memarahi tamu yang kurang ajar terhadap rekan kerja wanitanya.

"Aku akan mencoba tantangan anda, Tuan Rong. Anda berikan aku sekantong emas bila melihatku dalam daftar nama prajurit, bagaimana? Kita bertaruh?" tawar Ce Wei ringan, menantang satu-satunya penjual batu-batu berharga yang terkenal di kota ini.

"Baiklah, Ce Wei. Asal kau bisa kembali menemuiku untuk mengambil uang taruhanmu dalam keadaan sehat walafiat..."

Gadis itu mengukir senyum penuh keyakinan sebelum berjalan menuju salah satu sisi untuk mulai memainkan kecapinya sebagai hiburan bagi tamu-tamu.
----------------------------------------------------------------------------------------------------
Kota Ji, saat ini.

Petugas itu mendongakkan kepalanya untuk memastikan peserta berikutnya. Tubuh tinggi tegap, rambut panjang, dan... ditelitinya bagian bawah leher sosok di hadapannya. Demi Langit, ia wanita!

"Nona? Anda mendaftarkan suami anda?" tanya si petugas.

Ce Wei menghentikan sejenak kegiatan menulisnya, kemudian memandang tajam pada orang yang bertanya padanya barusan. "Kau buta, ya?! Aku masih semuda ini dan kau bilang aku bersuami?! Punya kekasih saja aku sudah bersyukur," bentak gadis itu pedas sebelum kembali menyapukan kuas pada kertas yang harus ia isi dengan data-data pribadi.

"M-maaf...," petugas itu hanya bisa tergagap memandang wanita cantik berkepribadian mengerikan yang berniat mendaftar menjadi seorang sukarelawan perang.
--------------------------------------------------------------------------------------------------
SUMMARY
Character discovered
Hua Ce Wei

Character mentioned
Tuan Kang, Tuang Qing, Tuan Rong (pedagang)

Place discovered
-(kampung halaman Ce Wei pokoknya nggak jauh2 dari Kota Ji ya. Saya bingung, soalnya ngga ada di map sih.)
http://lifenjoyer.blog27.fc2.com

Message me if you want to comment there but don't know how. Click on the clapping hands icon if you think the post on the blog is good to read.

Thanks for visiting.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Claude_C_Kenni
Member Avatar
Gundam Meister
[ *  *  *  * ]
Dalam perjalanan menuju balai kota, Shang Lao tidak sengaja menabrak seorang ibu2, sehingga keranjang berisi buah yg sedang dibawanya terjatuh dan buah2nya berserakan di jalanan

Shang Lao segera meminta maaf dan menolong ibu itu mengumpulkan kembali buah2annya
"Terima kasih anak muda, kau baik hati dan berbudi luhur. Ini, terimalah ini sebagai tanda terima kasihku"

Awalnya Shang Lao menolak, tetapi karena ibu itu memaksa, ia menerimanya juga. Sebuah talisman berwarna biru.

---

SUMMARY

Shang Lao got Breath of Ice Talisman
Talisman yg di dalamnya tersimpan magic breath of ice...hanya sekali pakai
Posted Image

I am the bone of my sword.
Steel is my body, and fire is my blood.
I have created over a thousand blades.
Unaware of loss.
Nor aware of gain.
Withstood pain to create weapons,
Waiting for one's arrival.
I have no regrets,
This is the only path.
My whole life was,
UNLIMITED BLADE WORKS.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
TheSpinel
Member Avatar
The Lost Time
[ *  *  *  * ]
OOC: Beware, long story..... i mean it, very long... Kalau mau singkat, langsung skip ke bagian plg bawah aja.
=======
Tch, panas sekali hari ini.

Begitulah pikir Zhi Ai. Lengkap sudah penderitaannya di pasar ini. Kalau mau dideskripsikan suasana pasar ini (dan dirinya) dalam dua kata, Pamer Paha sudah cukup untuk menjelaskan semuanya. Padat merayap, panas, haus. Bisa juga artinya padat merayap tanpa harapan.

Hei, sudah sejak pagi-pagi buta gadis ini berada di sini berjualan kue-kue buatan ibunya. Kalau saja para lelaki-lelaki kasar itu tidak mengusirnya dari tempatnya biasa berjualan, tentu sudah beberapa anak-anak atau ibu-ibu akan membeli kue-kue darinya.

Cukup, bukan waktumu mengeluh, Zhi Ai. Kau tahu kau harus bekerja demi ibu dan 7 orang adikmu itu... Pikirnya optimis. Dia lalu bangkit dari tempatnya sekarang dan kemudian berkeliling pasar. Dia hanya membawa sebuah keranjang, sebuah kantong uang, dan dua buah cakram kembar di pinggangnya. Beberapa anak mendekatinya dan membeli kue miliknya. Mereka tampak tertarik dengan cakram kembar milik Zhi Ai, namun dia hanya mengingatkan mereka untuk tidak memegangnya. Cakram itu adalah benda yang selalu digunakannya untuk melindungi diri sekaligus untuk menyerang copet dan konco-konconya sehingga dia dikenal sebagai "pelindung pasar". Seorang senior di sekolahnya dulu mengajarinya cara menggunakan cakram-cakram tersebut. Selebihnya dia belajar sendiri.

Tak terasa kaki Zhi Ai membawanya ke pusat kota. Dia melihat segerombolan orang-orang mengerumuni papan pengumuman. Semulai Zhi Ai tidak perduli dan dia pun meneruskan langkahnya sampai akhirnya dia mendengar seseorang berkata tentang perang dan pemberontak. Hal itu membuatnya berbalik dan mendekati orang-orang tersebut, kemudian dia memperhatikan pengumuman tersebut. Ukuran tubuhnya yang cukup tinggi, membuatnya agak mudah melihat pengumuman tersebut.

"...." Zhi Ai terdiam melihat pengumuman tersebut. Dia mendengar berbagai macam reaksi dari para orang di sekitarnya yang mayoritas laki-laki semua. Pemberontak menyerang kota? Tidak heran... batinnya sambil kemudian dia melangkah pergi untuk berjualan lagi kemudian pulang.

Selama perjalanan pulang, Zhi Ai mulai berpikir. Ikut membela kota? Cukup menarik. Aku tidak perlu lagi berjualan kue dan menjaga adik-adikku yang rusuh itu... batinnya, tetapi kemudian di sisi lain hatinya, dia bimbang. Tapi kalau aku pergi, siapa yang akan menjaga adik-adikku? Membantu ibuku? Tidak ada lelaki di keluargaku yang bisa diandalkan sekarang ini... Apa yang harus kulakukan? pikirnya lagi.

Kakinya terhenti di depan sebuah rumah yang agak kumuh, tapi terlihat bersih. Rumah itu tidak terlihat begitu besar dari luar, tetapi sesungguhnya dalamnya cukup luas. Zhi Ai melangkah masuk ke dalam. "Aku pulang," serunya begitu masuk ke dalam rumah.

"Jie jie!" seorang anak memanggilnya. Zhi Ai melihat ke arahnya dan kemudian dia menyadari bahwa anak itu adalah salah satu adik laki-lakinya, Zhe Wang. "Masih punya kue sisa tidak?" tanyanya lagi. Zhi Ai mengangkat alisnya dan kemudian melihat ke dalam keranjangnya. Yah, cukup banyak kuenya yang tersisa, ada 8 kue dalam keranjangnya. Dia lalu melihat ke arah Zhe Wang. "Memangnya kau mau apa dengan kue-kue ini?" tanyanya pada Zhe Wang. "Buat Xiao Ming dan Xiao Hua. Katanya makanan mereka direbut oleh anak tetangga," jawab Zhe Wang sambil menundukkan kepalanya. "Da Wang dan kawan-kawannya lagi? Biar kuurus mereka nanti..." kata Zhi Ai sambil mengambil dua buah kue dari dalam keranjangnya. "Bawalah ini. Aku akan berberes dulu," katanya pada Zhe Wang sambil tersenyum. "Baik!" serunya sambil berlalu, masuk ke bagian yang lebih dalam dari rumah tersebut.

Zhi Ai menghela nafasnya. Lingkungan ini buruk sekali... Apa yang akan terjadi dengan adik-adikku bila aku pergi? Siapa yang akan melindungi mereka? pikirnya lagi sambil meletakkan keranjang kuenya dan masuk ke bagian dalam rumahnya, menuju kamarnya untuk berberes dan beristirahat sejenak sebelum makan malam.

Saat makan malam, Zhi Ai beserta tujuh adiknya dan ibunya berkumpul dan duduk bersama di sekitar sebuah meja bundar. Di atasnya terhidang nasi, ikan, dan sayur seadanya. Bisa dibilang kurang untuk ukuran keluarga tersebut. Setelah mengucap syukur, mereka pun kemudian makan dengan tanpa suara, seperti tradisi keluarga itu turun temurun untuk tidak berbicara selagi makan, karena itu dianggap tidak sopan.

Setelah semuanya makan, mereka pun membereskan meja dan mencuci piring, semua dibagi tugas sesuai kemampuan masing-masing. Begitu juga dengan Zhi Ai.

Setelah semuanya selesai, anak-anak mulai berkumpul bersama, entah untuk bermain, berbicara, ataupun belajar. Zhi Ai dan ibunya tinggal di meja makan untuk menghitung hasil penjualannya hari ini.

Zhi Ai hanya menonton ibunya menghitung tumpukkan uang lusuh itu sambil berpikir mengenai gabungan militer tadi. Ibunya menyadari bahwa Zhi Ai nampak sedang berpikir. "Zhi Ai, apa kau sedang mempunyai masalah?" tanya ibunya lembut. Zhi Ai tampak terkejut dan kemudian menggelengkan kepalanya perlahan. "Tidak, mengapa bu?" tanyanya balik. Ibunya hanya tersenyum. "Ibu tahu kau sedang mempunyai masalah. Katakanlah," kata ibunya sambil meletakkan tumpukan uang dan melihat mata Zhi Ai. Zhi Ai kemudian menunduk. Dia tahu dia takkan bisa membohongi ibunya, apalagi jika dia sudah melihat mata Zhi Ai. Ibunya bahkan mungkin bisa membaca pikirannya.

"Anu... itu, bu. Ibu tahu kan bahwa pemberontak akan menyerang kota kita?" tanya Zhi Ai. "Ya, lalu?" jawab ibunya. "Pemerintah akan merekrut beberapa orang untuk bergabung dengan satuan pertahanan kota ini..." lanjut Zhi Ai. "Dan kamu ingin ikut?" sela ibunya sebelum dia selesai berkata. Zhi Ai kemudian melihat ke arah ibunya dan mengangguk dan kemudian melihat ke bawah. "Mengapa?" tanya ibunya tanpa ada nada marah sedikitpun. Zhi Ai lalu melihat ke arah ibunya.

"Tidak lazim bahwa wanita itu ikut berperang. Mereka hanya bisa melakukan pekerjaan rumah dan melayani suami. Namun Zhi Ai membenci pernyataan itu. Wanita bisa ikut berperang dan melawan. Mereka bukan makhluk yang lemah. Itu sebabnya Zhi Ai ingin mengikuti perang ini..." dia mengutarakan alasannya. Meskipun itu hanyalah satu dari alasan-alasan lainnya mengapa dia ingin pergi.

"Pergilah kalau kau mau," kata ibunya. Zhi Ai terkejut. Tidak mungkin ibunya bisa memberi keputusan secepat ini. Ada angin apa ini?

"Ibu tahu ibu takkan bisa menahanmu. Sejak awal kau memang tidak memilikki darah wanita lemah... Kau memang mirip dengan ayahmu..." kata ibunya sambil tersenyum. "Kau tidak perlu khawatirkan kami. Ibu masih memilikki Zhe Wang, Zhe Shin, dan yang lainnya. Kami masih bisa bertahan. Selama ini kami sudah membebanimu terlalu banyak," lanjut ibunya. "Lagipula kita bisa menghemat beras lebih banyak," canda ibunya. Zhi Ai hanya tersenyum tipis mendengar pernyataan tersebut. "Apakah ibu tidak meragukan kekuatanku?" tanya Zhi Ai. Ibunya menggeleng. "Ibu tahu kau sudah dikenal sebagai pelindung pasar. Kau selalu menolong orang yang kesusahan dan mengusir preman-preman yang selalu menggoda wanita. Ibu yakin, kau bisa menjadi seorang tentara yang baik. Lagipula... tidak ada orang lain yang bisa pergi di keluarga ini kecuali kau... Zhe Wang masih terlalu kecil untuk pergi..."

Zhi Ai tersenyum simpul mendengar pernyataan tersebut. "Istirahatlah sekarang. Kau sudah bekerja keras hari ini," kata ibunya sambil mengelus tangan Zhi Ai. "Kau tentu tidak mau melewatkan pendaftaran tersebut besok kan?" tanya ibunya sambil mengedipkan mata.

"I... iya..." jawab Zhi Ai sambil bangkit dan kemudian dia mencium tangan ibunya. Dia lalu kembali ke arah kamarnya sendiri. Di dalam, 3 adik perempuannya ternyata sudah tertidur lelap. Zhi Ai hanya tersenyum dan kemudian dia menyelimutkan ketiga adik perempuannya itu dan kemudian berbaring di tempat tidurnya sendiri. Matanya tak kunjung menutup. Dia masih berpikir tentang kata-kata ibunya dan keputusannya. Apakah aku memang benar-benar ingin pergi? pikirnya lagi.

"Jie... Jie Jie..." panggil sebuah suara. Zhi Ai menoleh, dia melihat adiknya Xiao Hong sedang melihatnya dari seberang tempat tidurnya. "Ada apa Xiao Hong?" tanya Zhi Ai sambil kemudian bangkit dari tempatnya, masih terduduk di tempat tidurnya.

"Jie jie mau pergi?" tanyanya. Zhi Ai tampak terkejut dan kemudian menghela nafasnya. "Tidak akan lama kok, Xiao Hong," jawabnya sambil kemudian dia bangkit dari tempatnya dan beranjak ke tempat adiknya, membelai rambutnya. "Serius? Berapa lama? Sehari? Seminggu? Sebulan? Setahun?" tanya adiknya bertubi-tubi. Zhi Ai hanya tersenyum simpul. "Tidak tahu... tapi pasti jie jie akan kembali..." jawab Zhi Ai masih sambil mengelus rambut adiknya.

"Benar?" tanya adiknya lagi.
"Benar. Janji," jawab Zhi Ai sambil tersenyum dan mencubit pipi adiknya itu. "Sekarang tidurlah, sudah cukup larut ini," katanya lagi sambil berdiri dan kembali ke tempatnya.
"Wan an... jie jie..." kata adiknya sambil menutup matanya. Zhi Ai tersenyum dan kemudian berusaha menutup matanya supaya bisa tidur. Pikirannya masih bekerja untuk beberapa saat, tetapi pada akhirnya dia tertidur dengan lelap juga.

Besok pagi-paginya, Zhi ai sudah terbangun dan bersiap-siap serta berberes. Adik-adiknya semua belum terbangun. Ibunya sudah sibuk di dapur membuat kue-kue untuk dijual meskipun dia masih belum tahu siapa yang akan menjual kue-kue itu.

Zhi Ai mengambil dua buah cakram kembarnya dan melihatnya. Kedua cakram itu sudah terlihat mengkilat. Pasti ibunya sudah mengasahnya meskipun Zhi Ai tidak memintanya. Ibunya memang orang paling baik di dunia. Zhi Ai pun mendekati ibunya.

"Ibu... Zhi Ai pergi dulu. Zhi Ai pasti akan kembali suatu saat...." katanya sambil memeluk tubuh ibunya. Tubuh ibunya kini jauh lebih kurus ketika Zhi Ai memeluknya dulu. Lebih ringkih dan rapuh. Rasa khawatir mulai timbul di hati Zhi Ai. "Zhi Ai akan kirim surat... kapanpun Zhi Ai bisa... supaya ibu.. dan Zhe Wang, Zhe Shin, Xiao Hong, Xiao Ming, Xiao Hua.. dan semuanya tidak khawatir," kata Zhi Ai sambil masih memeluk ibunya.

"Pergilah anakku... dan kembalilah... Kita akan selalu menunggumu..." jawab ibunya dengan suara sengau sambil memeluk Zhi Ai. Pastilah dia sedang menangis. Zhi Ai jadi tidak tega, tapi dia tidak bisa mengubah keputusannya.

Kling!

Sebuah suara lonceng terdengar dari belakang Zhi Ai. Dia menoleh ke belakang. Rupanya tujuh adiknya sudah terbangun semua. Di tangan Zhe Wang, adiknya yang pertama, ada tujuh buah lonceng perak. Dia lalu mendekati Zhi Ai dan memberikan rangkaian tujuh buah lonceng itu. "Untuk kak Zhi Ai... supaya kak Zhi Ai selalu ingat kami... dan supaya suara-suara kami bisa terdengar oleh kak Zhi Ai," katanya sambil tersenyum. Tidak ada tanda-tanda sedih di wajah mereka. Zhi Ai menghela nafas lega. "Terima kasih semuanya...." senyumnya sambil kemudian mengambil semua barangnya dan melangkah keluar rumahnya.

"Jie jie! Jangan lupakan kami!" seru Xiao Hong dari kejauhan. Zhi Ai tersenyum dan melambaikan tangannya sambil berjalan yang dibalas oleh lambaian adik-adiknya itu.

Setelah Zhi Ai tidak kelihatan lagi, mereka semua kemudian masuk ke dalam rumah. Ibunya menghela nafas dan duduk di sebuah kursi di dalam rumahnya. "Lihatlah putrimu, Long Guang. Dia menempuh jalan yang sama sepertimu. Untuk maju dan membela tempat ini... Lindungilah dia agar dia tidak meninggalkan kami semua..." gumam ibunya sambil melihat ke langit di luar jendela yang mulai membiru.

....
Sementara Zhi Ai berjalan. Pikirannnya masih berkecamuk, namun dia berusaha menguatkan dirinya dan meyakinkan dirinya bahwa jalan yang diambilnya tidak salah. Kakinya terhenti di balai kota yang sudah cukup ramai oleh orang-orang yang mau mendaftar. Tidak disangka juga reaksi masyarakat bisa mendapatkan banyak calon prajurit seperti ini. Zhi Ai pun akhirnya mengantri di sana. Beberapa orang nampak memandanginya. Mereka sepertinya sudah tidak heran gadis pelindung pasar ini akan bergabung dalam menjadi calon prajurit. Beberapa orang hanya berdecak-decak sambil menggelengkan kepala mereka. Zhi Ai hanya melihat ke arah mereka sebentar, lalu dia kembali berfokus pada apa yang akan dihadapinya.

"Berikutnya," panggil si petugas pendaftaran. Zhi Ai pun maju dan kemudian menuliskan data dirinya tanpa ditanyai apapun oleh si petugas. Entah dia sudah yakin akan kemampuannya atau tidak peduli.

"Selesai.... sekarang aku harus apa?" tanyanya pada petugas.
=====
SUMMARY
Character discovered
Zhi Ai
Zhi Ai's whole family

Character mentioned
Long Guang (ayah Zhi Ai, telah gugur di medan perang)

Place discovered
Pasar
Zhi Ai's home.
I am the bone of my Desu.
Ceramic is my body and Desu is my blood.
I have spammed over one thousand sites.
Unknown to Mods, nor known to janitors.
Have withstood bans to create more replies Desu.
Yet those hands will never hold anything.
So I pray, "Unlimited Desu Work" - Desu

Joe's PokePet
Posted Image Posted Image
Stella the level 44 Staraptor!


My deviantart, joe021093
Terima segala jenis komentar...
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
achernar
Member Avatar
Writer
[ *  *  * ]
Apa yang sebaiknya pemuda berusia 22 tahun ini lakukan? Setelah perjalanan jauhnya yang terakhir, dia sekarang sama sekali sudah tidak memiliki uang lagi. Mencari pekerjaan mungkin ide yang bagus, tapi apa? Pekerjaan apa yang cocok untuk seseorang sepertinya, seorang murid penyihir yang sebenarnya belum mendapatkan 徒elulusannya" dan belum mendapat restu dari gurunya untuk pergi. Bing memang sengaja melarikan diri dari padepokan milik gurunya sekitar 3 tahun yang lalu.

Bing berjalan menyusuri jalanan kota Ji yang cukup ramai dilalui oleh para pedagang dan pembeli yang berlalu lalang. Ah, apakah sekarang dia berada di pasar? Sepertinya begitu karena banyak sekali disana terdapat tempat-tempat yang menjual berbagai macam barang mulai dari yang umum hingga yang unik. Namun satu ada tempat yang membuatnya dia tidak bisa mengalihkan perhatiannya. Tempat itu adalah rumah makan.

Sepertinya perjalanan yang cukup jauh telah membuat Bing kelaparan tentu saja, Bing berjalan hampir seharian ini tanpa diisi makanan apapun dari pagi. Makanan terakhir yang dia makan adalah sepotong bakpau yang diberikan oleh seorang perempuan tua yang dia tolong membawakan bawaannya kemarin sore. Jadi sudah hampir 24 jam perutnya belum diisi apapun, beruntung Bing memiliki fisik yang kuat.

銑upakan tentang makanan terlebih dahulu, Bing, pikirnya. Sekarang yang harus dia lakukan adalah mencari pekerjaan di kota ini, setidaknya hingga dia mendapat dan menabung cukup banyak uang untuk melakukan perjalanan barunya yang lain. Well, satu-satunya keahlian yang dia miliki dan mungkin dapat berguna bagi masyarakat disini adalah meramu obat. Selain ilmu sihir, Bing juga mempelajari banyak hal tentang bagaimana cara meramu obat dari gurunya yang ternyata juga seorang tabib.

Dimanakah letak toko obat yang dimaksud kalau begitu dan semoga saja tabib disana membutuhkan keahlian Bing dalam meramu obat. Entah apa jadinya jika dia sampai tidak mendapatkan pekerjaan malam ini.

Bing mencoba bertanya pada penduduk setempat. Dari informasi yang mereka berikan, sepertinya hanya ada satu toko obat di kota ini, dan itu artinya dia tidak akan tahu lagi harus berbuat apa seandainya pemilik toko itu tidak mau mempekerjakannya. Benar kan? Kemana lagi Bing harus melamar jika toko obat yang dimiliki kota ini hanya satu sedangkan satu-satunya keahlian yang dia miliki hanya sesuatu yang berhubungan dengan toko obat? Bing hanya bisa berharap semoga saja nasib baik berpihak padanya.

Tidak butuh waktu yang lama untuk tida di toko obat yang dimaksud oleh penduduk desa tersebut. Toko itu cukup besar dan sepertinya bisnis mereka cukup lancer tentu saja, mereka memonopoli seluruh obat-obatan yang ada di kota ini.

Ah, tidak perlu dipikirkan, lebih baik Bing segera masuk dan mencari tahu peruntungannya.

鉄elamat datang, mencari obat apa?

Seorang lelaki tua yang terlihat sedang membereskan kotak-kotak kecil berisi obat-obatan saat Bing melangkah masuk ke toko tersebut menyapanya.

摘rrr

添a?

鄭ku datang bukan untuk mencari obat, tetapi aku mencari pekerjaan, jelas Bing sedikit ragu pada lelaki tua itu. Dia mungkin sedikit lancang karena telah datang dan meminta sebuah pekerjaan tanpa berbasa-basi terlebih dahulu, tatapi sungguh dia sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa.

Lelaki tua itu terdiam. Yang dia lakukan hanyalah mengamati Bing dari ujung kaki hingga ujung kepala. Lelaki itu sepertinya sedang menilai apakah Bing adalah orang yang cocok untuk memberikannya sebuah pekerjaan setidaknya itulah yang ada di pikiran Bing saat ini, berpikir optimis.

適ami tidak membuka lowongan pekerjaan, kamu tahu itu bukan? jawab lelaki tua itu sekaligus meluluh lantahkan satu-satunya harapan Bing.

Tertunduk lesu, Bing hanya bisa pasrah. Satu-satunya cara yang bisa dia lakukan mungkin hanyalah berusaha untuk memohon pekerjaan tersebut sekali lagi.

典olonglah aku memiliki pengalaman

適amu terlalu muda untuk bekerja disini, anak muda, potong lelaki tua itu.

摘h? Bing bingung. Entah apa maksudnya dengan perkataan lelaki tua itu barusan. Apakah sekarang umur menjadi kriteria utama dalam meramu obat-obatan? Setahu dia tidak, selama ada yang memberinya petunjuk, pasti tidak akan ada masalah.

Lelaki tua itu menghela nafas panjang. Sebelum akhirnya mulai melanjutkan perkataannya.

典idakkah kamu tahu kalau sekarang kita akan segera berperang? Negara mencari anak muda sepertimu untuk menjadi prajurit. Sebaiknya kamu memanggil panggilan tersebut dan bukannya datang kemari, anak muda.

Lelaki tua itu kemudian kembali ke kesibukkannya kembali seperti ketika sebelum Bing datang ke toko obat tersebut. Lalu kata-kata terakhir yang keluar dari mulut lelaki tua itu menunjukkan bahwa dia sudah tidak ingin berdiskusi menganai hal ini lagi.

撤ergilah!

Bing melangkahkan kakinya menuju pintu toko obat tersebut kembali ke jalanan yang ramai oleh orang-orang yang berlalu lalang. Dia memikirkan apa yang barusan dikatakan oleh lelaki tua pemilik toko obat yang barusan sempat berbicara cukup panjang lebar dengannya. Namun satu hal yang pasti, harapan Bing yang saat ini hanya berniat untuk mendapatkan cukup makanan malam ini masih terbuka dan tidak luluh seperti yang dikiranya sebelumnya. Bing harus segera mendaftarkan diri menjadi prajurit, walau mungkin dia melakukan hal tersebut karena terpaksa sebab tidak ada pilihan lain yang bisa dia lakukan.

Dengan masih memiliki sedikit keraguan di hatinya, Bing melangkah pergi meninggalkan toko obat itu. Ternyata, untuk hidup dia harus mempertaruhkan nyawanya mungkin itulah yang hendak Bing lakukan saat ini.


SUMMARY
Character discovered
Bing Xiong

Character mentioned
Lelaki tua pemilik toko obat (pedagang)

Place discovered


OOC: Well, sepertinya di prologue ini saya belum memberikan impact tentang karakter Bing Xiong ya? Akan saya coba kembangkan seiring berjalannya RP. Salut sama Spinel yang bisa cerita tentang latar belakang keluarga karakter miliknya Untuk yang lain terutama yang belum kenal sama saya, mohon kerja samanya ya ^^

Itu anggap Bing Xiong langsung pergi mendaftarkan diri menjadi prajurit dan diterima walau ceritanya gak sampai situ ya :3
Mau bergabung dengan komunitas Role Player bertemakan Harry Potter? Mencoba memerankan tokoh sebagai seorang murid Sekolah Sihir Hogwarts?

Posted Image
Registrasi term selanjutnya pada tanggal 18 Januari 2009, don't miss it!
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Claude_C_Kenni
Member Avatar
Gundam Meister
[ *  *  *  * ]
Para calon prajurit yg telah dibagi sesuai divisi, dipandu oleh beberapa prajurit menuju camp tentara
Camp itu letaknya di dekat balai kota, berupa tenda-tenda dengan berbagai fungsi

Pertama mereka semua dipandu oleh petugas menuju armory untuk menerima satu set perlengkapan perang yg terdiri dari baju zirah, pelindung bahu, tangan, dan kaki, dan sebilah pedang. Namun walaupun begitu, mereka diperbolehkan menggunakan senjata milik mereka pribadi. Bahkan blacksmith bersedia menempa/memperbaiki senjata bagi mereka yg menginginkan.

Karena hari itu pendaftaran masih berlangsung hingga malam hari, para calon prajurit dibebaskan hingga waktu makan malam.

---

NEXT TASK
Buat yg udah selesai registrasi, feel free untuk saling interaksi, lokasinya di camp
Camp terletak di
Di camp ada apa aja?
- sleeping tent (cowo n cewe dipisah, of course)
- training tent
- dining tent (tenda makan)
- stable (buat yg mau belajar naik kuda)
- armory (gudang senjata)
- blacksmith (buat yg ingin memperbaiki senjata/armornya)
- hospital (buat yg sakit atau luka2)


OOC : buat yg belom beres registrasi, santai aja, gua juga masih nungguin mereka yg masih mau daftar sampe besok malem
Posted Image

I am the bone of my sword.
Steel is my body, and fire is my blood.
I have created over a thousand blades.
Unaware of loss.
Nor aware of gain.
Withstood pain to create weapons,
Waiting for one's arrival.
I have no regrets,
This is the only path.
My whole life was,
UNLIMITED BLADE WORKS.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
TheSpinel
Member Avatar
The Lost Time
[ *  *  *  * ]
Sesampainya di Camp tentara, hal pertama yang dilakukan Zhi Ai adalah berkeliling, observasi singkat. Di sana banyak orang-orang sedang duduk bicara ataupun sedang melihat-lihat juga sepertinya. Beberapa di antara mereka tampak tegang, sedang yang lainnya tampak santai. Mungkin mereka sudah terbiasa dengan pertarungan ataupun tidak takut mati ataupun tidak tahu bahaya. Hm, bukan urusan Zhi Ai sekarang...

Zhi Ai melangkahkan kakinya ke arah sebuah tenda kosong. Dia melongok ke dalam dan tidak menemukan seorang pun. Dia kemudian melepas semua perkakasnya dan melemparkan barang yang tadi diberikan berupa baju zirah, pelindung bahu, tangan, dan kaki, dan sebilah pedang ke dalam. Yang tersisa daripadanya hanyalah kantong uangnya dan cakram kembarnya yang ditentengnya serta tujuh buah lonceng pemberian adik-adiknya.

Kakinya kini melangkah meninggalkan tendanya. Dia berkeliling lagi, mencari-cari kalaupun ada seorang wanita. Sejauh mata memandang, semuanya laki-laki. Tidak heran kalau mereka semua memandangi Zhi Ai. Dia hanya bisa memberikan mereka death glare sebatas perlindungan diri. Tapi well, dia butuh "teman", di medan perang sekalipun.

Kakinya terhenti di training camp. Dia melihat ke sana. Beberapa pria nampak sedang berlatih kemampuan mereka. Mereka melirik Zhi Ai dan menggodanya, namun dia tidak peduli. Ketika mereka semakin berisik, Zhi Ai akhirnya mengambil kedua cakram kembarnya dan bersiap-siap untuk bertarung.

"Jangan macam-macam denganku... Kalau mau selamat..."
=======
Summary:
Zhi Ai diganggu pria2 asing di camp training dan kemudian menantang mereka.

OOC: open to all, boleh bantu Zhi Ai, melerai, atau bantu laki2, kalau ada opsi laen yang lebih kreatuf, silakan XD
I am the bone of my Desu.
Ceramic is my body and Desu is my blood.
I have spammed over one thousand sites.
Unknown to Mods, nor known to janitors.
Have withstood bans to create more replies Desu.
Yet those hands will never hold anything.
So I pray, "Unlimited Desu Work" - Desu

Joe's PokePet
Posted Image Posted Image
Stella the level 44 Staraptor!


My deviantart, joe021093
Terima segala jenis komentar...
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
terus01
Member Avatar
Active Reader
[ *  * ]
Shang Lao merasa bosan.
Dia masuk ke training camp dan segera berlatih.
Namun nampaknya metode latihan sendiri tidak terlalu berbuah hasil... Ditambah dengan minimnya fasilitas dan padatnya orang di training camp.
Kelihatannya aku perlu memikirkan training yang lebih efektif...
Namun terus berlatih.

Dia menghentikan latihannya, setelah hampir sore.
Dan duduk di salah satu sudut.
Sesuatu menarik perhatiannya.
A Girl?
Terlihat sedang diganggu oleh beberapa pria.
Tak perlu pikir panjang lagi,
Segera berdiri dan menghampiri gerombolan tersebut.
Lalu berkata, "Ya, akan sangat menyenangkan apabila nona mau bermain bersama kami."

Para pria itu tertawa, dan semakin jahil.

Ketika Shan Lao sudah cukup dekat dengan mereka, Shang Lao segera menarik satu pedangnya dan menonjok salah satu dari mereka. Roboh.

"Hei, apa yang kau lakukan?!"

"Huh, menolongnya, tentu saja." Kata Shang Lao sambil tersenyum simple.

"A-Apa?!"

Pertarungan pun dimulai. Mereka mulai mengeluarkan senjata
Salah satu dari mereka menyerang, namun Shang Lao dengan mudah mematahkan serangan tersebut.
Yang lain ikut menyerang, namun tak ada yang mengimbanginya.

Setelah selang berapa lama, "Huh, hanya segitu kekuatan kalian? Membosankan..."

Tentu saja, mereka kabur.

Masih dengan pedang di tangan, Shang Lao bertanya:
"Are You Ok?"
"Maafkan perkataanku tadi ^^, aku tidak benar-benar bermaksud seperti itu. Hahaha"

SUMMARY

Shang Lao meet Zhi Ai
My Color is Black
I value darkness, violence, and disorder.
I love to protect Chaos.
My symbol is Heaven of Eternal Darkness.
At my worst, I am kind and warmth.
My enemy is white.


Offline Profile Quote Post Goto Top
 
dawnbringer
Member Avatar
Active Reader
[ *  * ]
Setelah bertemu Zhou Jing, Ma Feng sendiri kebingungan. Dari mana Zhou Jing tahu dia menggunakan Rune? Karena di tempat asal Ma Feng sendiri hanya beberapa orang terpilih yang mampu menggunakannya.
"Sudahlah.." pikirnya.

Ia pun berjalan-jalan melihat-lihat camp yang ada. Ma Feng pun melihat betapa penuhnya camp-camp tersebut sehingga tidak tertarik menggunakan fasilitas-fasilitas yang disediakan itu. Ia pun memutuskan untuk pergi ke sudut camp di mana tempatnya sepi dan diapun duduk bersila, melakukan rutinitas yang setiap hari dilakukannya.
Ke-lima indra yang dia milikki ia coba tajamkan. Matanya terpejam, namun ia dapat merasakan keadaan sekitar, hidungnya dapat mencium wewangian masakan dari ujung lain camp, angin yang berhembus mengelus tubuhnya, dan pendengarannya menguat.
Tiba-tiba dari pendengarannya yang kuat itu, Ma Feng mendengar teriakan wanita.

Wanita? Ini camp perang. Masa orang-orang ini bahkan kekurangan orang hingga harus menyuruh wanita untuk berperang?

Ma Feng pun langsung berlari menuju ke arah teruakan tersebut. Dari kejauhan terlihat sesosok pria mengacungkan pedangnya, dan di dekatnya terlihat sang wanita siap dengan cakramnya.

Tanpa pikir panjang, Ma Feng pun langsung menyerang sang pria terebut.

Namun Shang Lao, yang sesaat menurunkan penjagaannya langsung menaikan kembali pertahanannya, dan langsung menangkis serangan Ma Feng.

" Hei, apa maumu!"

"Menyerang wanita! Memasukannya ke camp perang! Ternyata kalian memang menyedihkan" balas Ma Feng

"Tapi.. "

Sebelum Shang Lao sempat membalas, serangan demi serangan diberikan oleh Ma Feng. Shang Lao yang awalnya merasa bosan dan muncul 1 orang lagi yang sok jagoan tiba-tiba merasa permainan orang asing yang baru ini dapat mengimbanginya.
Ketika keduanya bertarung tiba-tiba..

" HENTIKAN!"

Ma Feng langsung berhenti mendengar teriakan dari sang wanita ini dan meloncat menjauh mengambil jarak.

"Hentikan, dia yang tadi membantuku menangani pria-pria bebal di camp ini!"
Ma Feng pun mengangguk sekali, dan langsung memasukan pedangnya..

"Hai teman, mengapa tiba-tiba kau berhenti?" kata Shang Lao. "Padahal akhirnya aku mendapat teman bermain pedang di sini"

"Perkataan wanita adalah yang benar. Kalau memang itu yang terjadi maka biarlah saya meminta maaf" jawab Ma Feng.

" Ya, baiklah. Kalau begitu, mari kita ulang perkelanan diri yang sempat terhambat oleh pertarungan tadi. Salam Kenal, aku Shang Lao"
" Terima kasih telah membantuku, namaku Zhi Ai. Anda?"
" Ma Feng.."

Begitulah, ketiga tokoh ini akhirnya bertemu..

***
summary:
Shang Lao dan Ma Feng bertarung
Shang Lao, Zhi Ai, dan Ma Feng bertemu dan berteman.


occ: Maaf kalau salah penggunaan sifat-sifat dari karakternya ya.. baru belajar
XD

Anw, silahkan dilanjutkan, pokoknya karakter Ma Feng cukup kaku dan hanya berbicara hal-hal yang perlu saja, kecuali pada wanita ^^" ^^;
Posted Image
全てを破壊し、全てを繋げ,
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Rheille
Member Avatar
Active Writer
[ *  *  *  * ]
Setelah sedikit pengarahan di dekat balai kota, para calon prajurit diberikan berbagai peralatan berat yang terdiri dari baju zirah, pelindung bahu, tangan, dan kaki, dan sebilah pedang. Ugh, semua itu barang-barang yang berat, tentu saja, tetapi tidak lebih berat daripada panci ukuran ekstra besar yang biasa Ce Wei pakai untuk memasak daging babi bumbu merah mau pun mapo tahu khas Si Chuan di tempat kerjanya yang dulu. Gadis muda itu lebih memilih untuk menitipkan equipmentnya di samping sebuah tenda asing sebentar. Itu lebih baik daripada ia harus berjalan-jalan dengan berbagai beban yang menghambat langkahnya. Lagipula sederet pisau pendek yang tergantung di pinggangnya sudah lebih dari cukup untuk melindungi diri. Pasti.

Saat berjalan-jalan, ia memanfaatkan segala hal yang bisa ia manfaatkan sedapat mungkin. Apalagi bila gratis! Contohnya saja, pandai besi berbadan besar yang kini sedang mengasah batang-batang pisau lemparnya tanpa mengeluh sama sekali, hanya menyepuh bilah-bilah tajam senjata milik seorang gadis manis tanpa gerutu sedikit pun. Sesekali mereka bertukar kata dan kalimat, tapi tidak banyak. Pada akhirnya, Ce Wei hanya mengungkapkan rasa terima kasihnya pada sang pandai besi dengan seulas senyum manis. Setidaknya itu sudah lebih dari cukup daripada hanya sekedar membayarkan uang seperti bangsawan kaya yang tak tahu terima kasih. Selama tidak dibutuhkan, Ce Wei tak akan mengeluarkan uang sepeser pun. Biarkan senyum ikhlasnya saja yang membayar menggantikan kepingan emas.

Mendafatar, sudah. Mengasah senjata, juga sudah. Kini ia bingung harus melakukan apa. Hari sudah cukup malam, tetapi sama sekali belum ada pengumuman lebih lanjut lagi dari para petugas pendaftaran. Apakah petugas yang ia bentak tadi sebegitu sebal sampai-sampai tidak memberitahu Ce Wei mengenai jadwal lengkap para calon prajurit? Tidak, tidak. Lihat saja peserta yang lain, masih duduk-duduk santai sambil mengobrol di tenda-tenda berbau sedap... Ah! Wangi masakan! Kebetulan sekali perutnya sudah berteriak lapar. Ia juga sudah rindu memegang panci dan penggorengan, memotong sayur dan daging, mencampur bumbu-bumbu...

"Jangan macam-macam denganku... Kalau mau selamat..."

Sebelum sempat berlari masuk ke tenda beraroma lezat tadi, Ce Wei mendengar suara merdu khas seorang wanita di dekatnya. Hanya saja, suara wanita ini bergetar, entah oleh karena rasa takut atau cuma perasaan Ce Wei saja. Setelah itu, semuanya terjadi bagai badai; cepat datang, cepat berlalu. Seorang pemuda datang dan menghajar pria-pria bermuka mesum yang tengah mengelilingi wanita tadi. Seorang lagi menyusul dan ikut berperan serta dalam pertandingan dadakan ini. Satu kesamaan di antara para pria ini: TIDAK WARAS. Satu lagi, tak ada satu pun di antara mereka yang berpenampilan meyakinkan.

Cepat-cepat Ce Wei menarik gadis kedua di tempat ini--selain dirinya--mendekat padanya. Ia melemparkan pandangan tajam pada dua orang yang telah menjadi pahlawan hari ini. Cih, hanya tipe 'senggol-bacok' yang suka asal menghajar orang lain tanpa melihat masalah, eh? Katakan ia sinis, katakan ia sok, terserah saja. Toh, tetap saja tak ada manusia berjenis kelamin laki-laki yang baik di matanya, kecuali para pelanggan dan rekan-rekannya di rumah makan. Mereka berbeda, mereka sudah seperti keluarga bagi Ce Wei. Tapi ini? Ugh.

"Nona? Kau mengantar bekal untuk suamimu atau kau ikut bernasib sama denganku--ikut mendaftar sebagai prajurit karena bosan dengan kehidupan lamamu?" tanya Ce Wei pada gadis asing di hadapannya, tak peduli apakah ia menyela pembicaraannya dengan kedua pria tadi atau tidak. Baiklah, ia hampir merasa bersalah pada petugas yang ia bentak tadi. Ia kini mengerti, melihat seorang wanita di tengah calon prajurit perang memang aneh. Lain kali ia akan meminta maaf pada petugas tersebut.

Tanpa menunggu jawaban, juga tanpa mengacuhkan dua orang lain di dekat mereka berdua, Ce Wei melanjutkan bicaranya, "Apa pun tujuanmu datang ke sini, Nona, mau temani aku makan malam? Hmmm, aku sedang ingin memasak tahu dengan bumbu 'la'. Semoga saja mereka menyediakan bahan-bahannya di dapur tenda." Kemudian ia melirik pada dua orang dengan pandangan sinis. Siapa lagi kalau bukan... sepasang pria aneh di hadapannya. "Tuan-tuan? Kalian mau makan malam?"
http://lifenjoyer.blog27.fc2.com

Message me if you want to comment there but don't know how. Click on the clapping hands icon if you think the post on the blog is good to read.

Thanks for visiting.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
terus01
Member Avatar
Active Reader
[ *  * ]
"..."
Tidak terlalu lapar, tapi makan selagi bisa adalah suatu berkah saat ini.
"Baiklah.", Kata Shang Lao.

Sembari menuju tempat makan, kedua gadis itu melanjutkan percakapan diantara keduanya, terlihat menghindari kami dan mengacuhkan Ma Feng yang mencoba menarik perhatian mereka.

Sementara Shang Lao memikirkan match yang belum selesai tadi.
"Bagaimana jika kapan-kapan kita bertanding kembali, Ma Feng?"
"Nice to have a match with you ^^"

"Baiklah" Ma Feng said.

Sampai di tempat makan, kami mengambil nasi seadanya dan sayur yang dibagikan seadanya.

My Color is Black
I value darkness, violence, and disorder.
I love to protect Chaos.
My symbol is Heaven of Eternal Darkness.
At my worst, I am kind and warmth.
My enemy is white.


Offline Profile Quote Post Goto Top
 
tyrannical-jester
Member Avatar
Reader
[ * ]
Enlai menambatkan kudanya di depan sebuah pohon di sebuah kedai kecil di pertengahan perjalanannya menuju kota Ji. Ia melangkah ke seorang pria kurus dengan kain lap tersangkut di bahunya.

“Kearah mana kota Ji?” tanya Enlai tanpa basa basi. Pria itu memandang Enlai dengan seksama sejenak.

“Anda mau mendaftar untuk masuk militer ya, Tuan?” ia balik bertanya pada Enlai.

“Bukan urusanmu. Cepat beritahu kemana arah kota Ji,” Enlai menjawab dingin.

Pria itu terhenyak lalu menjawab, “E-eh, kalau anda berangkat sekarang terus kearah Utara maka anda akan sampai disana sebelum fajar.”

Enlai menoleh kearah Utara lalu menengadah ke langit.

“Isi penuh bambu ini dengan air dan bungkuskan 3 bakpau daging. Apa uang ini cukup?” perintah Enlai sambil menyodorkan beberapa koin uang dan tempat air yang terbuat dari bambu pada si pria kurus.

“Ah, ya tentu saja. Tunggu sebentar, Tuan,” pria kurus ia mengambil bambu dan uang itu lalu buru – buru masuk ke kedainya untuk mengambilkan apa yang diminta Enlai.
-------------------------------------------------------------------
Ketika Enlai tiba di kota Ji ia langsung bergegas ke balai kota. Saat ia tiba hanya sedikit orang yang masih tersisa di sana. Mengikuti prosedur ia pun antri di belakang seorang pria.

“Enlai!” panggil salah satu petugas.

Enlai pun berjalan mendekati petugas itu. “Berdiri disini,” kata petugas itu lalu mulai mengukur ukuran tubuhnya. Ketika ia selesai dengan tugas itu dia pun menyuruh Enlai untuk masuk ke sebuah ruangan untuk wawancara.
Di ruangan yang dimasuki Enlai, seorang wanita duduk dengan pandangan tegas.

“Siapa namamu?” tanyanya pada Enlai.

“Enlai.”

“Punya latar belakang beladiri?” ia bertanya lagi.

“7 tahun ini aktif mengikuti kompetisi bela diri di berbagai tempat jika itu yang kau maksud,” jawabnya.

“Kalau begitu kemarilah,” perintah wanita itu.

Enlai berjalan perlahan tanpa ragu mendekati wanita itu. Tiba – tiba saja “WHUUUSHH!!” wanita itu mengarahkan tinjunya dari arah samping tepat ke sisi wajah bagian kiri Enlai. Tapi sebelum tangan wanita itu berhasil menyentuh kulitnya ia keburu bergerak cepat menghindar ke belakang sebelum akhirnya meraih lengan wanita itu dan memelintirnya ke belakang tubuhnya sendiri.

“URGH!!” wanita itu merintih. “K-kau hebat juga,” katanya sambil menoleh ke belakang kearah Enlai yang masih menahan tangannya.

Tanpa banyak bicara Enlai melepaskan tangan wanita itu. “Kau diterima. Sekarang ikutilah pria itu, dia akan membawamu ke kamp,” wanita itu memberi petunjuk.

Enlai melirik wanita itu sejenak, “Kau butuh banyak latihan untuk melatih kecepatanmu yang payah itu,” ucapnya dingin lalu bergegas pergi.

“Eh?” wanita itu melongo. “EEEEEEEEHH??!!!!”
-------------------------------------------------------------------
Enlai masuk ke dalam kamp yang ditunjukkan si petugas tapi aura tidak mengenakkan dari sebuah meja membuatnya menoleh dan memasang matanya agak lama. Tapi kemudian ia mendengus dan berjalan menuju masakan terhidang.

Yup, perutnya lapar karena selama perjalanan ke kota Ji ini dia hanya makan 3 bakpau daging. Dan makanan yang hanya berupa sayur dan lauk pauk seadanya sudah cukup untuk membuatnya bergerak mendekat.

Ia mengambil sebanyak apa yang dia perlukan. Tidak lebih dan tidak kurang. Ketika ia mengerjakan hal itu ia tahu beberapa orang tengah memperhatikan gerak geriknya.

Dan ketika dia berbalik seorang wanita tengah berdiri dengan wajah tak suka.
Enlai memandangnya sejenak sebelum berjalan meninggalkannya.

“HEI!!! TUNGGU!!!” seru wanita itu sambil berjalan kearah Enlai.

“Ada apa?” tanya Enlai singkat.

“Kau mengambil jatah makan untuk dua orang kau tahu?! Ini kamp militer bukan restoran!” ia marah.

Enlai menoleh ke baki yang di pegangnya. “Ini jatah untuk satu orang,” jawabnya dingin.

“Itu kan bagimu!!! Sekarang cepat kembalikan kelebihannya!!” perintah wanita itu.

“Memangnya siapa kau?” Enlai mulai kesal.

“Hua Ce Wei! Aku salah satu prajurit disini!” ia berkata tegas.

“Hmmph…kalau begitu tutup mulutmu itu, cerewet,” Enlai berkata lalu berbalik dan berniat meninggalkannya.

Ce Wei terlihat marah tanpa pemberitahuan ia langsung mengarahkan sebuah pukulan pada Enlai yang langsung ditangkap Enlai dengan santai. Ce Wei mengerang kesakitan karena cengkeraman Enlai. Di saat itulah seseorang menghantamkan tinjunya ke pipi kanan Enlai dan membuatnya terhempas menabrak sebuah meja.

“Kau tidak apa – apa?” tanya seorang pria pada Ce Wei. Seorang pria lainnya berdiri cemas di dekat keduanya.

“Hmmph—aku baik – baik saja,” Ce Wei melemparkan pandangannya ke lain arah. Pria pertama itu tersenyum lega.

Enlai bangkit sambil menyentuh pipinya yang panas karena tinju barusan.
“Cih, membelanya hanya karena dia itu wanita…kau perlu memperbaiki matamu itu!” ujarnya pada si peninju.
Ketiga orang itu menoleh padanya. Si pria pertama menatapnya tajam, “Perlakuanmu itu kasar padanya. Kau itu yang perlu perbaikan!” ia membalas.

Enlai bergerak cepat hingga dalam hitungan detik kerah baju pria itu telah berada di genggamannya. “Hei, wanita cerewet ini yang pertama kali buat masalah denganku! Bicara soal porsi, aku hanya mengambil sebanyak yang kuperlukan saja!” desis Enlai di depan wajah si pria pertama.

“Aduh—aduh, sudah…sudah…berhenti! Kita ini satu tim!” si pria kedua berseru melerai.

Enlai melirik padanya. “Lepaskan dia,” pinta si pria kedua tegas.

“Hmmmph!” Enlai menghempaskan tubuh si pria pertama hingga ia agak terhuyung ke belakang.
Lalu tanpa banyak bicara ia mengambil baki yang berisi makanannya yang sempat ia selamatkan pada detik – detik terakhir sebelum bertarung dengan Ce Wei.

Ketika ia berniat meninggalkan ketiganya, si pria kedua berseru, “Hei! Apa kau mau bergabung dengan kami? Kau baru datang, kan?”

Enlai menatap ketiganya. “Tidak perlu repot – repot. Aku bisa cari tempat duduk sendiri,” jawab Enlai berniat berbalik.

“Eh, aku Shang Lao. Dia Ma Feng dan gadis yang disitu Zhi Ai,” kata si pria kedua lalu menunjuk kearah si pria pertama dan seorang gadis yang baru disadari Enlai sudah ada disana sejak tadi, secara berurutan.

Enlai menghela napas. “Enlai, jika itu yang ingin kau ketahui,” jawab Enlai lalu meninggalkan keempatnya.

Ma Feng menyikut tangan Shang Lao, “Hei, untuk apa kau memberitahu nama kita padanya?” bisiknya kesal.

“Eh? Kupikir kita bisa berteman dengannya,” kata Shang Lao.

“Berteman dengannya? Yang benar saja!” Ce Wei menimpali.

“Sudah—sudah lebih baik kita lanjutkan makan saja,” Ma Feng menengahi.

Dari kejauhan Enlai menatap mereka tajam.

******
Summary:
Pertemuan Enlai dengan Ma Feng, Shang Lao, Hua Ce Wei, dan Zhi Ai yang diawali dengan sedikit cekcok
Enlai dianggap keterlaluan oleh Ma Feng dan Hua Ce Wei


*btw maap klo sayah sudah menyusahkan yang laen karena lama ngepostnya ^^;*
*maap2 juga klo ada karakter yang tiba2 berubah dari yang aslinya masi blum inget karakter laen dengan jelas -_-; swt...*
Posted Image
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
TheSpinel
Member Avatar
The Lost Time
[ *  *  *  * ]
Blink. Dalam sekedip mata, usai sudah semuanya. Seorang pria datang, kemudian datang seorang pria lagi dan mereka bertarung... atau sparing? Lalu seorang gadis datang. "Nona? Kau mengantar bekal untuk suamimu atau kau ikut bernasib sama denganku--ikut mendaftar sebagai prajurit karena bosan dengan kehidupan lamamu?" tanya gadis itu. Dia tampak lebih muda dari Zhi Ai. Zhi Ai sedikit berpikir mendengar pertanyaan gadis itu. "Tidak juga... aku memang ingin ke sini.... lagipula, aku ingin menjadi seperti ayahku..." Zhi Ai tersenyum simpul kepada gadis asing ini. Senang rasanya melihat perempuan di tengah-tengah para lelaki ini.

"Apa pun tujuanmu datang ke sini, Nona, mau temani aku makan malam? Hmmm, aku sedang ingin memasak tahu dengan bumbu 'la'. Semoga saja mereka menyediakan bahan-bahannya di dapur tenda," tawar gadis itu. Zhi Ai hanya mengangguk saja dan ia pun kemudian mengikuti gadis itu ke dapur.

Sesampainya di dapur, Zhi Ai kemudian menanyakan nama gadis itu. "Um... permisi, boleh kutahu namamu?" tanyanya sopan.
=====
OOC: wah keduluan Enlai. Btw, anggep aja post gw itu sebelum mereka ketemu Enlai yah... sorry ngganggu))
I am the bone of my Desu.
Ceramic is my body and Desu is my blood.
I have spammed over one thousand sites.
Unknown to Mods, nor known to janitors.
Have withstood bans to create more replies Desu.
Yet those hands will never hold anything.
So I pray, "Unlimited Desu Work" - Desu

Joe's PokePet
Posted Image Posted Image
Stella the level 44 Staraptor!


My deviantart, joe021093
Terima segala jenis komentar...
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
terus01
Member Avatar
Active Reader
[ *  * ]
Ma Feng menyikut tangan Shang Lao, “Hei, untuk apa kau memberitahu nama kita padanya?” bisiknya kesal.

“Eh? Kupikir kita bisa berteman dengannya,” kata Shang Lao.

“Berteman dengannya? Yang benar saja!” Ce Wei menimpali.

“Sudah—sudah lebih baik kita lanjutkan makan saja,” Ma Feng menengahi.

Dari kejauhan Enlai menatap mereka tajam.

Semakin tergelitik oleh tatapan itu, Shang Lao mengeluarkan botol arak yang biasa ia bawa, menuangkannya ke 2 gelas dan mengirimkan--ato lebih tepat menerbangkannya (dengan satu teknik tentunya)-- pada Enlai tak jauh dari meja mereka.

Enlai semakin melotot.

Namun Shang Lao hanya tersenyum dan mengangkat gelasnya, tanda bersulang.

Enlai dengan enggan mengambilnya dan turut bersulang.

SUMMARY

Pencairan suasana antara Enlai dan Shang Lao dkk.
My Color is Black
I value darkness, violence, and disorder.
I love to protect Chaos.
My symbol is Heaven of Eternal Darkness.
At my worst, I am kind and warmth.
My enemy is white.


Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Claude_C_Kenni
Member Avatar
Gundam Meister
[ *  *  *  * ]
Waktu makan malam pun tiba2. Petugas pun mulai membagi2kan bahan makanan kepada para prajurit dan mereka pun mulai makan secara berkelompok. Bahan2 yg dibagikan memang tidak terlalu mewah, tapi apa boleh buat, dalam suasana perang begini kita memang harus mensyukuri hal sesederhana apa pun

Sementara para prajurit makan, jenderal Zhou Jing berjalan2 di area perkemahan sambil mengamati. Ada satu kelompok yg terdiri dari 2 orang wanita dan 3 orang pria yg menarik perhatiannya.

"Permisi, boleh aku bergabung dengan kalian?" kata Zhou Jing.
"Silakan" jawab seorang wanita yg membawa cakram di pinggangnya.
Setelah saling berkenalan, sambil makan, mereka pun mengobrol. Karena saat itu Zhou Jing memakai pakaian biasa, tampaknya mereka tidak mengenalinya sebagai seorang jenderal. Mereka mengobrol panjang lebar, mulai dari bercerita tentang asal usul masing2, hingga mengobrol tentang kejadian tadi sore, di mana Zhi Ai diganggu oleh sekelompok laki2.

Selesai makan, Zhou Jing pun pamit. Sebelum pamit, ia berpesan pada mereka untuk jangan tidur dulu, karena sebentar lagi akan ada sambutan dari gubernur.

Beberapa menit kemudian, persis seperti perkataan Zhou Jing, para prajurit baru diminta untuk berkumpul. Dalam waktu singkat, daerah di sekitar kemah utama sudah dipenuhi oleh para prajurit baru yg jumlahnya mencapai 2000 orang itu.
Dan di hadapan mereka, di atas panggung kayu, berdirilah gubernur Liu Yan ditemani oleh Jenderal Zhou Jing.

"Itu kan orang yg tadi ikut makan bersama kita?" kata Zhi Ai kepada Ce Wei. Ce Wei hanya mengangguk pelan, tampaknya ia sedang memikirkan sesuatu.

"Selamat datang, wahai para pemberani!" kata Liu Yan, diiringi oleh sorak sorai para prajurit baru sebagai jawaban atas sapaan itu.
"Aku sungguh berterima kasih atas kesediaan kalian untuk bergabung dengan pasukanku. Dengan bantuan kalian, kita pasti mampu menghalau serangan pasukan pemberontak, dan melindungi kota kita yg tercinta ini. Namun ketahuilah, jalan yg telah kalian pilih ini adalah jalan berdarah. Korban jatuh tidak dapat dielakkan, sudah siapkah kalian berkorban nyawa?"

Sebagian kecil prajurit baru menjawab YA dengan tegas, sementara sisanya terdiam
"Aku pun sebenarnya tidak ingin melihat ada rakyatku yg terbunuh. Tapi, untuk mencapai hasil yg besar, harus ada pengorbanan yg setimpal pula" kata Liu Yan. Ia memandang rakyatnya, terbersit rasa takut di wajah mereka.
"Tapi, untuk meminimalisir jatuhnya korban, mulai besok pagi, kalian akan menjalani latihan khusus mengenai dasar2 ilmu perang. Aku minta agar kalian menjunjung tinggi rasa tanggung jawab dan disiplin. Patuhi perintah dengan baik, berlatihlah dengan serius. Apabila ada serangan mendadak, jangan panik, tetap tenang, tunggu komando, dan jalankan tugas yg diberikan kepada kalian dengan baik"

Pidato Liu Yan berlangsung selama kurang lebih 10 menit. Namun dalam waktu sesingkat itu, ia telah berhasil memotivasi semangat para prajurit baru tersebut. Walau betapa beratnya latihan yg akan mereka jalani pada hari esok, dengan semangat yg menggebu2 sepertin saat ini, segalanya pasti akan berjalan dengan baik.

Setelah pidato Liu Yan selesai, para prajurit pun dibubarkan dan mereka pulang ke tenda masing2 untuk tidur.

---

NEXT TASK
> Boleh bebas interaksi, setelah itu tidur
> JANGAN memajukan timeline ke esok pagi


Buat mereka yg belum selesai registrasi, buat cerita flashback tentang registrasi menjadi prajurit, kemudian langsung bersiap2 untuk tidur
Jangan lama2, karena besok cerita akan dilanjutkan
Posted Image

I am the bone of my sword.
Steel is my body, and fire is my blood.
I have created over a thousand blades.
Unaware of loss.
Nor aware of gain.
Withstood pain to create weapons,
Waiting for one's arrival.
I have no regrets,
This is the only path.
My whole life was,
UNLIMITED BLADE WORKS.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
terus01
Member Avatar
Active Reader
[ *  * ]
Sesudah makan, Shang Lao bergegas tidur. Namun...
Teringat dengan Ling Hua, bagaimana kabarnya dia sekarang..

I will come back for sure

For her...

Shang Lao terlelap. Namun tak pernah nyenyak, masih banyak yang terbangun saat ini.

Suasana sunyi setelah agak lama.
Namun terbangun oleh suara "clank clank clank"

What the hell is that??
At night too..
Hhh, sleep is a gift at a time like this, won't they understand that?


OOC:
Up to all of you, mau dtanggapi ato ga. Kalo iya, terserah itu apaan. Kalo ga, y berarti simply cuma ngedumel aja trus Shang Lao tidur.
My Color is Black
I value darkness, violence, and disorder.
I love to protect Chaos.
My symbol is Heaven of Eternal Darkness.
At my worst, I am kind and warmth.
My enemy is white.


Offline Profile Quote Post Goto Top
 
tyrannical-jester
Member Avatar
Reader
[ * ]
Enlai memperhatikan para prajurit lain yang tidur. Ia...tak bisa tidur dengan perut kenyang seperti ini. Sudah jadi kebiasaannya untuk melakukan latihan sehabis makan. Berjalanlah dia keluar dari kamp setelah sebelumnya meraih senjatanya yang ada dalam buntalan yang ia bawa - bawa sejak tadi.
-----------------------------------------------------
Malam itu dingin dan bulan bersinar terang seperti biasa. Tak ada bintang dan langitnya bersih dari gumpalan putih bernama awan.

Enlai berjalan agak jauh dari kamp. Ia tak mau membuat seseorang bangun dan mengganggunya. Dengan cepat dipasangnya senjatanya ke kedua tangannya. Lalu matanya berputar mencari objek yang dapat dijadikan tempat latihan.

Ketika itulah ia melihat beberapa tiang kau setinggi 1 meter tertancap kuat di tanah. Sepertinya itu adalah tempat latihan. Tanpa ragu ia segera berjalan kesana dan berlatih.

OOC:
baik silakan kalo ada yang mau ganggu sayah ^_^ klo ga da yang ganggu ato apapun jadinya si Enlai latihan mpe sinar matahari yang pertama muncul lalu dia balik ke kamp dan pura2 tidur.
Posted Image
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
dawnbringer
Member Avatar
Active Reader
[ *  * ]
'Mengapa camp ini begitu banyak orang-orang aneh? Mungkin kalau kakakku dia mengatakan unik. Banyak sekali pria-pria bebal di sini. Yang datang hanya untuk mencari kekacauan dan dapat membunuhi orang dengan legal.' Ma Feng mulai kecewa dengan para prajurit-prajurit yang ada karena banyak dari mereka yang mengganggu wanita di camp ini.

Yeah, tapi kini aku sama dengan mereka. Datang untuk meningkatkan diri. Datang untuk membunuhi prajurit lawan'

'Tidur di ranjang dengan orang-orang asing berarti menyamakan diri dengan mereka.
Sial, mengapa aku mendapat tenda yang sama dengan orang-orang bebal tadi' pikir Ma Feng.

Akhirnya Ma Feng memutuskan untuk bermeditasi kembali sebelum tidur.. Dan beristirahat seperti ini juga sudah menjadi kebiasaaan menggantikan tidur malamnya.

Mengingat perkataan Zhou Jing pada siang harinya, Ma Feng memutuskan untuk berlatih meningkatkan kekuatan Runenya. Rune yang telah ia dapatkan dengan susah payah di desa asalnya.

Cahaya kehijauan mulai muncul dari tangannya, dan angin mulai berputar mengintari Ma Feng. Masih kurang, pikirnya..

Cahaya kehijauan itu makin terang dan angin tersebut makin meliuk-liuk keras. Dari keributan itu semua, tiba-tiba angin berhenti bertiup, dan suasana kembali senyap.

'fokus'

Pedang kembar Ma Feng keluar dari sarungnya. Bukan karena dicabut olehnya, tetapi terlihat seperti ada sulur kehijauan yang keluar dari tanganya, menggapai pedang-pedang itu dan menariknya keluar. Lalu Ma Feng menari. Setidaknya terlihat seperti menari bersama kedua pedangnya. Seperti angin di musim gugur, indah tapi mematikan.

Namun, pedang yang lebih besar tiba-tiba menjadi tidak sinkron, dan berputar mengarahkan mata pedangnya pada Ma Feng.

"Sial!"

Ma Feng lalu mengambil pedang yang lebih kecil dari udara, lalu seakan-akan bertarung dengan makhluk bayangan yang menggunakan pedangnya.

"clank clank clank"

Akhirnya pedangnya berhasil dijinakan, dan kedua pedangnaypun disarungkan kembali ke pinggangnya.

"Sial, jurus itu memakan terlalu banyak tenaga. Bagaimana mungkin elder di desaku memainkan jurus itu dengan mudahnya?"

'Terlalu riskan, apalagi Tornada, pedang besar itu yang mudah terpengaruh oleh hawa jahat di sekitarnya. Terlalu banyak hawa membunuh di camp ini'.

"Hoi! Apa kalian tidak tahu ini sudah malam? Jangan bertarung di tengah malam-malam begini. Don't you know that you can't sleep everyday from now on?"

Tiba-tiba terdengar teriakan Shang Lao dari tenda di dekat Ma Feng.

"Oh, rupanya kau Ma Feng. Kau bertarung dengan siapa? Tadi kudengar bunyi pedang beradu"

" Maaf kalau kau terbangun. Itu kesalahanku. "

"Oh, sudahlah. Mengapa tidak tidur? Tidurlah teman, karena berminggu-minggu mendatang akan lebih susah mencari waktu yang tenang untuk tidur, lagipula kau terlihat seperti sangat kelelahan."

"Baiklah"

Mereka berdua kembali ke tendanya masing-masing. Dan Ma Feng pun kembali ke alas tidurnya dan duduk bersila. Ini adalah posisi ternyaman baginya untuk tidur.

***

Sementara itu..

BRAK!!

"Aduh, kenapa tiba-tiba ada angin keras?Aku jadi tidak fokus berlatih." keluh Enlai

"Ho? Sudah reda? Baiklah.."

Dan Enlai pun berlatih kembali..

Namun di kejauhan...

------
Summary:
Sumber keributan diketahui.
Ma Feng berinteraksi dengantidur
Enlai masih berlatih

OOC:
Silahkan diteruskan. Wakakaka...
Bagi yang mau menyisipkan event di cerita ini silahkan saja asal ga ngerusak yg uda ada
XD
Anw, bagian akhirnya ga penting, cuma biar ada interaksi aja.
^^;
Lalu, karena gw newbie, minta komentarnya dong, hehehe~ :hiks:
Posted Image
全てを破壊し、全てを繋げ,
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
terus01
Member Avatar
Active Reader
[ *  * ]
berjalan kembali ke camp, sesudah menyarankan Ma Feng untuk tidur, Shang Lao kembali mendengar suara.

Mengikuti arah suara, kemudian ia mengetahui En Lai sedang berlatih.

Well. this guy won't listen to me anyway...
And why do I act like their older brother??


But Enlai's move catch his eyes.
So, he watch more longer.

Enlai stop, notice the annoying guy at today's dinner.
My Color is Black
I value darkness, violence, and disorder.
I love to protect Chaos.
My symbol is Heaven of Eternal Darkness.
At my worst, I am kind and warmth.
My enemy is white.


Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Claude_C_Kenni
Member Avatar
Gundam Meister
[ *  *  *  * ]
Malam pun semakin larut, dan kesunyian pun menyelimuti kota Ji dan sekitarnya. Dingin yg bagaikan menusuk kulit membuat bahkan para penjaga gerbang pun terkantuk2.

Tiba2 terdengar suara teriakan keras dan derap kaki kuda yg membuat para penjaga gerbang tersadar dari kantuknya. Mereka melihat di arah timur, ribuan...tidak bahkan puluhan ribu bola api bergerak mendekati kota Ji dengan sangat cepat.

"SURGA MATI DAN BUMI MEMERINTAH, LONG LIVE THE YELLOW TURBANS!!!"

Teriakan2 itu kini terdengar jelas, dan sadarlah para penjaga itu akan apa yg sebenarnya terjadi. Puluhan ribu pasukan pemberontak sedang menuju ke arah mereka.

"PASUKAN PEMBERONTAK!!! PASUKAN PEMBERONTAK MENYERANG!!!"

Para prajurit di segala penjuru segera memukul genderang tanda bahaya. Kesunyian yg tadi menyelimuti kota, kini sudah berubah menjadi teriakan2 panik dan ketakutan dari para penduduk. Gemuruh derap kaki kuda pasukan pemberontak membuat bumi seakan2 bergetar, bahkan suara periuk neraka yg terbuka untuk menelan mereka semua.

---

"Cih, mereka datang 3 hari lebih cepat dari dugaanku" kata Zhou Jing
"Zhou Jing, apa yg harus kulakukan?" tanya Liu Yan panik
"Tuanku, pergilah menuju ke barat, dan tolong organisasikan rakyat untuk berlindung, dan apabila yg terburuk terjadi, bersiap2lah untuk melarikan diri. Aku akan mengumpulkan para prajurit, dan bertahan selama mungkin." kata Zhou Jing, kemudian ia segera berlari menuju camp pasukan

Di camp, para prajurit juga panik. Keadaan sungguh kacau. Zhou Jing tiba di sana dan ia berteriak kepada mereka
"KALIAN SEMUA MAU MATI SIA2?"
Teriakan Zhou Jing membuat para prajurit yg tadinya panik, menjadi terdiam seketika.
"Sekarang ada puluhan ribu pasukan pemberontak di luar sana, apa yg akan kalian lakukan? Menjerit2 dan mati layaknya anjing penyakitan, atau kalian mau pergi ke luar sana, mati dengan terhormat demi melindungi kota ini?"
Mendengar kata2 Zhou Jing, para prajurit pun tersadar. Dipimpin oleh para prajurit yg lebih berpengalaman, mereka mulai membentuk barisan sesuai dengan divisi2 yg telah dibagi.

"Saudara2ku...memang kita belum saling mengenal satu sama lain untuk waktu yg lama. Tapi aku bangga bisa bertarung di sisi kalian hari ini. Mari, kita pergi...bertarung demi melindungi kebenaran...mati SEBAGAI PRAJURIT HAN SEJATI!!!" kata2 Zhou Jing tersebut disambut dengan sorak sorai para prajurit. Suara para prajurit yg gegap gempita pun terdengar ke seluruh pelosok kota, seolah2 mereka mengucapkan selamat tinggal kepada keluarga mereka.

Zhou Jing memimpin pasukan pemanah, pasukan spesialis rune, dan sebagian pasukan infantri ke atas tembok kota untuk bertahan. Sementara pasukan kavaleri dan pasukan infantri yg tersisa, menunggu waktu dengan tenang, bersiap2 di belakang gerbang kota untuk menghadapi yg terburuk. Jumlah mereka, walaupun ditambah oleh prajurit baru, paling hanya sekitar 5000 orang. Sanggupkah mereka bertahan melawan 50 ribu pasukan pemberontak?

---

Sementara itu, pasukan pemberontak berhenti kira2 10 KM dari kota Ji. Pemimpin pasukan pemberontak itu adalah Cheng Yuanzhi, salah seorang anak buah kepercayaan Zhang Jiao.
"Tampaknya mereka sudah menyadari kehadiran kita" kata Cheng Yuanzhi
"Betul jenderal, tapi menurut informasi yg kuterima, pasukan mereka hanya berjumlah sekitar 5000 orang...bahkan banyak di antara pasukan mereka yg tadinya bekas rakyat jelata. Mereka tidak akan bisa memberikan perlawanan yg berarti" jawab Deng Mao, salah seorang ajudannya.

"Hmmm, baiklah. Gong Du, Guan Hai, Yan Zheng. Pimpinlah 10 ribu pasukan dan serang mereka dari 3 arah" perintah Cheng Yuanzhi pada para komandannya.

---

SUMMARY
> Kota Ji diserang oleh pasukan pemberontak yg jumlahnya 50 ribu orang
> Total pasukan di kota hanya berjumlah 5000 orang
> Gong Du, Guan Hai, dan Yan Zheng dan 10 ribu pasukan mengepung kota dari 3 arah
Gong Du dari timur, Guan Hai dari barat, dan Yan Zheng dari utara

NEXT TASK
> DEFEND THE CITY AT ALL COST
> Pilihlah satu sisi kota, timur, barat, atau utara, dan DEFEND IT WITH YOUR LIFE!
> Musuh akan mencoba menyerang dengan memanjat dinding, menghujani kota dengan panah api, dan mendobrak gerbang dengan battering ram (semacam gelondong kayu besar)
> JANGAN memimpin pasukan keluar dari kota sebelum ada perintah dari Zhou Jing, pertahankan kota dari atas tembok kota
> Don't engage enemy officers yet...
Posted Image

I am the bone of my sword.
Steel is my body, and fire is my blood.
I have created over a thousand blades.
Unaware of loss.
Nor aware of gain.
Withstood pain to create weapons,
Waiting for one's arrival.
I have no regrets,
This is the only path.
My whole life was,
UNLIMITED BLADE WORKS.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
anpyun
Member Avatar
Active Reader
[ *  * ]
Di pagi hari sebelum malam kota diserang, di balai kota

"Wah setelah selesai mendaftar apa yang harus ku lakukan...", pikir Huang Han Xiang.

Ia melihat kesana kemari, suasana disekitarnya tampak sangat asing, sangat berbeda dengan tempat dimana ia tinggal. Lalu ia memutuskan untuk berjalan-jalan melihat-lihat kota sampai sore hari sambil mempelajari kondisi wilayah dan benteng kota.

Setelah lelah ia memutuskan utung beristirahat labih awal di camp karena kelelahan, pada saat ia sedang tertidur tiba-tiba ia terbangun karena ada keributan. Semua prajurit panik, dan keadaan kacau balau. Han Xiang segera berisiap-siap dan mengambil busur dan perlengkapan lainnya lalu pergi keluar.

Tiba-tiba ia mendengar teriakan Zhou Jing "KALIAN SEMUA MAU MATI SIA2?" dan seterusnya... bla... bla... bla...

Setelah memahami kondisi yang ada Han Xiang memutuskan untuk menjaga benteng bagian utara, lalu ia bergegas pergi.

______________________________
SUMMARY
Character discovered
- Huang Han Xiang

Character mentioned
-

Place discovered
-

Wah pertama kali nulis beginian nih... kalo ada yang salah waktu & tempatnya mohon dimaafkan

OOC:
Selanjutnya silahkan dilanjutkan... Terserah di perjalanan ke benteng utara mau ketemu sama karakter lain atau tidak, kalau tidak ya berarti Han Xiang sampai di benteng lalu bersiap-siap kalu musuh datang.
Posted Image
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
Go to Next Page
« Previous Topic · The Story · Next Topic »
Add Reply
  • Pages:
  • 1
  • 18

Theme created by Tue. Find more great ZB themes and IF skins at Self Concept