Welcome Guest [Log In] [Register]
BARU DIBUKA! Klik butang Like dan temui ribuan pengguna laman web ini.
Tawaran Iklan Di bawah Ini Akan Tamat Pada Bila-bila Masa:


Add Reply
  • Pages:
  • 1
  • 3
Peringatan Untuk Kita; Jadikan Amalan..
Topic Started: Wed Aug 17, 2005 12:49 pm (45,349 Views)
zarith
Member Avatar
Ibu
[ * ]
Posted Image


Posted Image

[size=7]Empat Jenis Golongan Manusia [/size]


Ada empat jenis manusia dalam dunia ini

Pertama ialah mereka yang tidak ada lidah dan tidak ada hati. Mereka ini ialah orang-orang yang bertaraf biasa, berotak tumpul dan berjiwa kerdil yang tidak mengenang Allah dan tidak ada kebaikan pada mereka. Mereka ini ibarat melukut yang ringan, kecuali mereka dilimpahi dengan kasih sayang Allah dan membimbing hati mereka supaya beriman serta menggerakkan angota-anggota mereka supaya patuh kepada Allah.

Berhati-hatilah supaya kamu jangan termasuk dalam golongan mereka. Janganlah kamu layan mereka dan janganlah kamu bergaul dengan mereka. Merekalah orang-orang yang dimurkai Allah dan penghuni neraka. Kita minta dilindungi Allah dari pengaruh mereka. Sebaliknya kamu hendaklah cuba menjadikan diri kamu sebagai orang yang dilengkapi dengan

Ilmu Ketuhanan,
Guru kepada yang baik,
Pembimbing kepada agama Allah,
Penyampai dan pengajak kepada manusia kepada jalan Allah.
Berjaga-jagalah jika kamu hendak mempengaruhi mereka supaya mereka patuh kepada Allah dan beri amaran kepada mereka terhadap apa-apa yang memusuhi Allah. Jika kamu berjuang di jalan Allah untuk mengajak mereka menuju Allah, maka kamu akan jadi pejuang dan pahlawan di jalan Allah dan akan diberi ganjaran seperti yang diberi kepada Nabi-nabi dan Rasul-rasul.
Nabi Muhammad SAW. pernah bersabda kepada Sayyidina Alli;

"Jika Allah membimbing seseorang melalui bimbingan kamu kepadaNya, maka itu terlebih baik kepada kamu dari apa-apa sahaja di mana matahari terbit".


Satu jenis lagi (kedua) manusia ialah mereka yang ada lidah tetapi tidak ada hati.

Mereka bijak bercakap tetapi tidak melakukan seperti yang dicakapkannya.
Mereka mengajak manusia menuju Allah tetepi mereka sendiri lari dari Allah.
Mereka benci kepada maksiat yang dilakukan oleh orang lain, tetapi mereka sendiri bergelumbang dalam maksiat itu.
Mereka menunjuk kepada orang lain yang mereka itu Sholeh tetapi mereka sendiri melakukan dosa-dosa yang besar.
Bila mereka bersendirian, mereka bertindak selaku harimau yang berpakaian.
Inilah orang yang dikatakan kepada Nabi SAW. dengan sabda;
"Yang paling aku takuti dan aku pun takut di kalangan umatku ialah orang 'Alim yang jahat".

Kita berlindung dengan Allah daripada orang 'Alim seperti itu. Oleh itu, larilah dan jauhkan diri kamu dari orang-orang seperti itu. Jika tidak, kamu akan terpengaruh oleh kata-kata manis yang bijak berbicara itu dan apoi dosanya itu akan membakari kamu dan kekotoran hatinya akan membunuh kamu.

Jenis yang ketiga ialah golongan orang yang mempunyai hati tetapi tidak ada lidah.

Dia adalah seorang yang beriman.
Allah telah mendindingkan mereka daripada makhluk dan
menggantungkan di keliling mereka dengan tabirNya dan
memberi mereka kesedaran tentang cacat cedera diri mereka.
Allah menyinari hati mereka dan menyedarkan mereka tentang kejahatan yang timbul oleh kerana mencampuri urusan orang ramai dan kejahatan yang timbul oleh kerana mencampuri orang ramai dan kejahatan kerena bercakap banyak.

Mereka ini tahu bahawa keselamatan itu terletak dalam "DIAM" dan bekhalwat. Nabi SAW. pernah bersabda;

"Barangsiapa yang diam akan mencapai keselamatan".

Sabda baginda lagi;

"Sesungguhnya berkhidmat kepada Allah itu terdiri dari sepuluh bahagian, sembilan darinya terletak dalam diam".

Oleh itu mereka dalam golongan jenis ini adalah Wali Allah dalam rahsiaNya, dilindungi dan diberi keselamatan, bijaksana, rakan Allah dan diberkati dengan keredhoan dan segala yang baik akan diberikan kepada mereka.

Oleh itu, kamu hendaklah berkawan dengan mereka dan bergaul dengan orang-orang ini dan diberi pertolongan kepada mereka. Jika kamu berbuat demikian, kamu akan dikasihi Allah dan kamu akan dipilih dan dimasukkan dalam golongan mereka yang menjadi Wali Allh dan hamba-hambanya yang Sholeh.

Jenis manusia yang keempat pula ialah mereka yang dijak ke dunia tidak nampak(Alam Ghaib), diberi pakaian kemuliaan seperti dalam sabda Nabi SAW;

'Barangsiapa yang belajar dan mengamalkan pelajarannya dan mengajarkan orang yang lain, maka akan diajak ke dunia ghaib dan permuliakan".

Orang dalam golongan ini mempunyai ilmu-ilmu Ketuhanan dan tanda-tanda Allah. Hati mereka menjadi gedung ilmu Allah yang amat berharga dan orang itu akan diberi Allah rahsia-rahsia yang tidak diberi kepada orang lain. Allah telah memilih mereka dan membawa mereka hampir hampir kepadaNya. Allah akan membimbing mereka dan membawa mereka ke sisiNya. Hati mereka akan dilapangkan untuk menerima rahsia-rahsia ini dan ilmu-ilmu yang tinggi. Allah jadikan mereka itu pelaku dan lakuanNya dan pengajak manusia kepada jalan Allah dan melarang membuat dosa dan maksiat. Jadilah mereka itu "Orang-orang Allah". Mereka mendapat bimbingan yang benar dan yang mengesahkan kebenaran orang lain.

Mereka ibarat timbalan Nabi-nabi dan Rasul-rasul Allah. Mereka sentoasa mendapat taufiq dan hidayah dari Allah Yang Maha Agung. Orang yang dalam golongan ini adalah pada peringkat terakhir atau puncak kemanusian dan tidak ada Maqam di atas ini kecuali Kenabian.

Oleh itu hati-hatilah kamu supaya jangan memusuhi dan membantah orang-orang seperti ini dan dengarlah cakap atau nasihat mereka. Oleh itu, keselamatan terletak dalam apa yang dicakapkan oleh mereka dan dalam berdamping dengan mereka, kecuali mereka yang Allah beri kuasa dan pertolongan terhadap hak dan keampunanNya.

Jadi saya(Sheikh Abdul Qadir Al-Jailani) telah bahagikan manusi itu kepada empat golongan. Sekarang terpulanglah kepada kamu untuk memeriksa diri kamu sendiri jika kamu mempunyai fikiran. Dan selamatkanlah diri kamu jika kamu ingin keselamatan. Mudah-mudahan Allah membimbing kita menuju kepada apa yang dikasihiNya dan diredhoiNya, dalam dunia ini dan di akhirat kelak.

Dipetik dari Kitab Futuuhul Ghaib oleh Sheikh Abdul Qadir Al-Jailani.




Semoga Allah memberi Nur Petunjuknya
LAA HAULAWALA QUWWATAILLA BILLAH




http://www.ecst.csuchico.edu/~durian/ra/wajah.ram
Posted Image

http://www.globalunification.com/associatesASIA001.php
http://www.hi5.com/friend/profile/displayP...userid=24171023
http://www.mesra.net/forum/index.php?act=ST&f=32&t=49475
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
zarith
Member Avatar
Ibu
[ * ]
Posted Image


[size=7]Muhasabah Nisfhu Sya'ban
Cinta Rasul Oleh : Redaksi 10 Sep 2006 - 1:38 am[/size]




Imam Mahdi dan Masalah Penantian



Posted Image

KEPERCAYAAN pada konsep dan eksistensi Imam Mahdi agaknya sudah menjadi kepercayaan umum, baik di kalangan Islam maupun non-Islam, baik Ahlusunnah maupun Syi'ah. Hal ini dapat dibuktikan dari berbagai kajian ilmiah yang terbit di Tanah Air. Yang menjadi objek perselisihan di kalangan umat Islam adalah masalah penetapan identitas Imam Mahdi itu sendiri.

Setidaknya ada dua versi ihwal jatidiri juru selamat dunia ini. Sebagian besar golongan Ahlusunnah menganggap bahwa Imam Mahdi itu bernama Muhammad bin Abdullah, yang akan muncul menjelang hari kiamat tiba. Ini berdasarkan sebuah hadis dari Nabi saw yang mengatakan bahwa “nama Imam Mahdi itu sama dengan namaku, ayahnya sama dengan nama ayahku.”

Sementara, di pihak lain, kalangan Syi'ah Imamiyah meyakini bahwa Imam Mahdi itu adalah gelar untuk Muhammad bin Hasan Askari bin Ali Hadi bin Muhammad Jawad bin Ali Ridha bin Musa Kazhim bin Jafar Shadiq bin Muhammad Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, menantu Rasulullah saw.

Ulama Sunni yang mengurutkan dua belas imam dari jalur Ahlulbait ini adalah Syekh Qanduzi al-Hanafi dalam kitab Yanabi al-Mawaddah. Lebih rinci tentang masalah ini dapat pembaca simak dalam berbagai buku yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Selebihnya di luar maksud tulisan ini.


Kegaiban Imam Mahdi

Imamiyah meyakini bahwa imam kedua belas mereka ini mengalami dua kegaiban : kegaiban pendek (ghayb shughra) dan kegaiban panjang (ghayb kubra). Kegaiban pertama dimaksudkan, di antara beberapa alasan, untuk menghindari terjadinya pembunuhan pada diri Imam Mahdi, yang kabar tentang kelahirannya telah masyhur di kalangan umat Islam, termasuk penguasa Bani Abbasiyah saat itu. Mereka memata-matai rumah Imam Hasan Askari yang dinubuatkan sebagai tempat kelahiran Imam Mahdi. Alasan lain adalah untuk mempersiapkan umat Syi'ah dalam menerima otoritas ulama yang kompeten selama kegaiban beliau.

Pada masa kegaiban pendek, umat Syi'ah menyampaikan masalah-masalah mereka kepada wakil khusus Imam as, yang terkenal sebanyak empat orang. Empat wakil ini kemudian menyampaikan permasalahan tersebut kepada Imam Mahdi as. Pasca kegaiban pendek, yang ditandai dengan berakhirnya perwakilan khusus Imam, akhirnya umat Syi'ah terbiasa untuk menerima kepemimpinan ulama mereka dalam kegaiban panjang ini. Dari sini, setidaknya bisa dilacak konsep kemarjaan (marja'iyyat) dalam Dunia Syi'ah yang begitu established, khususnya setelah kaum ushuli mendominasi wacana ilmiah Syi'ah.


Taklif-taklif Di Masa Kegaiban Panjang

Taklif terpenting di masa kegaiban panjang, yang bisa disimpulkan dari hadis-hadis, adalah masalah penantian (intizhar al-faraj) itu sendiri. Dalam masa penantian ini, ada beberapa kewajiban seperti berikut.

Pertama, penguatan terhadap keyakinan mengenai pemimpin di masanya, kegaibannya, kepastian mengenai kemunculannya, dia hidup dan memperhatikan segala urusan, mengetahui segala perbuatan manusia, kondisi yang mereka hadapi, serta beliau menanti terkumpulnya syarat-syarat yang dibutuhkan untuk kemunculannya. Untuk mendalami pengetahuan-pengetahuan ini, harus dibangun berdasarkan bukti-bukti naqli (nas-nas baik berupa al-Quran maupun hadis) yang sahih dan argumentasi-argumentasi akal yang sehat.

Kita akan menjumpai hadis-hadis mengenai kewajiban penantian ini melalui contoh-contoh lainnya. Lebih-lebih hal ini dapat kita jumpai melalui doa-doa yang sangat dianjurkan untuk dibaca pada masa kegaiban dan sangat ditekankan untuk melakukan kewajiban ini serta mengukuhkan pengetahuan terhadap Imam.

Satu contoh, Kulaini dalam kitab Al-Kâfî, meriwayatkan dari Zurarah, bahwa Imam Ja'far Shadiq as berkata, “Sesungguhnya bagi Al-Qaim terjadi kegaiban…dia adalah orang yang dinanti-nantikan, dia adalah orang yang kelahirannya diragukan.” Zurarah berkata, “Aku menjadi tebusanmu, jika aku mendapat kesempatan mengalami masa itu, apa yang harus aku lakukan?”

Imam menjawab, “Wahai Zurarah, jika kau mendapati masa tersebut, maka berdoalah dengan doa ini, 'Ya Allah, perkenalkan Diri-Mu padaku, jika Kau tidak mengenalkan diri-Mu, maka aku tidak mengenal Rasul-Mu. Ya Allah, perkenalkan kepadaku Rasul-Mu, Jika Kau tidak mengenalkan Rasul-Mu kepadaku, maka aku tidak mengenal hujjah-Mu. Ya Allah, perkenalkan hujjah-Mu kepadaku, jika Kau tidak memperkenalkan kepadaku hujjah-Mu, maka aku akan tersesat dalam agamaku …'

Kedua, mengokohkan hubungan batin dengan Imam Mahdi as, berperan aktif sesuai dengan tujuan-tujuan mulia beliau dan mempertahankannya serta memiliki ikatan batin yang dalam dengan kepemimpinan beliau. Hal-hal seperti inilah yang merupakan kewajiban secara umum yang dikuatkan dan disebutkan dalam berbagai hadis.

Misalnya, kewajiban seorang mukmin untuk berdoa untuk beliau demi penjagaan, pertolongan dan memohon untuk dipercepat kemunculan dan kehadiran beliau, memohon kehancuran para musuhnya, bersedekah untuknya, berkesinambungan dalam berziarah kepada beliau dan lain-lainnya seperti yang telah disebutkan dalam berbagai hadis.

Menghidupkan perintah ajaran Ahlulbait as, yang mencerminkan kepada beliau-semoga Allah Swt mempercepat kemunculannya-dengan perbuatan yang dapat membahagiakan beliau seperti berbuat sesuai dengan ajaran Islam yang suci yang mendorong dirinya, menyebarluaskan pemikiran-pemikiran mereka, mengenalkan keteraniayaan yang mereka alami, ber-wilâyah kepada mereka dan berlepas diri dari musuh-musuh mereka; berbuat sesuai dengan pesan-pesan dan warisan-warisan mereka; mengedepankan upaya pembelajaran mengenai mereka; menolak untuk merujuk pada para penguasa atau pemerintah yang zalim; merujuk kepada para fakih yang adil yang dijadikan oleh para imam sebagai hujjah mereka bagi umat manusia di zaman kegaiban.

Ketiga, memperkuat poros keimanan, saling menasehati dalam kebenaran Islam yang suci dan saling menasehati dalam kesabaran. Inilah bentuk-bentuk nyata dari kewajiban-kewajiban khusus di masa kegaiban panjang.


Pentingnya Penantian

Hadis-hadis memberikan penekanan yang mendalam mengenai besarnya pengaruh penantian al-faraj yang dalam bentuk umum sesuai dengan kemunculan al-Mahdi sebagai salah satu bentuk objek yang nyata khususnya menanti kemunculan Imam. Sebagian riwayat menyifati penantian sebagai ibadah terbaik seorang mukmin sebagaimana yang diriwayatkan dari Imam Ali as, “Ibadah seorang mukmin yang paling afdhal adalah menanti al-faraj Allah.”

Tak pelak lagi, ibadah seorang mukmin lebih baik dari ibadah seorang Muslim. Dengan demikian, menanti kehadiran Imam Mahdi adalah ibadah yang paling afdhal jika hal ini diniatkan untuk beribadah pada Allah Swt dan tidak mengharapkan sesuatu dari dunia.

Penantian terhadap kemunculan Imam Mahdi as mengukuhkan keterkaitan manusia dengan Allah Swt dan hubungannya dengan keimanan aplikatif bahwa Allah Swt Mahakuasa untuk menjalankan perintah-Nya dan sesungguhnya Dia berkuasa atas segala sesuatu. Dialah Allah yang mengatur urusan para makhluk-Nya dengan kebijaksanaannya yang penuh kasih sayang terhadap mereka.

Ibadah tidak bernilai jika tidak disandari dengan keimanan dan ketauhidan yang murni yang dikukuhkan dengan adanya penantian terhadap kemunculan Imam.

Riwayat mengatakan bahwa Imam Ja'far Shadiq as berkata, “Akan aku sampaikan kepada kalian sesuatu yang Allah Swt tidak akan menerima amal ibadah kecuali dengan sesuatu tersebut…Kesaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, mengikrarkan apa yang diperintahkan oleh Allah serta ber-wilâyah kepada kami dan berlepas diri dari musuh-musuh kami-yakni khusus para imam-pasrah kepada mereka, warak, dan berupaya keras dengan penuh ketenangan serta menanti kehadiran al-Qaim…”


Hakikat Penantian

Penantian adalah sebuah kondisi psikologis yang memunculkan persiapan terhadap sesuatu yang dinantikan dan lawan kata dari hal itu adalah putus asa. Setiap kali penantian meningkat, maka persiapan semakin banyak. Tidakkah Anda merasakan jika menanti seseorang yang akan datang, maka akan bertambah pula persiapan Anda ketika kedatangan seseorang itu semakin dekat. Bahkan, mungkin Anda akan mengganti riqad Anda dengan sihad karena besarnya penantian.

Dari sisi ini, setiap kali tingkatan penantian mengalami perbedaan maka terjadi pula perbedaan kecintaan terhadap orang yang Anda nantikan. Manakala kecintaan semakin besar maka bertambah besar pula persiapan menyambut kedatangan orang yang dicintai. Perpisahan dengan sang kekasih membuatnya sedih. Sampai-sampai orang yang menanti melupakan segala sesuatu yang berhubungan dengan penjagaan dirinya, dia tidak lagi merasakan apa yang menimpa dirinya dari rasa sakit ataupun tekanan yang menyayat.

Seorang mukmin yang menanti pemimpinnya, manakala penantiannya semakin besar maka semakin besar pula upaya dirinya untuk mempersiapkan baik dengan berbuat warak, berupaya sungguh-sungguh, melakukan pembenahan diri, menghindari akhlak-akhlak yang buruk, menghiasi dengan akhlak-akhlak yang terpuji sehingga ia berhasil menjumpai pemimpinnya, menyaksikan keindahannya di masa kegaibannya. Sebagaimana hal ini terjadi pada sejumlah besar orang saleh.

Karena itu, para imam maksum memerintahkan para pengikut mereka, sesuai dengan yang tercantum dalam riwayat-riwayat, untuk melakukan upaya pembenahan diri dan melaksanakan segala bentuk ketaatan.

Dalam sebuah riwayat yang disampaikan oleh Abu Bashir dari Imam Ja'far Shadiq as yang mengisyaratkan dan menunjukkan kemungkinan terjadinya keberhasilan tersebut dan pahala yang dapat diperoleh.

Beliau berkata, “Siapa yang kebahagiaannya adalah menjadi salah seorang sahabat al-Qaim, maka hendaknya ia menanti dan beramal dengan warak, berakhlak yang baik, dan dia dalam kondisi menanti. Jika ia meninggal dan al-Qaim muncul setelahnya, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang berjumpa dengan al-Qaim...”

Tak syak lagi, setiap kali penantian semakin kuat maka orang yang menanti akan mendapatkan tingkatan dan pahala yang lebih besar dari Allah Swt.

Dengan demikian, yang dimaksud dengan penantian adalah mengawasi kemunculan dan penegakan pemerintah yang kuat bagi al-Mahdi dari keluarga Nabi saw. Pemerintahan itulah yang kelak memenuhi bumi dengan keadilan dan kebahagiaan, kejayaan agama di atas agama-agama lain sebagaimana yang difirmankan Allah kepada Nabi-Nya dan menjanjikan hal tersebut.

Oleh karena itu, penantian meliputi kondisi hati yang dimunculkan oleh keyakinan dasar yang kokoh mengenai keharusan munculnya al-Mahdi yang dijanjikan. Beliaulah yang merealisasikan tujuan-tujuan para nabi dan risalah yang mereka sampaikan serta mewujudkan harapan-harapan manusia. Kondisi kejiwaan seperti ini memunculkan reaksi dalam bentuk sebuah gerakan dan perbuatan yang berporos pada persiapan dan upaya kelayakan untuk kemunculan sang juru penyelamat yang dinanti-nantikan.

Melalui penjelasan di atas, jelaslah penantian tidak dianggap benar jika tidak terkumpul tiga unsur yang berkaitan satu sama lain, yaitu keyakinan, kejiwaan, dan spiritualitas. Jika tidak memiliki ketiga unsur tersebut, maka penantian tidak memberi makna apa pun dari sebuah keimanan yang benar kecuali sebuah angan-angan yang dibangun berdasarkan logika Bani Israil yang mengatakan, “Pergilah engkau bersama tuhanmu dan berperanglah sementara kami duduk menanti di sini.” (QS. Al-Maidah [5]:24)


Dua Bentuk Penantian

Menanti kemunculan Imam Mahdi ada dua bentuk. Pertama, penantian konstruktif yang menimbulkan sebuah gerakan dan pelaksanaan. Penantian semacam ini adalah ibadah bahkan ibadah paling afdhal. Kedua, penantian destruktif yang mencegah manusia untuk berbuat. Penantian seperti ini adalah salah satu bentuk ketidakpedulian.

Kedua bentuk penantian tersebut merupakan hasil dari pemahaman esensi kemunculan sejarah besar bagi Imam Mahdi yang dijanjikan. Sebagian menafsirkan bahwa masalah kemahdian dan kebangkitan yang dijanjikan adalah sebuah bentuk luapan tidak lebih. Hal itu muncul karena tersebarnya kezaliman, rasialis, perampasan hak-hak, dan kerusakan.

Dengan masalah kemahdian dan kebangkitan yang dijanjikan, terjadi sebuah luapan munculnya tangan-tangan gaib untuk mengangkat kebenaran. Dengan demikian, salah satu bentuk bantuan yang dapat dilakukan oleh manusia untuk mempercepat kemunculan Al-Mahdi dan merupakan bentuk terbaik dari sebuah penantian adalah (ketidakpedulian terhadap) penyebaran kerusakan.

Akan tetapi, dari ayat-ayat al-Quran dapat disimpulkan bahwa kemunculan Imam Mahdi yang dijanjikan merupakan satu bentuk upaya di antara upaya-upaya pejuang kebenaran melawan pengikut-pengikut kebatilan yang berakhir pada kemenangan mutlak pembela kebenaran. Keikutsertaan manusia untuk dapat mencapai kebahagiaan seperti ini sangat bergantung pada peran aktif mereka dan upaya penggabungan diri di barisan para pembela-pembela kebenaran.

Dari riwayat-riwayat Islam, dapat dipahami bahwa kemunculan al-Mahdi dibarengi dengan pertentangan antara kebahagiaan dan kesengsaraan pada taraf puncak. Namun, yang dimaksudkan dalam hal ini bukanlah kebahagiaan telah dihancurkan oleh kesengsaraan. Hadis-hadis yang membicarakan tentang sifat-sifat dari para pembela kebenaran yang bergabung dengan Imam sebelum kemunculannya.

Meskipun kita gambarkan bahwa mereka memiliki jumlah yang sangat sedikit, tetapi dari sisi kualitas mereka adalah orang-orang mukmin terbaik yang telah mencapai tingkatan para penolong sayyid asy-syuhada (pemimpin para syahid) Imam Husain as. Begitu pula banyak hadis yang membicarakan persiapan untuk revolusi Imam Mahdi dengan serangkaian perlawanan yang dilakukan oleh para pembela kebenaran.

Begitu pula sebagian dari riwayat tersebut juga membicarakan mengenai pemerintahan yang didirikan oleh para pembela kebenaran dan pemerintahan itu akan terus berlangsung hingga munculnya revolusi besar dunia melalui Imam Mahdi as.

Dari penjelasan di atas, jelas bahwa dalam penantian yang diinginkan oleh syariat ada sejumlah persyaratan yang tanpa persyaratan tersebut penantian tidak terealisir seperti kewajiban-kewajiban penting yang harus dilakukan pada masa kegaiban.


Syarat-Syarat Penantian

Kita dapat menyebutkan beberapa syarat-syarat penantian secara global. Syarat-syarat tersebut juga mengandung penjelasan hal-hal yang harus dilakukan oleh seorang mukmin sehingga dapat disebut sebagai para penanti sesungguhnya (muntazhir). Syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut.

Pertama, Memperdalam pengetahuan tentang Imam Mahdi-semoga Allah mempercepat kemunculannya - keimanan pada imamahnya, menegakkan tugas-tugas pentingnya, mengenal perannya dalam sejarah dan sisinya, kewajiban-kewajiban yang ada di dalamnya serta peran mukmin terhadap kewajiban tersebut.

Selain itu, menguatkan hubungan dengannya dan mengukuhkan kaitan terhadap perannya dalam sejarah. Hal yang juga patut untuk dilakukan oleh seorang mukmin adalah memperkokoh keyakinan bahwa kemunculannya sangat mungkin terjadi sewaktu-waktu. Hal ini mengharuskan seorang mukmin untuk selalu siap menyambut kedatangannya sewaktu-waktu.

Kedua, Menguatkan keikhlasan di berbagai bentuk aplikasi penantian terhadap Imam Zaman dan menyucikan dirinya dari berbagai kepentingan-kepentingan dan tujuan-tujuan materi maupun pribadi. Seorang penanti sejati hendaknya menjadikan seluruh amal persiapan dirinya dengan penuh keikhlasan pada Allah Swt, dengan niat beribadah dan upaya mencapai keridhaan-Nya. Dengan hal tersebut, maka penantian menjadi ibadah paling afdhal.

Ketiga, Upaya pembenahan diri dan persiapannya secara sempurna untuk membantu perjuangan Imam as melalui kesungguhan dalam berpegang teguh pada tsaqalain (al-Quran dan keluarga Nabi) dan berakhlak dengan keduanya sehingga dengan hal-hal tersebut seorang mukmin benar-benar menjadi pengikut Imam Mahdi as. Dengan terpenuhinya syarat-syarat kepribadian, ketuhanan, dan perjuangan, seorang mukmin mampu menjadi penolong Imam dalam merealisasikan tujuan-tujuan beliau.

Keempat, Mengupayakan sebuah gerakan pada tingkatan sosial guna mempersiapkan kemunculan Imam Mahdi as dengan cara mengajak manusia kembali pada agama Allah yang benar, mendidik para pembela Imam, dan memberikan kabar gembira dengan adanya revolusi besarnya.

Berdasarkan penjelasan di atas, jelaslah bahwa penantian yang sesungguhnya mengandung gerakan membangun dan berkesinambungan dalam kerangka persiapan kemunculan sang Juru Selamat yang dinanti-nantikan baik secara pribadi maupun sosial meskipun menghadapi kondisi yang tidak kondusif atau sangat sulit.





Imam Khomeini —semoga Allah menyucikan ruhnya— di akhir penjelasannya yang disampaikan dalam sebuah peringatan Nishfu Sya`ban sebelum beliau wafat berkata, “Salam sejahtera baginya (Imam Mahdi yang dijanjikan), salam sejahtera bagi para penantinya yang sesungguhnya, salam sejahtera baginya dalam kegaiban maupun kemunculannya, salam sejahtera bagi orang-orang yang menjumpai masa kemunculannya dengan hakikat yang sesungguhnya yang menghilangkan dahaganya melalui cawan hidayah dan pengetahuannya, salam sejahtera bagi bangsa Iran yang besar yang mempersiapkan kemunculannya dengan berbagai pengorbanan dan kesyahidan….” (Shahife-Nur, hal.21)[]

Disarikan dan diolah kembali oleh Arif Mulyadi dari buku “Imam Mahdi” karya Kamal Seyyed.
sumber : icc-jakarta.com






Download Musik-live Player untuk mendengar lagu lagu/nasyid dan lain lain(cinta rasul)

Hak cipta dilindungi oleh Allohu Subhanahu wa Ta'ala
TIDAK DILARANG KERAS mengcopy, memperbanyak, mengedarkan
untuk kemaslahatan ummat syukur Alhamdulillah sumber dari swaramuslim dicantumkan
Posted Image

http://www.globalunification.com/associatesASIA001.php
http://www.hi5.com/friend/profile/displayP...userid=24171023
http://www.mesra.net/forum/index.php?act=ST&f=32&t=49475
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
zarith
Member Avatar
Ibu
[ * ]
[size=7]PERKONGSIAN ILMU BUAT RENUNGAN BERSAMA[/size]
Posted Image





Posted Image

[size=7]BAGIAN PERTAMA[/size]


SUMBER NILAI ISLAM

Ketika Rasulullah saw mengutus Mu'adz bin Jabal ke Yaman, beliau bertanya kepada Mu'adz, " Dengan pedoman apa anda memutuskan suatu urusan ?".

Jawab Mu'adz : Dengan Kitabullah.

Tanya Rasul : Kalau tidak ada dalam al Qur'an ?

Jawab Mu'adz : Dengan Sunnah Rasulullah.

Tanya Rasul : Kalau dalam Sunnah juga tidak ada?

Jawab Mu'adz :Saya berijtihad dengan fikiran saya.

Tanya Rasul : Maha Suci Allah yg telah memberikan bimbingan kepada utusan Rasul-NYA, dengan satu sikap yg disetujui Rasul-NYA ( HR. Abu Dawud dan Tarmudzi).



Dari peristiwa ini dapt diambil kesimpulan tentang nilai dan sumber nilai Islam, yaitu al-Qur'an, Sunnah dan ijtihad. Ayat-ayat al-Qur'an yg mendukung bahwa al-Qur'an, as-Sunnah, dan ijtihad merupakan nilai dan sumber nilai seorang Muslim, dapat kita temukan dalam banyak surat.

Kesimpulan lain yang dapat diambil dari peristiwa tsb. diatas ialah bahwa penggunaan tiga sumber nilai itu hendaknya; diprioritaskan yg pertama, kemudian yang kedua dan selanjutnya baru yang ketiga. Konsekwensiny adalah apabila bertentangan satu dengan yg lain, maka hendaknya dipilih al-Qur'an terlebih dahulu, kemudian yg kedua al-Hadits.

Yg perlu dicatat adalah bahwa, sekalipun ketiga-tiganya adalah sumber nilai, akan tetapi antara satu dengan yg lainnya mempunyai tingkat kualitas dan bobot yg berbeda-beda dengan pengaruh hukum yg berbeda-beda pula, namun harus tetap berpokok pada yg pertama.


akan bersambung lagi...Insya Allah
Posted Image

http://www.globalunification.com/associatesASIA001.php
http://www.hi5.com/friend/profile/displayP...userid=24171023
http://www.mesra.net/forum/index.php?act=ST&f=32&t=49475
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
zarith
Member Avatar
Ibu
[ * ]
[size=7]PERKONGSIAN ILMU BUAT RENUNGAN BERSAMA[/size]
Posted Image





Posted Image


[size=7]A. AL-QUR'AN[/size]


1. Fungsi dan Peranan al-Qur'an


Al-Qur’an adalah wahyu Allah ( 7:2 ) yang berfungsi sebagai mu’jizat bagi Rasulullah Muhammad saw ( 17:88; 10:38 ) sebagai pedoman hidup bagi setiap Muslim ( 4:105; 5:49,50; 45:20 ) dan sebagai korektor dan penyempurna terhadap kitab-kitab Allah yang sebelumnya ( 5:48,15; 16:64 ), dan bernilai abadi.

Sebagai mu’jizat, Al-Qur’an telah menjadi salah satu sebab penting bagi masuknya orang-orang Arab di zaman Rasulullah ke dalam agama Islam, dan menjadi sebab penting pula bagi masuknya orang-orang sekarang, dan ( insya Allah) pada masa-masa yang akan datang. Ayat-ayat yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan dapat meyakinkan kita bahwa Al-Qur’an adalah firman-firman Allah, tidak mungkin ciptaan manusia apalagi ciptaan Nabi Muhammad saw yang ummi (7:158) yang hidup pada awal abad ke enam Masehi (571 – 632 M). Diantara ayat-ayat tersebut umpamanya : 39:6; 6:125; 23:12,13,14; 51:49; 41:11-41; 21:30-33; 51:7,49 dan lain-lain.

Demikian juga ayat-ayat yang berhubungan dengan sejarah seperti tentang kekuasaan di Mesir, Negeri Saba’. Tsamud, ’Ad, Yusuf, Sulaiman, Dawud, Adam, Musa dan lain-lain dapat memberikan keyakinan kepada kita bahwa Al-Qur’an adalah wahyu Allah bukan ciptaan manusia. Ayat-ayat yang berhubungan dengan ramalan-ramalan khusus yang kemudian dibuktikan oleh sejarah seperti tentang bangsa Romawi, berpecah-belahnya Kristen dan lain-lain juga menjadi bukti lagi kepada kita bahwa Al-Qur’an adalah wahyu Allah SWT. (30:2,3,4;5:14).

Bahasa Al-qur’an adalah mu’jizat besar sepanjang masa, keindahan bahasa dan kerapihan susunan katanya tidak dapat ditemukan pada buku-buku bahasa Arab lainnya. Gaya bahasa yang luhur tapi mudah dimengerti adalah merupakan ciri dari gaya bahasa Al-Qur’an. Karena gaya bahasa yang demikian itulah ‘Umar bin Khattab masuk Islam setelah mendengar Al-Qur’an awal surat Thaha yang dibaca oleh adiknya Fathimah. Abul Walid, diplomat Quraisy waktu itu, terpaksa cepat-cepat pulang begitu mendengar beberapa ayat dari surat Fushshilat yang dikemukakan Rasulullah sebagai jawaban atas usaha-usaha bujukan dan diplomasinya.

Bahkan Abu Jahal musuh besar Rasulullah, sampai tidak jadi membunuh Nabi karena mendengar surat adh-Dhuha yang dibaca Nabi. Tepat apa yang dinyatakan Al-Qur’an, bahwa sebab seorang tidak menerima kebenaran Al-Qur’an sebagai wahyu Ilahi adalah salah satu diantara dua sebab, yaitu :

a. Tidak berpikir dengan jujur dan sungguh-sungguh.

b. Tidak sempat mendengar dan mengetahui Al-Qur’an secara baik (67:10, 4:82). Oleh Al-Qur’an disebut Al-Maghdhub ( dimurkai Allah ) karena tahu kebenaran tetapi tidak mau menerima kebenaran itu, dan disebut adh-dhollin ( orang sesat ) karena tidak menemukan kebenaran itu. Sebagai jaminan bahwa Al-Qur’an itu wahyu Allah, maka Al-Qur’an sendiri menantang setiap manusia untuk membuat satu surat saja yang senilai dengan Al-Qur’an (2:23, 24, 17:88). Sebagai pedoman hidup, Al-Qur’an banyak mengemukakan pokok-pokok serta prinsip-prinsip umum pengaturan hidup dalam hubungan antara manusia dengan Allah dan mahluq lainnya.

Didalamnya terdapat peraturan-peraturan seperti : beribadah langsung kepada Allah (2:43,183,184,196,197; 11:114), berkeluarga (4:3, 4,15,19,20,25; 2:221; 24:32; 60:10,11), bermasyarakat ( 4:58; 49:10,13; 23:52; 8:46; 2:143), berdagang (2:275,276,280; 4:29), utang-piutang (2:282), kewarisan (2:180; 4:7-12,176; 5:106), pendidikan dan pengajaran (3:159; 4:9,63; 31:13-19; 26:39,40), pidana (2:178; 4:92,93; 5:38; 10:27; 17:33; 26:40), dan aspek-aspek kehidupan lainnya yang oleh Allah dijamin dapat berlaku dan dapat sesuai pada setiap tempat dan setiap waktu (7:158; 34:28; 21:107).

Setiap Muslim diperintahkan untuk melakukan seluruh tata nilai tersebut dalam kehidupannya (2:208; 6:153; 9:51). Dan sikap memilih sebagian dan menolak sebagian tata nilai itu dipandang Al-Qur’an sebagai bentuk pelanggaran dan dosa (33:36). Melaksanakannya dinilai ibadah (4:69; 24:52; 33:71), memperjuangkannya dinilai sebagai perjuangan suci (61:10-13; 9:41), mati karenanya dinilai sebagai mati syahid (3:157, 169), hijrah karena memperjuangkannya dinilai sebagai pengabdian yang tinggi (4:100, 3:195), dan tidak mau melaksanakannya dinilai sebagai zhalim, fasiq, dan kafir (5:44,45,47).

Sebagai korektor Al-Qur’an banyak mengungkapkan persoalan-persoalan yang dibahas oleh kitab-kitab Taurat, Injil, dan lain-lain yang dinilai Al-Qur’an sebagai tidak sesuai dengan ajaran Allah yang sebenarnya. Baik menyangkut segi sejarah orang-orang tertentu, hukum-hukum,prinsip-prinsip ketuhanan dan lain sebagainya. Sebagai contoh koreksi-koreksi yang dikemukakan Al-Qur’an tersebut antara lain sebagai berikut :

a. Tentang ajaran Trinitas (5:73).

b. Tentang Isa (3:49, 59; 5:72, 75).

c. Tentang penyaliban Nabi Isa (4:157,158).

d. Tentang Nabi Luth (29:28-30; 7:80-84) perhatikan, (Genesis : 19:33-36).

e. Tentang Harun (20:90-94), perhatikan, (keluaran : 37:2-4).

f. Tentang Sulaiman (2:102; 27:15-44), perhatikan (Raja-raja 21:4-5) dan lain-lain.



2. Sejarah Kodifikasi dan Perkembangannya

Allah akan menjamin kemurnian dan kesucian Al-Qur’an, akan selamat dari usaha-usaha pemalsuan, penambahan atau pengurangan-pengurangan. (15:9;75:17-19). Dalam catatan sejarah dapat dibuktikan bahwa proses kodifikasi dan penulisan Qur’an dapat menjamin kesuciannya secara meyakinkan. Qur’an ditulis sejak Nabi masih hidup. Begitu wahyu turun kepada Nabi, Nabi langsung memerintahkan para sahabat penulis wahyu untuk menuliskannya secara hati-hati. Begitu mereka tulis, kemudian mereka hafalkan sekaligus mereka amalkan.

Pada awal pemerintahan khalifah yang pertama dari Khulafaur Rasyidin, yaitu Abu Bakar Shiddiq, Qur’an telah dikumpulkan dalam mushhaf tersendiri. Dan pada zaman khalifah yang ketiga, ‘Utsman bin ‘Affan, Qur’an telah sempat diperbanyak. Alhamdulillah Qur’an yang asli itu sampai saat ini masih ada.

Dalam perkembangan selanjutnya, tumbuh pula usaha-usaha untuk menyempurnakan cara-cara penulisan dan penyeragaman bacaan, dalam rangka menghindari adanya kesalahan-kesalahan bacaan maupun tulisan. Karena penulisan Qur’an pada masa pertama tidak memakai tanda baca (tanda titik dan harakat). Maka Al-Khalil mengambil inisiatif untuk membuat tanda-tanda yang baru,yaitu huruf waw yang kecil diatas untuk tanda dhammah, huruf alif kecil diatas sebagai tanda fat-hah, huruf alif yang kecil dibawah untuk tanda kasrah, kepala huruf syin untuk tanda shiddah, kepala ha untuk sukun, dan kepala ‘ain untuk hamzah.

Kemudian tanda-tanda ini dipermudah, dipotong, dan ditambah sehingga menjadi bentuk yang sekarang ada. Dalam perkembangan selanjutnya tumbuhlah beberapa macam tafsir Qur’an yang ditulis oleh ulama Islam, yang sampai saat ini tidak kurang dari 50 macam tafsir Qur’an. Juga telah tumbuh pula berbagai macam disiplin ilmu untuk membaca dan membahas Qur’an.



3. Ilmu-ilmu yang Membahas Hal-hal yang Berhubungan dengan al-Qur'an antara lain :

a. Ilmu Mawathin Nuzul, yaitu ilmu yang membahas tentang tempat-tempat turunnya ayat Qur’an.

b. Ilmu Asbabun Nuzul, yaitu ilmu yang membahas sebab-sebab turunnya ayat Al-qur’an.

c. Ilmu Tajwid, yaitu ilmu yang membahas tentang teknik membaca Al-Qur’an.

d. Gharibil Qur’an, yaitu ilmu yang membahas tentang kalimat-kalimat yang asing artinya dalam Al-Qur’an.

e. Ilmu Wajuh wa Nadhar, yaitu ilmu yang membahas tentang kalimat yang mempunyai banyak arti dan makna apa yang dikehendaki oleh sesuatu ayat dalam Al-Qur’an.

f. Ilmu Amtsalil Qur’an, yaitu ilmu yang membahas tentang perumpamaan-perumpamaan dalam Al-Qur’an.

g. Ilmu Aqsamil Qur’an, yaitu ilmu yang mempelajari tentang maksud-maksud sumpah Tuhan dalam Al-Qur’an.

h. Dan masih banyak lagi.



4. Pembagian Isi al-Qur'an

Al-Qur’an terdiri dari 114 surat; 91 surat turun di Makkah dan 23 surat turun di Madinah. Ada pula yang berpendapat, 86 turun di Makkah, dan 28 di Madinah. Surat yang turun di Makkah dinamakan Makkiyyah, pada umumnya suratnya pendek-pendek, menyangkut prinsip-prinsip keimanan dan akhlaq, panggilannya ditujukan kepada manusia.

Sedangkan yang turun di Madinah disebut surat Madaniyyah, pada umumnya suratnya panjang-panjang, menyangkut peraturan-peraturan yang mengatur hubungan seseorang dengan Tuhan atau seseorang dengan lainnya ( syari’ah ). Diperkirakan 19/30 turun di Madinah. Atas inisiatif para ulama maka kemudian Al-Qur’an dibagi-bagi menjadi 30 juz. Dalam tiap juz dibagi-bagi kepada setengah juz, seperempat juz, maqra dan lain-lain.



5. Nama-nama al-Qur'an

Al-Kitab = Tulisan yang Lengkap ( 2:2 ).

Al-furqan = Memisahkan yang Haq dari yang Bathil ( 25:1 ).

Al-Mau’idhah =Nasihat ( 10:57 ).

Asy-Syifa’ = Obat ( 10:57 ).

Al-Huda = Yang Memimpin ( 72:13 ).

Al-Hikmah = Kebijaksanaan ( 17:39 ).

Al-Hukmu = Keputusan ( 13:37 ).

Al-Khoir = Kebaikan ( 3:103 ).

Adz-Dzikru = Peringatan ( 15:9 ).

Ar-Ruh = Roh ( 42:52 ).

Al-Muthohharoh = Yang Disucikan ( 80:14 ).




6. Nama-nama Surat Berdasarkan Urutan Turunnya.

a. Makkiyah.

Al-‘Alaq, Al-Qalam, Al-Muzammil, Al-Muddatstsir, Al-Fatihah, Al-Masad (Al-Lahab), At-Takwir, Al-A’la, Al-Lail, Al-Fajr, Adh-Dhuha, Alam Nasyrah (Al-Insyirah), Al-‘Ashr, Al-‘Adiyat, Al-Kautsar, At-Takatsur, Al-Ma’un, Al-Kafirun, Al-Fil, Al-Falaq, An-Nas, Al-Ikhlas, An-Najm, ‘Abasa, Al-Qadar, Asy-Syamsu, Al-Buruj, At-Tin, Al-Quraisy, Al-Qari’ah, Al-Qiyamah, Al-Humazah, Al-Mursalah, Qaf, Al-Balad, Ath-Thariq, Al-Qamar, Shad, Al-A’raf, Al-Jin, Yasin, Al-furqan, Fathir, Maryam, Thaha, Al-Waqi’ah, Asy-Syu’ara, An-Naml, Al-Qashash, Al-Isra, Yunus, Hud, Yusuf, Al-Hijr, Al-An’am, Ash-Shaffat, Lukman, Saba’, Az-Zumar, Ghafir, Fushshilat, Asy-Syura, Az-Zukhruf, Ad-Dukhan, Al-Jatsiyah, Al-Ahqaf, Adz-Dzariyah, Al-Ghasyiah, Al-Kahf, An-Nahl, Nuh, Ibrahim, Al-Anbiya, Al-Mu’minun, As-Sajdah, Ath-Thur, Al-Mulk, Al-Haqqah, Al-Ma’arij, An-Naba’, An-Nazi’at, Al-Infithar, Al-Insyiqaq, Ar-Rum, Al-Ankabut, Al-Muthaffifin, Az-Zalzalah, Ar-Ra’d, Ar-Rahman, Al-Insan, Al-Bayyinah.

Turunnya surah-surah Makkiyyah lamanya 12 tahun, 5 bulan, 13 hari, dimulai pada 17 Ramadhan 40 tahun usia Nabi. ( Febr.610 M ).

b. Madaniyyah.

Al-Baqarah, Al-Anfal, Ali-Imran, Al-Ahzab, Al-Mumtahanah, An-Nisa’, Al-Hadid, Al-Qital, Ath-Thalaq, Al-Hasyr, An-Nur, Al-Haj, Al-Munafiqun, Al-Mujadalah, Al-Hujurat, At-Tahrim, At-Taghabun, Ash-Shaf, Al-Jum’at, Al-Fath, Al-Maidah, At-Taubah dan An-Nashr (1).



7. Susunan Al-Qur'an dalam Sistematika yang ada Sekarang.

Al-Fatihah, Al-Baqarah, Ali-Imran, An-Nisaa’, Al-Maa-idah, Al-An’aam, Al-A’raaf, Al-Anfaal, At-Taubah, Yunus, Hud, Yusuf, Ar-Ra’d, Ibrahim, Al-Hijr, An-Nahl, Al-Isra’, Al-Kahfi, Maryam, Thaha, Al-Anbiyaa’, Al-Hajj, Al-Mu’minun, An-Nuur, Al-Furqaan, Asy-Syu’ara’, An-Naml, Al-Qashash, Al-Ankabut, Ar-Ruum, Luqman, As-Sajadah, Al-Ahzab, Saba’, Faathir, Yaa Siin, Ash-Shaffaat, Shaad, Az-Zumar, Al-Mu’min, Fushshilat, Asy-Syuura, Az-Zukhruf, Ad-Dukhaan, Al-Jaatsiyah, Al-Ahqaaf, Muhammad, Al-Fat-h, Al-Hujurat, Qaaf, Adz-Dzaariyaat, Ath-Thuur, An-Najm, Al-Qamar, Ar-Rahmaan, Al-Waaqi’ah, Al-Hadiid, Al-Mujaadilah, Al-Hasyr, Al-Mumtahanah, Ash-Shaff, Al-Jumu’ah, Al-Munaafiquun, At-Taghaabun, Ath-Thalaq, At-Tahrim, Al-Mulk, Al-Qalam, Al-Haaqqah, Al-Ma’aarij, Nuh, Al-Jin, Al-Muzzammil, Al-Muddatstsir, Al-Qiyaamah, Al-Insaan, Al-Mursalaat, An-Naba’, An-Naazi’aat, ‘Abasa, At-Takwiir, Al-Infithar, Al-Muthaffifiin, Al-Insyiqaaq, Al-Buruuj, Ath-Thaariq, Al-A’laa, Al-Ghaasyiyah,Al-Fajr, Al-Balad, Asy-Syams, Al-Lail, Adh-Dhuhaa, Alam Nasyrah, At-Tiin, Al-‘Alaq, Al-Qadar, Al-Bayyinah, Al-Zalzalah, Al-‘Aadiyaat, Al-Qaari’ah, At-Takaatsur, Al-‘Ashr, Al-Humazah, Al-Fiil, Al-Quraisy, Al-Maa’un, Al-Kautsar, Al-Kaafiruun, An-Nashr, Al-Lahab, Al-Ikhlash, Al-Falaq, An-Naas.






akan bersambung lagi...Insya Allah
Posted Image

http://www.globalunification.com/associatesASIA001.php
http://www.hi5.com/friend/profile/displayP...userid=24171023
http://www.mesra.net/forum/index.php?act=ST&f=32&t=49475
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
zarith
Member Avatar
Ibu
[ * ]
[size=7]PERKONGSIAN ILMU BUAT RENUNGAN BERSAMA[/size]
Posted Image





Posted Image



[size=7]B. AS-SUNNAH / AL-HADITS[/size]



1. Dasar Pengertian.

Secara etimologis hadits bisa berarti :

Baru, seperti kalimat : “ Allah Qadim mustahil Hadits “. Dekat, seperti : “ Haditsul “ ahli bil Islam “. Khabar, seperti : “Falya’tu bi haditsin mitslihi “.

Dalam tradisi hukum Islam, hadits berarti : Segala Perbuatan, Perkataan, dan Keizinan Nabi Muhammad saw. ( Af ’al, Aqwal dan Taqrir ). Pengertian hadits sebagaimana tersebut diatas adalah identik dengan Sunnah, yang secara etimologis berarti jalan atau tradisi, sebagaimana dalam Al-Qur’an : “ Sunnata man qad arsalna “ ( al-Isra :77 ). Juga dapat berarti : Undang-undang atau peraturan yang tetap berlaku; Cara yang diadakan; Jalan yang telah dijalani;.

Ada yang berpendapat antara Sunnah dengan Hadits tersebut adalah berbeda-beda. Akan tetapi dalam kebiasaan hukum Islam antara Hadits dan Sunnah tersebut hanyalah berbeda dalam segi penggunaannya saja, tidak dalam tujuannya.



2. As-Sunnah Sebagai Sumber Nilai.

Sunnah adalah sumber Hukum Islam ( Pedoman Hidup Kaum Muslimin ) yang kedua setelah Al-Qur’an. Bagi mereka yang telah beriman kepada Al-Qur’an sebagai sumber hukum, maka secara otomatis harus percaya bahwa Sunnah sebagai sumber Islam juga.

Ayat-ayat Al-Qur’an cukup banyak untuk dijadikan alasan yang pasti tentang hal ini, seperti : Setiap mu’min harus taat kepada Allah dan Rasul-nya ( al-Anfal :20, Muhammad :33, an-Nisa :59, Ali-Imran :32, al-Mujadalah : 13, an-Nur : 54,al-Maidah : 92 ). Kepatuhan kepada Rasul berarti patuh dan cinta kepada Allah ( an-Nisa :80, Ali-Imran :31 ). Orang yang menyalahi Sunnah akan mendapatkan siksa ( an-Anfal :13, Al-Mujadalah :5, an-Nisa :115 ). Berhukum terhadap Sunnah adalah tanda orang yang beriman. ( an-Nisa’:65 ). Kemudian perhatikan ayat-ayat : an-Nur : 52; al-Hasyr : 4; al-Mujadalah : 20; an-Nisa’: 64 dan 69; al-Ahzab: 36 dan 71; al-Hujurat :1; al-Hasyr : 7 dan sebagainya.

Apabila Sunnah tidak berfungsi sebagai sumber hukum, maka kaum Muslimin akan menghadapi kesulitan-kesulitan dalam hal : cara shalat, kadar dan ketentuan zakat, cara haji dan lain sebagainya. Sebab ayat-ayat Al-Qur’an dalam hal tersebut hanya berbicara secara global dan umum, dan yang menjelaskan secara terperinci justru Sunnah Rasullullah. Selain itu juga akan mendapatkan kesukaran-kesukaran dalam hal menafsirkan ayat-ayat yang musytarak, muhtamal dan sebagainya yang mau tidak mau memerlukan Sunnah untuk menjelaskannya. Dan apabila penafsiran-penafsiran tersebut hanya didasarkan kepada pertimbangan rasio sudah barang tentu akan melahirkan tafsiran-tafsiran yang sangat subjektif dan tidak dapat dipertanggungjawabkan.


3. Hubungan As-Sunnah dan Al-Qur'an.

Dalam hubungan dengan Al-Qur’an, maka as-Sunnah berfungsi sebagai penafsir, pensyarah, dan penjelas daripada ayat-ayat tertentu. Apabila disimpulkan tentang fungsi as-Sunnah dalam hubungan dengan Al-Qur’an itu adalah sebagai berikut :

a. Bayan Tafsir, yaitu menerangkan ayat-ayat yang sangat umum, mujmal dan musytarak. Seperti hadits : “ Shallu kama ro-aitumuni ushalli “. ( Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihatku shalat ) adalah merupakan tafsiran daripada ayat Al-Qur’an yang umum, yaitu : “ Aqimush- shalah “, ( Kerjakan shalat ). Demikian pula hadits: “ Khudzu ‘anni manasikakum “ ( Ambillah dariku perbuatan hajiku ) adalah tafsir dari ayat Al-Qur’an “ Waatimmulhajja “ ( Dan sempurnakanlah hajimu ).

b. Bayan Taqrir, yaitu as-Sunnah berfungsi untuk memperkokoh dan memperkuat pernyataan al-Qur’an. Seperti hadits yang berbunyi : “ Shoumu liru’yatihiwafthiru liru’yatihi “ ( Berpuasalah karena melihat bulan dan berbukalah karena melihatnya ) adalah memperkokoh ayat Al-Qur’an dalam surat Al-Baqarah : 185.

c. Bayan Taudhih, yaitu menerangkan maksud dan tujuan sesuatu ayat al-Qur’an, seperti pernyataan Nabi : “ Allah tidak mewajibkan zakat melainkan supaya menjadi baik harta-hartamu yang sudah dizakati “, adalah taudhih ( penjelasan ) terhadap ayat Al-Qur’an dalam surat at-Taubah : 34 yang berbunyi sebagai berikut : “ Dan orang-orang yang menyimpan mas dan perak kemudian tidak membelanjakannya dijalan Allah maka gembirakanlah mereka dengan azab yang pedih “. Pada waktu ayat ini turun banyak para sahabat yang merasa berat untuk melaksanakan perintah ini, maka mereka bertanya kepada Nabi yang kemudian dijawab dengan hadits tersebut.



4. Perbedaan Antara Al-Qur'an dan Al-Hadits sebagai Sumber Hukum

Sekalipun al-Qur’an dan as-Sunnah / al-Hadits sama-sama sebagai sumber hukum Islam, namun diantara keduanya terdapat perbedaan-perbedaan yang cukup prinsipil. Perbedaan-perbedaan tersebut antara lain ialah :

a. Al-Qur’an nilai kebenarannya adalah qath’I ( absolut ), sedangkan al-Hadits adalah zhanni ( kecuali hadits mutawatir ).

b. Seluruh ayat al-Qur’an mesti dijadikan sebagai pedoman hidup. Tetapi tidak semua hadits mesti kita jadikan sebagai pedoman hidup. Sebab disamping ada sunnah yang tasyri’ ada juga sunnah yang ghairu tasyri ‘. Disamping ada hadits yang shahih adapula hadits yang dha,if dan seterusnya.

c. Al-Qur’an sudah pasti otentik lafazh dan maknanya sedangkan hadits tidak.

d. Apabila Al-Qur’an berbicara tentang masalah-masalah aqidah atau hal-hal yang ghaib, maka setiap muslim wajib mengimaninya. Tetapi tidak harus demikian apabila masalah-masalah tersebut diungkapkan oleh hadits........



5. Sejarah Singkat Perkembangan Al-Hadits.

Para ulama membagi perkembangan hadits itu kepada 7 periode yaitu :

a. Masa wahyu dan pembentukan hukum ( pada Zaman Rasul : 13 SH – 11 SH ).

b. Masa pembatasan riwayat ( masa khulafaur-rasyidin : 12-40 H ).

c. Masa pencarian hadits ( pada masa generasi tabi’in dan sahabat-sahabat muda : 41 H – akhir abad 1 H ).

d. Masa pembukuan hadits ( permulaan abad II H ).

e. Masa penyaringan dan seleksi ketat ( awal abad III H ) sampai selesai.

f. Masa penyusunan kitab-kitab koleksi ( awal abad IV H sampai jatuhnya Baghdad pada tahun 656 H ).

g. Masa pembuatan kitab syarah hadits, kitab-kitab tahrij dan penyusunan kitab-kitab koleksi yang lebih umum ( 656 H dan seterusnya ).

Pada zaman Rasulullah al-Hadits belum pernah dituliskan sebab :

a. Nabi sendiri pernah melarangnya, kecuali bagi sahabat-sahabat tertentu yang diizinkan beliau sebagai catatan pribadi.

b. Rasulullah berada ditengah-tengah ummat Islam sehingga dirasa tidak sangat perlu untuk dituliskan pada waktu itu.

c. Kemampuan tulis baca di kalangan sahabat sangat terbatas.

d. Ummat Islam sedang dikonsentrasikan kepada Al-Qur’an.

e. Kesibukan-kesibukan ummat Islam yang luar biasa dalam menghadapi perjuangan da’wah yang sangat penting.

Pada zaman-zaman berikutnya pun ternyata al-Hadits belum sempat dibukukan karena sebab-sebab tertentu. Baru pada zaman ‘Umar bin Abdul Azis, khalifah ke-8 dari dinasti Bani Umayyah ( 99-101 H ) timbul inisiatif secara resmi untuk menulis dan membukukan hadits itu. Sebelumnya hadits-hadits itu hanya disampaikan melalui hafalan-hafalan para sahabat yang kebetulan hidup lama setelah Nabi wafat dan pada sa’at generasi tabi’in mencari hadits-hadits itu.

Diantara sahabat-sahabat itu ialah :

Abu Hurairah, meriwayatkan hadits sekitar 5374 buah. Abdullah bin ‘ Umar bin Khattab, meriwayatkan sekitar 2630 buah. Anas bin Malik, meriwayatkan sebanyak 2286 buah. Abdullah bin ‘Abbas, meriwayatkan sebanyak 1160 buah. ‘Aisyah Ummul Mu’minin, meriwayatkan sebanyak 2210 buah. Jabir bin ‘Abdillah meriwayatkan sebanyak 1540 buah. Abu Sa’id al-Hudri meriwayatkan 1170 buah.

Kenapa kemudian Hadits Dikodifikasi.

Kodifikasi Hadits itu justru dilatar belakangi oleh adanya usaha-usaha untuk membuat dan menyebarluaskan hadits-hadits palsu dikalangan ummat Islam, baik yang dibuat oleh ummat Islam sendiri karena maksud-maksud tertentu, maupun oleh orang-orang luar yang sengaja untuk menghancurkan Islam dari dalam. Dan sampai saat ini ternyata masih banyak hadits-hadits palsu itu bertebaran dalam beberapa literatur kaum Muslimin. Di samping itu tidak sedikit pula kesalahan-kesalahan yang berkembang dikalangan masyarakat Islam, berupa anggapan terhadap pepatah-pepatah dalam bahasa Arab yang dinilai mereka sebagai hadits.

Walaupun ditinjau dari segi isi materinya tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip pokok ajaran Islam, tetapi kita tetap tidak boleh mengatakan bahwa sesuatu ucapan itu sebagai ucapan Rasulullah kalau memang bukan sabda Rasul. Sebab Sabda Rasulullah : “ Barangsiapa berdusta atas namaku maka siap-siap saja tempatnya dineraka “.

Alhamdulillah, berkat jasa-jasa dari ulama-ulama yang saleh, hadits-hadits itu kemudian sempat dibukukan dalam berbagai macam buku, serta diadakan seleksi-seleksi ketat oleh mereka sampai melahirkan satu disiplin ilmu tersendiri yang disebut Ilmu Musthalah Hadits. Walaupun usaha mereka belum dapat membendung seluruh usaha-usaha penyebaran hadits-hadits palsu dan lemah, namun mereka telah melahirkan norma-norma dan pedoman-pedoman khusus untuk mengadakan seleksi sebaik-baiknya yang dituangkan dalam ilmu musthalah hadits tersebut.

Sehingga dengan pedoman itu ummat Islam sekarang pun dapat mengadakan seleksi-seleksi seperlunya. Nama-nama Ishak bin Rahawih, Imam Bukhari, Imam Muslim, ar-Rama at-Turmudzi, al-Madini, Ibnu Shalah dan banyak lagi ulama-ulama saleh lainnya adalah rentetan nama-nama yang besar jasanya dalam usaha penyelamatan hadits-hadits dari kepalsuan-kepalsuan sehingga lahirlah ilmu tersebut.

Untuk memberikan gambaran perkembangan hadits dapat kita perhatikan perkembangan kelahiran kitab-kitab hadits dan ilmu-ilmu hadits.



6. Perkembangan Kitab-kitab Hadits

A. Cara penyusunan kitab-kitab hadits.

Dalam penyusunan kitab-kitab hadits para ulama menempuh cara-cara antara lain :

1. Penyusunan berdasarkan bab-bab fiqhiyah, mengumpulkan hadits-hadits yang berhubungan dengan shalat umpamanya dalam babush-shalah,hadits-hadits yang berhubungan dengan masalah wudhu dalam babul-wudhu dan sebagainya. Cara ini terbagi dua macam :

a. Dengan mengkhususkan hadits-hadits yang shahih saja, seperti yang ditempuh oleh Imam Bukhari dan Muslim.

b. Dengan tidak mengkhususkan hadits-hadits yang shahih ( asal tidak munkar ), seperti yang ditempuh oleh Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’I, dan sebagainya.

2. Penyusunan berdasarkan nama-nama sahabat yang meriwayatkannya. Cara ini terbagi dua macam :

a. Dengan menyusun nama-nama sahabat berdasarkan abjad.

b. Dengan menyusun nama-nama sahabat berdasarkan nama qabilah. Mereka dahulukan Banu Hasyim, kemudian qabilah yang terdekat dengan Rasulullah.

c. Dengan menyusun nama-nama sahabat berdasarkan kronologik masuknya Islam. Mereka didahulukan sahabat-sahabat yang termasuk assabiqunal awwalun kemudian ahlul Badr, kemudian ahlul Hudaibiyah, kemudian yang turut hijrah dan seterusnya.

d. Dengan menyusun sebagaimana ketiga dan dibagi-bagi berdasarkan awamir, nawahi, ikhbar, ibadat, dan af’alun nabi. Seperti yang ditempuh oleh Ibnu Hibban dalam shahehnya.

3. Penyusunan berdasarkan abjad-abjad huruf dari awal matan hadits, seperti yang ditempuh oleh Abu Mansur Abdailani dalam Musnadul Firdausi dan oleh as-Suyuti dalam Jamiush-Shagir.

B. Kitab-kitab Hadits Pada Abad ke I H.

1. Ash-Shahifah oleh Imam Ali bin Abi Thalib.

2. Ash-Shadiqah oleh Imam Abdullah bin Amr bin ‘Ash.

3. Daftar oleh Imam Muhammad bin Muslim ( 50 – 124 H ).

4. Kutub oleh Imam Abu Bakar bin Hazmin.

Keempat-empatnya tidak sampai ke tangan kita, jadi hanya berdasarkan keterangan sejarah saja yang dapat dipertanggung-jawabkan.

C. Kitab-kitab Hadits Pada Abad ke-2 H.

1. Al-Musnad oleh Imam Abu Hanifah an-Nu’man ( wafat 150 H ).

2. Al-Muwaththa oleh Imam Malik Anas ( 93 – 179 H ).

3. Al-Musnad oleh Muhammad bin Idris asy-Syafi’I ( 150 – 204 H ).

4. Mukhtaliful Hadits oleh Muh, bin Idris asy-Syafi’I ( 150 – 204 H ).

5. Al-Musnad oleh Imam Ali Ridha al-Katsin ( 148 – 203 H ).

6. Al-Jami’ oleh Abdulrazaq al-Hamam ash Shan’ani ( wafat 311 H ).

7. Mushannaf oleh Imam Syu’bah bin Jajaj ( 80 – 180 H ).

8. Mushannaf oleh Imam Laits bin Sa’ud ( 94 – 175 H ).

9. Mushannaf oleh Imam Sufyan bin ‘Uyaina ( 107 – 190 H ).

10.as-Sunnah oleh Imam Abdurrahman bin ‘Amr al-Auza’i ( wafat 157 H ).

11.as-Sunnah oleh Imam Abd bin Zubair b. Isa al-Asadi.

Seluruh kitab-kitab hadits yang ada pada abad ini tidak sampai kepada kita kecuali 5 buah saja yaitu nomor 1 sampai dengan 5.


6. Perkembangan Kitab-kitab Hadits

D. Kitab-kitab Hadits pada abad ke-3 H.

1. Ash-Shahih oleh Imam Muh bin Ismail al-Bukhari ( 194 – 256 H ).

2. Ash-Shahih oleh Imam Muslim al-Hajjaj ( 204 – 261 H ).

3. As-Sunan oleh Imam Abu Isa at-Tirmidzi ( 209 – 279 H ).

4. As-Sunan oleh Imam Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy’at ( 202 – 275 H ).

5. As-Sunan oleh Imam Ahmad b.Sya’ab an-Nasai ( 215 – 303 H ).

6. As-Sunan oleh Imam Abu Muhammad Abdullah bin Abdurrahman ad Damiri ( 181 – 255 H ).

7. As-Sunan oleh Imam Muhammad bin Yazid bin Majah Ibnu Majah ( 209 - 273 H ).

8. Al-Musnad oleh Imam Ahmad bin Hambal ( 164 – 241 H).

9. Al-Muntaqa al-Ahkam oleh Imam Abd Hamid bin Jarud ( wafat 307 H ).

10. Al-Mushannaf oleh Imam Ibn. Abi Syaibah ( wafat 235 H ).

11. Al-Kitab oleh Muhammad Sa’id bin Manshur ( wafat 227 H ).

12. Al-Mushannaf oleh Imam Muhammad Sa’id bin Manshur ( wafat 227 H ).

13. Tandzibul Afsar oleh Imam Muhammad bin Jarir at-Thobari ( wafat 310 H ).

14. Al-Musnadul Kabir oleh Imam Baqi bin Makhlad al-Qurthubi ( wafat 276 H ).

15. Al-Musnad oleh Imam Ishak bin Rawahaih ( wafat 237 H ).

16. Al-Musnad oleh Imam ‘Ubaidillah bin Musa ( wafat 213 H ).

17. Al-Musnad oleh Abdibni ibn Humaid ( wafat 249 H ).

18. Al-Musnad oleh Imam Abu Ya’la ( wafat 307 H ).

19. Al-Musnad oleh Imam Ibn. Abi Usamah al-Harits ibn Muhammad at-Tamimi ( 282 H ).

20. Al-Musnad oleh Imam Ibnu Abi ‘Ashim Ahmad bin Amr asy-Syaibani ( wafat 287 H ).

21. Al-Musnad oleh Imam Ibnu Abi’amrin Muhammad bin Yahya Aladani ( wafat 243 H ).

22. Al-Musnad oleh Imam Ibrahim bin al-Askari ( wafat 282 H ).

23. Al-Musnad oleh Imam bin Ahmad bin Syu’aib an-Nasai ( wafat 303 H ).

24. Al-Musnad oleh Imam Ibrahim bin Ismail at-Tusi al-Anbari ( wafat 280 H ).

25. Al-Musnad oleh Imam Musaddad bin Musarhadin ( wafat 228 ).

Dan masih banyak sekali kitab-kitab musnad yang ditulis oleh para ulama abad ini.

E. Kitab-kitab Hadits Pada Abad ke-4 H.

1. Al-Mu’jam Kabir, ash-Shagir dan al-Ausath oleh Imam Sulaiman bin Ahmad ath-Thabrani ( wafat 360 H ).

2. As-Sunan oleh Imam Darulkutni ( wafat 385 H ).

3. Ash-Shahih oleh Imam Abu Hatim Muhammad bin Habban ( wafat 354 H ).

4. Ash-Shahih oleh Imam Abu ‘Awanah Ya’qub bin Ishaq ( wafat 316 H ).

5. Ash-Shahih oleh Imam Ibnu Huzaimah Muhammad bin Ishaq ( wafat 311 H ).

6. Al-Muntaqa oleh Imam Ibnu Saqni Sa’id bin’Usman al-Baghdadi ( wafat 353 H ).

7. Al-Muntaqa oleh Imam Qasim bin Asbagh ( wafat 340 H ).

8. Al-Mushannaf oleh Imam Thahawi ( wafat 321 H ).

9. Al-Musnad oleh Imam Ibnu Jami Muhammad bin Ahmad ( wafat 402 H ).

10.Al-Musnad oleh Imam Muhammad bin Ishaq ( wafat 313 H ).

11.Al-Musnad oleh Imam Hawarizni ( wafat 425 H ).

12.Al-Musnad oleh Imam Ibnu Natsir ar-Razi ( wafat 385 H ).

13.Al-Mustadrak ‘ala-Shahihaini oleh Imam Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah al-Hakim an-Naisaburi ( 321 – 405 H ).

F. Tingkatan Kitab Hadits.

Menurut penyelidikan para ulama ahli hadits secara garis besar tingkatan kitab-kitab hadits tersebut bisa dibagi sebagai berikut :

1. Kitab Hadits ash-Shahih yaitu kitab-kitab hadits yang telah diusahakan para penulisnya untuk hanya menghimpun hadits-hadits yang shahih saja.

2. Kitab-kitab Sunan yaitu kitab-kitab hadits yang tidak sampai kepada derajat munkar. Walaupun mereka memasukkan juga hadits-hadits yang dha’if ( yang tidak sampai kepada munkar ). Dan sebagian mereka menjelaskan kedha’ifannya.

3. Kitab-kitab Musnad yaitu kitab-kitab hadits yang jumlahnya sangat banyak sekali. Para penghimpunnya memasukkan hadits-hadits tersebut tanpa penyaringan yang seksama dan teliti. Oleh karena itu didalamnya bercampur-baur diantara hadits-hadits yang shahih, yang dha’if dan yang lebih rendah lagi. Adapun kitab-kitab lain adalah disejajarkan dengan al-Musnad ini. Diantara kitab-kitab hadits yang ada, maka Shahih Bukhari-lah kitab hadits yang terbaik dan menjadi sumber kedua setelah al-Qur’an, dan kemudian menyusul Shahih Muslim. Ada para ulama hadits yang meneliti kitab Muslim lebih baik daripada Bukhari, tetapi ternyata kurang dapat dipertanggungjawabkan, walaupun dalam cara penyusunan hadits-hadits, kitab Muslim lebih baik daripada Bukhari, sedang syarat-syarat hadits yang digunakan Bukhari ternyata tetap lebih ketat dan lebih teliti daripada apa yang ditempuh Muslim. Seperti tentang syarat yang diharuskan Bukhari berupa keharusan kenal baik antara seorang penerima dan penyampai hadits, dimana bagi Muslim hanya cukup dengan muttashil ( bersambung ) saja.



6. Perkembangan Kitab-kitab Hadits- sambung di atas

g. Kitab-kitab Shahih Selain Bukhari Muslim.

Ada beberapa ulama yang telah berusaha menghimpun hadits-hadits shahih sebagaimana yang ditempuh oleh Bukhari dan Muslim, akan tetapi menurut penyelidikan ahli-ahli hadits, ternyata kitab-kitab mereka tidak sampai kepada tingkat kualitas kitab-kitab Bukhari dan Muslim.

Para ulama yang menyusun Kitab Shahih tersebut ialah :

1. Ibnu Huzaimah dalam kitab ash-Shahih.

2. Abu ‘Awanah dalam kitab ash-Shahih.

3. Ibnu Hibban dalam kitab at-Taqsim Walarba.

4. Al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak.

5. Ibnu Jarud dalam kitab al-Muntaqa.

6. Ibnu Abdil Wahid al-Maqdisi dalam kitabnya al-Mukhtarah.

Menurut sebagian besar para ulama hadits, diantara kitab-kitab hadits ada 7 ( tujuh ) kitab hadits yang dinilai terbaik yaitu :

1. Ash-Shahih Bukhari.

2. Ash-Shahih Muslim.

3. Ash-Sunan Abu-Dawud.

4. As-Sunan Nasai.

5. As-Sunan Tirmidzi.

6. As-Sunan Ibnu Majah.

7. Al-Musnad Imam Ahmad.



7. Perkembangan Ilmu Hadits

Ilmu Hadits yang kemudian populer dengan ilmu mushthalah hadits adalah salah satu cabang disiplin ilmu yang semula disusun oleh Abu Muhammad ar-Rama al-Hurmuzi ( wafat 260 ), walaupun norma-norma umumnya telah timbul sejak adanya usaha pengumpulan dan penyeleksian hadits oleh masing-masing penulis hadits.

Secara garis besarnya ilmu hadits ini terbagi kepada dua macam yaitu : ilmu hadits riwayatan dan ilmu hadits dirayatan. Ilmu hadits dirayatan membahas hadits dari segi diterima atau tidaknya, sedang ilmu hadits riwayatan membahas materi hadits itu sendiri. Dalam perkembangan berikutnya telah lahir berbagai cabang ilmu hadits, seperti :

a. Ilmu rijalul hadits, yaitu ilmu yang membahas tokoh-tokoh yang berperan dalam periwayatan hadits.

b. Ilmu jarh wat-ta’dil, yaitu ilmu yang membahas tentang jujur dan tidaknya pembawa-pembawa hadits.

c. Ilmu panilmubhamat, yaitu ilmu yang membahas tentang orang-orang yang tidak nampak peranannya dalam periwayatan suatu hadits.

d. Ilmu tashif wat-tahrif, yaitu ilmu yang membahas tentang hadits-hadits yang berubah titik atau bentuknya.

e. Ilmu ‘ilalil hadits, yaitu ilmu yang membahas tentang penyakit-penyakit yang tidak nampak dalam suatu hadits, yang dapat menjatuhkan kwalitas hadits tersebut.

f. Ilmu gharibil hadits, yaitu ilmu yang membahas tentang kalimat-kalimat yang sukar dalam hadits.

g. Ilmu asbabi wurudil hadits, yaitu ilmu yang membahas tentang sebab timbulnya suatu hadits.

h. Ilmu talfiqil hadits, yaitu ilmu yang membahas tentang cara mengumpulkan hadits yang nampaknya bertentangan.

i. Dan lain-lain.



8. Seleksi Hadits

Dengan menggunakan berbagai macam ilmu hadits itu, maka timbullah berbagai macam nama hadits, yang disepakati oleh para ulama, yang sekaligus dapat menunjukkan jenis, sifat, bentuk, dan kualitas dari suatu hadits. Yang paling penting untuk diketahui adalah pembagian hadits itu atas dasar kualitasnya yaitu :

a. Maqbul ( dapat diterima sebagai pedoman ) yang mencakup hadits shahih dan hadits hasan.

b. Mardud ( tidak dapat diterima sebagai pedoman ) yang mencakup hadits dha’if / lemah dan hadits maudhu’ / palsu.

Usaha seleksi itu diarahkan kepada tiga unsur hadits, yaitu :

a. Matan ( materi hadits ).

Suatu materi hadits dapat dinilai baik apabila materi hadits itu tidak bertentangan dengan al-Qur’an atau hadits lain yang lebih kuat, tidak bertentangan dengan realita, tidak bertentangan dengan fakta sejarah, tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip pokok ajaran Islam. Untuk sekedar contoh dapat kita perhatikan hadits-hadits yang dinilai baik,tapi bertentangan isi materinya dengan al-Qur’an :

1. Hadits yang mengatakan bahwa “ Seorang mayat akan disiksa oleh Tuhan karena ratapan ahli warisnya “, adalah bertentangan dengan firman Allah : “ Wala taziru waziratun wizra ukhra “ yang artinya “ Dan seseorang tidak akan memikul dosa orang lain “ ( al-An’an : 164 ).

2. Hadits yang mengatakan : “ Barangsiapa yang meninggal dunia dalam keadaan punya hutang puasa, maka hendaklah dipuasakan oleh walinya “, adalah bertentangan dengan firman Allah : “ Wa allaisa lil insani illa ma-sa’a “, yang artinya : “ Dan seseorang tidak akan mendapatkan pahala apa-apa kecuali dari apa yang dia kerjakan sendiri “. ( an-Najm : 39 ).

Ada satu norma yang disepakati oleh mayoritas ulama, yaitu : “ Apabila Qur’an dan hadits bertentangan, maka ambillah Qur’an “.

b. Sanad ( persambungan antara pembawa dan penerima hadits ).

Suatu persambungan hadits dapat dinilai segala baik, apabila antara pembawa dan penerima hadits benar-benar bertemu bahkan dalam batas-batas tertentu berguru. Tidak boleh ada orang lain yang berperanan dalam membawakan hadits tapi tidak nampak dalam susunan pembawa hadits itu.

Apabila ada satu kaitan yang diragukan antara pembawa dan penerima hadits, maka hadits itu tidak dapat dimasukkan dalam kriteria hadits yang maqbul.

c. Rawi ( orang-orang yang membawakan hadits ) :

Seseorang yang dapat diterima haditsnya ialah yang memenuhi syarat-syarat :

1. ‘Adil, yaitu orang Islam yang baligh dan jujur, tidak pernah berdusta dan membiasakan dosa.

2. Hafizh, yaitu kuat hafalannya atau mempunyai catatan pribadi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Berdasarkan kriteria-kriteria seleksi tersebut, maka jumhur ( mayoritas ) ulama berpendirian bahwa kitab ash-Shahih Bukhari dan kitab ash-Shahih Imam Muslim dapat dijamin keshahihannya ditinjau dari segi sanad dan rawi. Sedang dari segi matan kita dapat memberikan seleksinya dengan pedoman-pedoman diatas. Beberapa langkah praktis dalam usaha seleksi hadits, apakah sesuatu hadits itu maqbul atau tidak adalah :

1. Perhatikan materinya sesuai dengan norma diatas.

2. Perhatikan kitab pengambilannya ( rowahu = diriwayatkan atau ahrajahu = dikeluarkan ). Apabila matannya baik diriwayatkan oleh Bukhari atau Muslim, maka dapat dinilai hadits itu shahih atau paling rendah hasan.

Dengan demikian dapat dikatakan shahih apabila ujung hadits itu oleh para ulama diberi kata-kata :

a. Diriwayatkan / dikeluarkan oleh jama’ah.

b. Diriwayatkan / dikeluarkan oleh Imam 7.

c. Diriwayatkan / dikeluarkan oleh Imam 6.

d. Diriwayatkan / dikeluarkan oleh dua syaikh ( Bukhari dan Muslim ).

e. Disepakati oleh Bukhari dan Muslim ( Muttafaqun ‘ alaihi ).

f. Diriwayatkan oleh Bukhari saja atau oleh Muslim saja.

g. Diriwayatkan oleh …..dan disyahkan oleh Bukhari atau Muslim.

h. Diriwayatkan oleh …..dengan syarat Bukhari atau Muslim.

3. Apabila sesuatu hadits sudah baik materinya tetapi tidak termasuk dalam persyaratan pun 2 diatas maka hendaknya diperhatikan komentar-komentar ulama terhadap hadits itu seperti :

Komentar baik : Hadits quwat, hadits shahih,hadits jayyid, hadits baik, hadits pilihan dan sebagainya.

Komentar jelek : Hadits putus, hadits lemah, hadits ada illatnya, mauquf, maqthu, mudallas, munkar, munqathi, muallak, dan lain sebagainya.

Dalam hal ini kita akan menemukan sesuatu hadits yang mendapatkan penilaian berbeda / bertentangan antara seorang ulama dan lainnya. Maka langkah kita adalah : dahulukan yang mencela sebelum yang memuji ( “ Al-jarhu Muqaddamun ‘alat ta’dil “ ). Hal ini apabila dinilai oleh sama-sama ahli hadits. Hal lain yang perlu diperhatikan ialah bahwa tidak semua komentar ulama tersebut dapat dipertanggungjawabkan. Artinya sesuatu hadits yang dikatakan oleh para ulama shahih, kadang-kadang setelah diteliti kembali ternyata tidak demikian. Contohnya dalam hadits kita akan menemukan kata-kata dan dishahihkan oleh Imam Hakim, oleh Ibnu Huzaimah dan lain-lain, tetapi ternyata hadits tersebut tidak shahih ( belum tentu shahih ).

4. Apabila langkah-langkah diatas tidak mungkin ditempuh atau belum memberikan kepastian tentang keshahihan sesuatu hadits, maka hendaknya digunakan norma-norma umum seleksi, seperti yang diterangkan diatas, yaitu menyelidiki langsung tentang sejarah para rawi dan lain-lain, dan untuk ini telah disusun oleh para ulama terdahulu sejumlah buku-buku yang membahas tentang sejarah dan keadaan para pembawa hadits, seperti yang pernah dilakukan oleh al-Bukhari dalam bukunya ad-Dhu’afa ( kumpulan orang-orang yang lemah haditsnya ).



9. Masalah Hadits-hadits Palsu ( Maudhu' )

Perpecahan dibidang politik dikalangan ummat Islam yang memuncak dengan peristiwa terbunuhnya ‘ Utsman bin ‘ Affan, Khalifah ke-3 dari khulafa’ur rasyidin, dan bentrok senjata antara kelompok pendukung Ali bin Abi Thalib dan pendukung Mu’awiyah bin Abu Sufyan, telah mempunyai pengaruh yang cukup besar kearah timbulnya usaha-usaha sebagian ummat Islam membuat hadits-hadits palsu guna kepentingan politik. Golongan Syi’ah sebagai pendukung setia kepemimpinan ‘ Ali dan keturunannya yang kemudian tersingkirkan dari kekuasaan politik waktu itu, telah terlibat dalam penyajian hadits-hadits palsu untuk membela pendirian politiknya.

Golongan ini termasuk golongan yang paling utama dalam usaha membuat hadits-hadits palsu yang kemudian disusul oleh banyak kelompok ummat Islam yang tidak sadar akan bahaya usaha-usaha yang demikian. Golongan Rafidhah ( salah satu sekte Syiah ) dinilai oleh sejarah sebagai golongan yang paling banyak membuat hadits-hadits palsu itu. Diantara hadits-hadits palsu yang membahayakan bagi kemurnian ajaran Islam, pertama-tama yalah yang dibuat oleh orang-orang jahat yang sengaja untuk mengotorkan ajaran Islam dan menyesatkan ummatnya.

Kemudian yang kedua yang dibuat oleh ummat Islam sendiri yang maksudnya baik seperti untuk mendorong orang Islam beribadah lebih rajin dan lain sebagainya, tetapi lupa akan dasar yang lebih pokok dan lebih prinsipil dalam agama. Dengan demikian motif-motif pembuatan hadits palsu itu dapat kita simpulkan antara lain sebagai berikut :

a. Karena politik dan kepemimpinan;

b. Karena fanatisme golongan dan bahasa;

c. Karena kejahatan untuk sengaja mengotori ajaran Islam;

d. Karena dorongan untuk berbuat baik tetapi bodoh tentang agama;

e. Karena keanehan-keanehan sejarah dan lain-lain;

f. Karena soal-soal fiqh dan pendapat dalam bidang ilmu kalam;

g. Dan lain-lain.

Keadaan demikian telah mendorong para ulama saleh untuk tampil ke depan berusaha mengadakan seleksi dan koreksi serta menyusun norma-norma dalam memilih hadits-hadits yang baik dan norma-norma dalam memilih hadits-hadits yang palsu. Mereka sempat mengumpulkan sejumlah nama-nama orang yang baik dan sejumlah nama-nama orang yang biasa membuat hadits palsu. Mereka menyusun kitab-kitab khusus yang membahas hadits-hadits yang baik. Untuk mengetahui bahwa sesuatu hadits itu adalah hadits palsu, kita dapat mengenal beberapa ciri-cirinya antara lain :

a. Pengakuan pembuatnya.

Di dalam catatan sejarah sering terjadi para pembuat hadits palsu berterus terang atas perbuatan jahatnya. Baik karena terpaksa maupun karena sadar dan taubat. Abu Ismah Nuh bin Maryam ( bergelar Nuh al-Jami ) telah berterus terang mengakui perbuatannya dalam membuat hadits-hadits palsu yang berhubungan dengan keutamaan-keutamaan surat al-Qur’an. Ia sandarkan hadits-haditsnya itu kepada Ibnu Abbas. Maisarah bin ‘ Abdi Rabbih al-Farisi, juga telah berterus-terang mengakui perbuatannya membuat hadits-hadits palsu tentang keutamaan al-Qur’an dan keutamaan ‘ Ali bin Abi Thalib. Dalam hal ini memang perlu kita catat bahwa tidak semua pengakuan itu lantas harus secara otomatis kita percayai. Sebab mungkin saja pengakuannya itu justru adalah dusta dan palsu.

b. Perawinya sudah terkenal sebagai pembuat hadits-hadits maudhu’, dan hadits atau keterangan lain yang baik / tidak ada sama sekali ( dalam soal yang sama ).

c. Isi atau materinya bertentangan dengan akal pikiran yang sehat. Sebagai contoh hadits-hadits sebagai berikut : “ Sesungguhnya perahu Nuh bertawaf tujuh kali mengelilingi Ka’bah dan shalat di makam Ibrahim dua raka’at “. “ Sesungguhnya Allah tatkala menciptakan huruf, maka bersujudlah ba dan tegaklah alif “

d. Isinya bertentangan dengan ketentuan agama, ‘ aqidah Islam. “ Aku adalah penghabisan Nabi-nabi. Tidak ada Nabi sesudahku kecuali dikehendaki Allah “. “ Alllah menciptakan malaikat dari rambut tangan dan dada “.

e. Isinya bertentangan dengan ketentuan agama yang sudah qath’i seperti hadits-hadits : “ Anak zina tidak masuk sorga hingga tujuh turunan “. “ Barangsiapa yang memperoleh anak , dan kemudian diberi nama Muhammad, maka dia dan anaknya akan masuk sorga “.

f. Isinya mengandung obral pahala dengan amal yang sangat sederhana. Seperti hadits-hadits : “ Barangsiapa membaca La ilaha illallah maka Allah akan menjadikan baginya seekor burung yang mempunyai tujuh puluh lidah. Pada tiap-tiap lidah tujuh puluh ribu bahasa yang memohon ampun kepada Allah untuk orang tersebut “. “ Barangsiapa menafakahkan satu tali untuk mauludku maka aku akan menjadi penolongnya di yaumil qiyamah “.

g. Isinya mengandung kultus-kultus individu. Seperti hadits-hadits : “ Di tengah ummatku kelak akan ada orang yang diberi nama Abu Hanifah an-Nu’man, ia adalah pelita ummatku “. “ Abbas itu adalah wasiatku dan ahli warisku “.

h. Isinya bertentangan dengan fakta sejarah. Seperti hadits-hadits yang menerangkan bahwa nabi pernah diberi semacam buah dari sorga pada sa’at mi’raj. Setelah kembali dari mi’raj kemudian bergaul dengan Khadijah dan lahirlah Fathimah dan seterusnya. Hadits ini bertentangan dengan fakta sejarah sebab mi’raj itu terjadi setelah wafatnya Khadijah dan setelah Fathimah lahir.



10. Contoh-contoh Hadits-hadits Palsu ( Maudhu' ) berdasarkan Motifny
a.

a. Motif Politik dan Kepemimpinan.

“ Apabila kamu melihat Mu’awiyah diatas mimbarku, maka bunuhlah “. “ Orang yang berkepercayaan hanyalah tiga. Aku, Jibril dan Mu’awwiyah “.

b. Motif Zindik ( untuk mengotorkan agama Islam ).

“ Melihat muka yang cantik adalah ‘ ibadah “. “ Rasulullah ditanya : Dari apakah Tuhan kita itu ? Jawabnya : Tuhan itu dari air yang mengalir, bukan dari tanah dan bukan dari langit. Tuhan menciptakan kuda kemudian dijalankannya sampai berkeringat. Maka Allah menciptakan dirinya dari keringat tersebut “.

c. Motif ta’assub dan fanatisme.

“ Sesungguhnya Allah apabila marah , maka menurunkan wahyu dalam bahasa Arab. Dan apabila tidak marah menurunkannya dalam bahasa Parsi “. Dikalangan ummatku akan ada seorang yang bernama Abu Hanifah an-Nu’man. Ia adalah pelita ummatku “. “ Di kalangan ummatku akan ada seorang yang diberi nama Muhammad bin Idris. Ia adalah yang menyesatkan ummatku lebih daripada iblis “.

d. Motif faham-faham fiqh.

“ Barangsiapa mengangkat dua tangannya di dalam shalat maka tidak sah shalatnya “. “ Berkumur dan mengisap air bagi junub tiga kali tiga kali adalah wajib “. “ Jibril mengimamiku di depan Ka’bah dan mengeraskan bacaan bismillah “.

e. Motif senang kepada kebaikan tapi bodoh tentang agama.

“ Barangsiapa menafahkan setali untuk mauludku maka aku akan menjadi penolongnya di yaumil akhir “. Seperti hadits-hadits tentang fadhilah surat-surat Qur’an, obral pahala dan sebagainya.

f. Motif penjilatan kepada pemimpin.

Ghiyas bin Ibrahim an-Nakha’i al-Kufi pernah masuk ke rumah Mahdi ( salah seorang penguasa )yang senang sekali kepada burung merpati. Salah seorang berkata kepadanya, coba terangkan kepada amirul mukminin tentang sesuatu hadits, maka berkatalah Ghiyas ; “ Tidak ada taruhan melainkan pada anak panah, atau unta atau kuda, atau burung “.



11. Persoalan-persoalan yang diterapkan oleh Hadits-hadits Maudhu'.

Untuk menjelaskan persoalan-persoalan tersebut disini penulis kutipkan uraian ustadz Abdul Qadir Hassan dalam buku Ilmu Hadits, Juz 2.

1. Hadits yang menyuruh orang sembahyang pada malam Jum’at 12 raka’at dengan bacaan surat al-Ikhlas 10 kali.

2. Hadits yang memerintahkan orang sembahyang malam Jum’at 2 raka’at dengan bacaan surat Zalzalah 15 kali ( ada juga yang menerangkan 50 kali ).

3. Hadits-hadits sembahyang pada hari Jum’at 2 raka’at, 4 raka’at, dan 12 raka’at.

4. Hadits-hadits sebelum sembahyang Jum’at, ada sembahyang yang 4 raka’at dengan bacaan surat Ikhlas 50 kali.

5. Hadits-hadits sembahyang asyura.

6. Hadits-hadits sembahyang ghaib.

7. Hadits-hadits sembahyang malam dari bulan Rajab.

8. Hadits-hadits sembahyang malam yang ke 27 dari bulan Rajab.

9. Hadits-hadits sembahyang malam nisfu sya’ban 100 raka’at dalam tiap-tiap raka’at 10 kali bacaan surat Ikhlas.

10.Hadits-hadits yang menerangkan hal nabi Khidir dan tentang hidupnya.

11.Hadits-hadits sembahyang hari Ahad, malam Ahad, hari Senin, malam Senin, hari Selasa, malam Selasa, hari Rabu, malam Rabu, hari Kamis, malam Kamis, hari Jum’at, malam Jum’at, hari Sabtu, malam Sabtu.

12.Hadits-hadits yang menerangkan hal-hal yang akan terjadi dengan sebutan : apabila adalah tahun sekian akan terjadi ini dan itu, atau yang berbunyi : Dalam bulan ………….akan…………………………

13.Hadits-hadits yang menerangkan fadhilah-fadhilah surat al-Qur’an dan ganjaran orang yang membacanya dari surat al-Fatihah sampai akhir surat al-Qur’an yang bunyinya : Barangsiapa membaca surat ini ………. akan mendapat ganjaran ……………..

14.Hadits-hadits yang berisi bacaan-bacaan bagi anggota wudhu’.

15.Hadits-hadits yang menerangkan naasnya hari-hari.

16.Hadits-hadits yang di dalamnya ada pujian-pujian kepada orang-orang yang bagus mukanya atau yang ada perintah melihat mereka atau yang ada perintah mencari hajat kita dari mereka atau yang menyebut bahwa mereka tidak disentuh neraka.

17.Hadits-hadits yang berhubungan dengan kejadian akal manusia.

18.Hadits-hadits yang berisi celaan terhadap bangsa Habsyi Sudan dan Turki.

19. Hadits-hadits yang berkenaan dengan burung merpati seperti riwayat :

Adalah Nabi Muhammad saw, sangat suka melihat burung merpati atau riwayat : Peliharalah burung-burung merpati yang sudah dipotong bulunya ini dalam rumah kamu, karena sesungguhnya ia bisa melalaikan jin daripada ( mengganggu ) anak-anak kamu dan sebagainya.

20. Hadits-hadits yang berhubungan dengan ayam seperti hadits yang berbunyi : Ayam itu, kambing bagi orang-orang miskin dari ummatku. Dan yang seumpamanya.

21. Hadits-hadits yang mengandung celaan terhadap anak-anak salah satu diantaranya berbunyi : Kalau salah seorang dari kamu mendidik seekor anak anjing sesudah tahun 160, itu adalah lebih baik daripada ia mengasuh seorang anak laki-laki.

22. Hadits-hadits yang bersifat pujian terhadap Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’i dan hadits-hadits yang mengandung celaan terhadap dua imam itu.

23. Hadits-hadits pujian terhadap orang bujangan ( tidak kawin ).

24. Hadits-hadits yang ada pujian bagi ‘adas, beras, kacang, kuda, terung, delima, kismis, bawang, semangka, keju, bubur, daging, dan lain-lain.

25. Hadits-hadits yang menyebut keutamaan bunga-bungaan.

26. Hadits-hadits yang melarang dan membolehkan main catur.

27. Hadits-hadits yang melarang makan di dalam pasar.

28. Hadits-hadits yang mengandung keutamaan bulan Rajab dan puasa padanya.

29. Hadits-hadits yang mencela sahabat-sahabat Nabi : Mu’awiyah, ‘Amr bin ‘Ash, Bani Umayyah dan Abi Musa.

30. Hadits-hadits yang berisi pujian dan celaan terhadap negeri-negeri Baghdad, Bashrah, Kufah, Asqalam, Iskandariyah dan lain sebagainya.

31.Hadits-hadits tentang keutamaan Mu’awiyah.

32.Hadits-hadits berisi keutamaan-keutamaan bagi ‘ Ali bin Abi Thalib.

33. Himpunan hadits-hadits lemah dan palsu oleh A.Yarid, Qasim Koko.



12. Ceramah-ceramah Agama di tengah-tengah Masyarakat Islam Sampai Sekarang Ini Masih Sering Menyajikan Hadits-hadits Palsu.


Pada peringatan mauludan masih sering sekali terdengar : “ Barangsiapa menafkahkan satu tali untuk mauludku aku akan menolongnya di Yaumil qiyamah “. Pada peringatan Isra dan Mi’raj masih sering pula disajikan dongengan-dongengan yang mencerikan tentang gambaran kendaraan Rasulullah, buraq, digambarkan sebagai berwajah wanita, berbadan seperti kuda, sayapnya paha dan lain sebagainya.

Siratal mustaqim yang terdapat dalam surat al-Fatihah dilukiskan sebagai jembatan yang sangat kecil seperti rambut dibelah tujuh, lebih tajam dari pedang yang paling tajam dan seterusnya. Selain itu populer pula dikalangan ummat Islam, pepatah-pepatah dari orang-orang tertentu atau kata-kata hikmat dalam bahasa Arab, yang dinilai dan populer sebagai sabda Nabi saw.

Mungkin karena isinya cukup baik sehingga masyarakat Islam menilainya sebagai sabda Rasulullah itu. Contoh antara lain : “ Cinta tanah air itu sebagian daripada iman “. “ Islam tidak akan ada tanpa adanya organisasi. Organisasi tidak akan ada tanpa adanya pemimpin. Pemimpin tidak akan ada tanpa adanya kepatuhan “. “ Agama itu akal pikiran. Tidak ada agama bagi orang yang tidak berakal pikiran “. “ Engkau lihat kotoran nyamuk pada muka orang lain, dan engkau tidak melihat kotoran unta yang ada pada mukamu sendiri “. “ Terkadang kefakiran itu mendorong kepada kekufuran “.



13. Kitab-kitab Yang Meriwayatkan Hadits-hadits Palsu.

Diantara kitab-kitab yang banyak menggunakan hadits-hadits maudhu’ ini ialah kitab-kitab seperti Tafsir Baidlawi, Tafsir Kilbi dan lain sebagainya. Kitab-kitab tasawwuf dan kitab-kitab akhlaq juga banyak terlibat dalam penyebaran hadits-hadits palsu ini. Di Indonesia masih banyak pesantren-pesantren dan buku-buku yang juga terlibat dalam penyajian-penyajian hadits-hadits palsu. Dan sampai saat ini ummat Islam belum mempunyai satu lembaga khusus yang bertugas mengoreksi buku-buku yang menyajikan hadits-hadits yang maudhu' ( palsu ).



akan bersambung lagi...Insya Allah


Sekiranya ada kemusyilan rujuklah pada mereka yang ahli dalam bidang ini
Posted Image

http://www.globalunification.com/associatesASIA001.php
http://www.hi5.com/friend/profile/displayP...userid=24171023
http://www.mesra.net/forum/index.php?act=ST&f=32&t=49475
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
zarith
Member Avatar
Ibu
[ * ]
[size=7]PERKONGSIAN ILMU BUAT RENUNGAN BERSAMA[/size]
Posted Image





Posted Image



[size=7]C. I J T I H A D [/size]



1. Definisi dan Fungsi Ijtihad

Secara bahasa ijtihad berarti pencurahan segenap kemampuan untuk mendapatkan sesuatu. Yaitu penggunaan akal sekuat mungkin untuk menemukan sesuatu keputusan hukum tertentu yang tidak ditetapkan secara eksplisit dalam al-Quran dan as-Sunnah. Rasulullah saw pernah bersabda kepada Abdullah bin Mas’ud sebagai berikut : “ Berhukumlah engkau dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, apabila sesuatu persoalan itu engkau temukan pada dua sumber tersebut. Tapi apabila engkau tidak menemukannya pada dua sumber itu, maka ijtihadlah “. Kepada ‘Ali bin Abi Thalib beliau pernah menyatakan : “ Apabila engkau berijtihad dan ijtihadmu betul, maka engkau mendapatkan dua pahala. Tetapi apabila ijtihadmu salah, maka engkau hanya mendapatkan satu pahala “. Muhammad Iqbal menamakan ijtihad itu sebagai the principle of movement. Mahmud Syaltut berpendapat, bahwa ijtihad atau yang biasa disebut arro’yu mencakup dua pengertian :

a. Penggunaan pikiran untuk menentukan sesuatu hukum yang tidak ditentukan secara eksplisit oleh al-Qur’an dan as-Sunnah.

b. Penggunaan fikiran dalam mengartikan, menafsirkan dan mengambil kesimpulan dari sesuatu ayat atau hadits.
Adapun dasar dari keharusan berijtihad ialah antara lain terdapat pada al-Qur’an surat an-Nisa ayat 59.




2. Kedudukan Ijtihad


Berbeda dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, ijtihad terikat dengan ketentuan-ketentuan sebagi berikut :

a. Pada dasarnya yang ditetapkan oleh ijtihad tidak dapat melahirkan keputusan yang mutlak absolut. Sebab ijtihad merupakan aktifitas akal pikiran manusia yang relatif. Sebagai produk pikiran manusia yang relatif maka keputusan daripada suatu ijtihad pun adalah relatif.

b. Sesuatu keputusan yang ditetapkan oleh ijtihad, mungkin berlaku bagi seseorang tapi tidak berlaku bagi orang lain. Berlaku untuk satu masa / tempat tapi tidak berlaku pada masa / tempat yang lain.

c. Ijtihad tidak berlaku dalam urusan penambahan ‘ ibadah mahdhah. Sebab urusan ibadah mahdhah hanya diatur oleh Allah dan Rasulullah.

d. Keputusan ijtihad tidak boleh bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah.

e. Dalam proses berijtihad hendaknya dipertimbangkan faktor-faktor motifasi, akibat, kemaslahatan umum, kemanfaatan bersama dan nilai-nilai yang menjadi ciri dan jiwa daripada ajaran Islam.




3. Cara ber-Ijtihad


Dalam melaksanakan ijtihad, para ulama telah membuat methode-methode antara lain sebagai berikut :

a. Qiyas = reasoning by analogy. Yaitu menetapkan sesuatu hukum terhadap sesuatu hal yang belum diterangkan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah, dengan dianalogikan kepada hukum sesuatu yang sudah diterangkan hukumnya oleh al-Qur’an / as-Sunnah, karena ada sebab yang sama. Contoh : Menurut al-Qur’an surat al-Jum’ah 9; seseorang dilarang jual beli pada saat mendengar adzan Jum’at. Bagaimana hukumnya perbuatan-perbuatan lain ( selain jual beli ) yang dilakukan pada saat mendengar adzan Jum’at ? Dalam al-Qur’an maupun al-Hadits tidak dijelaskan. Maka hendaknya kita berijtihad dengan jalan analogi. Yaitu : kalau jual beli karena dapat mengganggu shalat Jum’at dilarang, maka demikian pula halnya perbuatan-perbuatan lain, yang dapat mengganggu shalat Jum’at, juga dilarang. Contoh lain : Menurut surat al-Isra’ 23; seseorang tidak boleh berkata uf ( cis ) kepada orang tua. Maka hukum memukul, menyakiti dan lain-lain terhadap orang tua juga dilarang, atas dasar analogi terhadap hukum cis tadi. Karena sama-sama menyakiti orang tua. Pada zaman Rasulullah saw pernah diberikan contoh dalam menentukan hukum dengan dasar Qiyas tersebut. Yaitu ketika ‘ Umar bin Khathabb berkata kepada Rasulullah saw : Hari ini saya telah melakukan suatu pelanggaran, saya telah mencium istri, padahal saya sedang dalam keadaan berpuasa. Tanya Rasul : Bagaimana kalau kamu berkumur pada waktu sedang berpuasa ? Jawab ‘Umar : tidak apa-apa. Sabda Rasul : Kalau begitu teruskanlah puasamu.

b. Ijma’ = konsensus = ijtihad kolektif. Yaitu persepakatan ulama-ulama Islam dalam menentukan sesuatu masalah ijtihadiyah. Ketika ‘Ali bin Abi Thalib mengemukakan kepada Rasulullah tentang kemungkinan adanya sesuatu masalah yang tidak dibicarakan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah, maka Rasulullah mengatakan : “ Kumpulkan orang-orang yang berilmu kemudian jadikan persoalan itu sebagai bahan musyawarah “. Yang menjadi persoalan untuk saat sekarang ini adalah tentang kemungkinan dapat dicapai atau tidaknya ijma tersebut, karena ummat Islam sudah begitu besar dan berada diseluruh pelosok bumi termasuk para ulamanya.

c. Istihsan = preference. Yaitu menetapkan sesuatu hukum terhadap sesuatu persoalan ijtihadiyah atas dasar prinsip-prinsip umum ajaran Islam seperti keadilan, kasih sayang dan lain-lain. Oleh para ulama istihsan disebut sebagai Qiyas Khofi ( analogi samar-samar ) atau disebut sebagai pengalihan hukum yang diperoleh dengan Qiyas kepada hukum lain atas pertimbangan kemaslahatan umum. Apabila kita dihadapkan dengan keharusan memilih salah satu diantara dua persoalan yang sama-sama jelek maka kita harus mengambil yang lebih ringan kejelekannya. Dasar istihsan antara lain surat az-Sumar 18.

d. Mashalihul Mursalah = utility, yaitu menetapkan hukum terhadap sesuatu persoalan ijtihadiyah atas pertimbangan kegunaan dan kemanfaatan yang sesuai dengan tujuan syari’at. Perbedaan antara istihsan dan mashalihul mursalah ialah : istihsan mempertimbangkan dasar kemaslahan ( kebaikan ) itu dengan disertai dalil al-Qur’an / al-Hadits yang umum, sedang mashalihul mursalah mempertimbangkan dasar kepentingan dan kegunaan dengan tanpa adanya dalil yang secara tertulis exsplisit dalam al-Qur’an / al-Hadits.


HABIS BAGIAN PERTAMA



akan bersambung lagi ke bahagian Kedua ...InsyaAllah
Posted Image

http://www.globalunification.com/associatesASIA001.php
http://www.hi5.com/friend/profile/displayP...userid=24171023
http://www.mesra.net/forum/index.php?act=ST&f=32&t=49475
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
zarith
Member Avatar
Ibu
[ * ]
[size=7]PERKONGSIAN ILMU BUAT RENUNGAN BERSAMA[/size]
Posted Image





Posted Image



[size=14]-- BAGIAN KEDUA --[/size]



[size=7]AQIDAH ISLAM[/size]



1. Kewajiban Seorang Muslim Menurut Ajaran Islam, Atau Keterikatan Seorang Muslim dengan al-Islam Adalah Sebagai Berikut :

a. Iman, yaitu meyakini Islam.
b. 'Amal yaitu melaksanakan Islam.
c. Ilmu yaitu mempelajari Islam.
d. Da’wah / jihad yaitu menyebarluaskan dan membela Islam;
e. Shabar yaitu tabah dalam ber-Islam ( Surat al-‘Asr ).
Iman tidak dapat dilihat oleh indera, tetapi dapat dilihat dari indikatornya yaitu ‘amal, ilmu, da’wah dan shabar. Iman dapat menebal dan dapat juga menipis, tergantung atas pembinaannya. Pembinaan iman adalah dengan ‘amal, ilmu, da’wah, dan shabar.

2. Aspek Keyakinan Seorang Muslim Terhadap Islam.

a. Islam satu-satunya agama yang benar disisi Allah. ( Ali-Imran : 19 dan 85 ).
b. Islam adalah agama yang universal : ( asy-Syura : 13 ).
Nuh adalah Islam : ( Yunus : 72 ).Ya’qub adalah Islam : ( al-Baqarah : 132 ). Putra-putra Ya’qub adalah Islam : ( al-Baqarah : 133 ). Musa adalah Islam : ( Yunus : 84 ). Pengikut Isa adalah Islam : ( Ali-Imran : 52 ).
c. Islam yang dibawa Muhammad adalah agama terakhir : ( al-Ahzab : 40 ) dan ( al-Maidah : 3 ).
Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw sebagai korektor dan penyempurna agama-agama yang ada : al-Maidah : 48. an-Nahl : 64. Ali Imran : 3. an-Nisa : 47.


3. Tuhan.

1. Allah, nama daripada Tuhan.
2. Landasan pokok ketuhanan ialah La illaha IIlallah.
3. Untuk menemukan adanya Tuhan dapat ditempuh dengan rasio. Tapi untuk menemukan siapa Tuhan dan bagaimana Tuhan harus melalui wahyu dari Tuhan ( al-Mulk : 10 ).
4. Mengenal Allah :
a. Mengenal ciptaan-ciptaan-Nya. Ali-Imran : 190-193
b. Mengenal sifat-sifat-Nya ( al-A’raf :180 )


5. Sifat-sifat Allah :

a. Wujud : Ada. Tanpa awal ( Qodim ). Tanpa akhir ( Baqin ). Berdiri sendiri ( Qiyamuhu Binafsihi ) . Berbeda dengan yang lain ( Mukhalafatul Lilhawadits ).
b. Ahad : Esa. Dalam sifat, dzat, yang disembah, yang ditakuti, yang dicintai dan lain-lain. Muthlaq : tidak terikat oleh waktu, tempat dan lain-lain.
c. Al-Haq : Sumber Kebenaran. Menentukan benar dan salah. Menentukan rizki, tahta, jodoh, umur, dan lain-lain. Diwujudkan dengan ucapan-ucapan yang selalu dikaitkan dengan Allah.
d. Almuhith : Maha meliputi segala Kesempurnaan. Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Bersabda, Maha Kuasa, Maha Mengetahui dan lain-lain. Absolut, Ultimate, dan seterusnya.


6. Beberapa penjelasan tentang Allah :

Ia adalah dekat : al-Baqarah : 186, Qof : 16.
Tidak terjangkau indera : al-An’am : 103.
Ia walinya orang Mu’minin : al-Baqarah : 257.


7. Bentuk perbuatan yang dilarang, dan dapat merusak tauhid seseorang:

Kepercayaan-kepercayaan kepada kekuatan ‘ azimat, ramalan nasib, penggunaan sihir, pelet, pendukunan dan lain-lain.
Tasybih / musyabihah = anthropomorphisme = penggambaran Allah sebagai manusia. Juga tajsim / mujasimah = corporealisme = menganggap Allah berjisim.


8. Sifat-sifat Alllah yang tercantum dalam asmaul husna ( nama-nama Allah yang baik ).

1. Allah : Lafazh yang Maha Mulia yang merupakan nama dari Dzat Tuhan.
2. Ar-Rahman : Maha Pengasih.
3. Ar-Rahim : Maha Penyayang.
4. Al-Malik : Maha Merajai.
5. Al-Quddus : Maha Suci.
6. As-Salam : Maha Menyelamatkan.
7. Al-Mu’min : Maha Pemelihara Keamanan.
8. Al-Muhaimin : Maha Penjaga.
9. Al-‘Aziz : Maha Mulia.
10. Al-Jabbar : Maha Perkasa.
11. Al-Mutakabbir : Maha Megah.
12. Al-Khalik : Maha Pencipta.
13. Al-Bari’ : Maha Pembuat.
14. Al-Mushawwir : Maha Pembentuk.
15. Al-Ghaffar : Maha Pengampun.
16. Al-Qahhar : Maha Pemaksa.
17. Al-Wahhab : Maha Pemberi.
18. Ar-Razzaq : Maha Pemberi Rizki.
19. Al-Fattah : Maha Membukakan.
20. Al-‘Alim : Maha Mengetahui.
21. Al-Qabidh : Maha Pencabut.
22. Al-Basith : Maha Meluaskan.
23. Al-Khafidh : Maha Menjatuhkan.
24. A-Rafi : Maha Mengangkat.
25. Al-Mu’iz : Maha Pemelihara Keamanan.
26. Al-Mudzil : Maha Pemberi Kehinaan.
27. As-Sami’ : Maha Mendengar.
28. Al-Bashir : Maha Melilhat.
29. Al-Hakam : Maha Menetapkan Hukum.
30. Al-‘Adl : Maha Adil.
31.Al-Lathif : Maha Halus.
32. Al-Khabir : Maha Waspada.
33. Al-Halim : Maha Penghiba.
34. Al-‘Azhim : Maha Agung.
35. Al-Ghafur : Maha Pengampun.
36. Asy-Syakur : Maha Pembalas.
37. Al-‘Aliy : Maha Tinggi.
38. Al-Kabir : Maha Besar.
39. Al-Hafizh : Maha Pemelihara.
40. Al-Muqit : Maha Pemberi Kecukupan.
41. Al-Hasib : Maha Penjamin.
42. Al-Jalil : Maha Luhur.
43. Al-Karim : Maha Pemurah.
44. Ar-Raqib : Maha Peneliti.
45. Al-Mujib : Maha Mengabulkan.
46. Al-Wasi’ : Maha Luas.
47. Al-Hakim : Maha Bijaksana.
48. Al-Wadud : Maha Pencinta.
49. Al-Majid : Maha Mulia.
50. Al-Ba’its : Maha Membangkitkan.
51. Asy-Syahid : Maha Menyaksikan atau Maha Mengetahui.
52. Al-Haq : Maha Haq Maha Benar.
53. Al-Wakil : Maha Memelihara Penyerahan.
54. Al-Qawiy : Maha Kuat.
55. Al-Matin : Maha Kokoh atau Perkasa.
56. Al-Waliy : Maha Melindungi.
57. Al-Hamid : Maha Terpuji.
58. Al-Muhshi : Maha Penghitung.
59. Al-Mubdi : Maha Memulai.
60. Al- Mu’id : Maha Mengulangi.
61. Al-Muhyi : Maha Menghidupkan.
62. Al-Mumit : Yang Mematikan.
63. Al-Hay : Maha Hidup.
64. Al-Qayyum : Maha Berdiri Sendiri.
65. Al-Wajid : Maha Kaya.
66. Al-Majid : Maha Mulia.
67. Al-Wahid : Maha Esa.
68. Ash-Shamad : Maha Dibutuhkan.
69. Al-Qadir : Maha Kuasa.
70. Al-Muqtadir : Maha menentukan.
71. Al-Muqaddim : Maha Mendahulukan.
72. Al-Muakhir : Maha Mengakhirkan atau Membelakangkan.
73. Al-Awwal : Maha Pertama.
74. Al-Akhir : Maha Penghabisan.
75. Azh-Zhahir : Maha Nyata.
76. Al-Bathin : Maha Tersembunyi.
77. Al-Wali : Maha Menguasai.
78. Al-Muta’ali : Maha Suci.
79.Al-Bar : Maha Dermawan.
80. At-Tawwab : Maha Penerima Taubat.
81. Al-Muntaqim : Maha Penyiksa.
82. Al-‘Afuw : Maha Pemaaf.
83. Ar-Ra’uf : Maha Pengasih.
84. Malikul-Mulk : Maha Menguasai Kerajaan.
85. Dzuljalali Wal Ikram : Maha Memiliki Kebesaran dan Kemuliaan.
86. Al-Muqsith : Maha Mengadili.
87. Al-Jami’ : Maha Mengumpulkan.
88. Al-Ghaniy : Maha Kaya.
89. Al-Mughni : Maha Pemberi Kekayaan.
90. Al-Mani’ : Maha Membela atau Maha Menolak.
91. Adh-Dhorru : Maha Pemberi Bahaya.
92. An-Nafi’ : Maha Pemberi Kemanfaatan.
93. An-Nur ; Maha Bercahaya.
94. Al-Hadi : Maha Pemberi Petunjuk.
95.Al-Badi’ : Maha Pencipta Yang Baru.
96. Al-Baqi : Maha Kekal.
97. Al-Warits : Maha Pewaris.
98. Ar-Rasyid : Maha Cendekia.
99. Ash-Shabbur : Maha Penyabar.


9. Mengenal Allah dengan mengenal ciptaan-ciptaan-Nya.

Untuk lebih meyakini akan kebesaran Allah, al-Qur’an menyeru manusia untuk meneliti dan merenungkan ciptaan-ciptaan-Nya. Pengenalan atas ciptaan-ciptaan-Nya itulah yang melahirkan berbagai disiplin ilmu kealaman, yang seharusnya menjadi salah satu dalil dan bukti bagi kebesaran Dzat Yang Maha Pencipta.
Seperti dalil-dalil :
a. Kosmologi : Al-Baqarah : 164, 22 ; Ali ‘Imran : 192-193 ; Yunus : 34 ; al-Mu’minun : 86 ; adz-Dzari’at : 47-49.
b. Astronomi : Ath-Thoriq : 1-3 ; al-Buruj : 1.
c. Botani : al-An’am : 95 ; al-Hijr : 19 dan 22 ; al-Hajj : 5 ; an-Naml : 60.
d. Meteorology : ar-Rum : 46 ; al-Ghasiyah : 5.
e. Geography : al-Ghasiyah : 20 ; ar-Ro’du : 3-4 ; al-Hijr : 19 ; al-Baqarah : 29.
f. Zoology : al-Baqarah : 164 ; al-Ankabut : 60 ; asy-Syura : 29 ; Hud : 6 ; an-Nahl : 79.
g. Antropologia : al-Baqarah : 28 ; ath-Thoriq : 5-7 ; ar-Rum : 20; al-Hajj : 5 ; al-Balad : 4-9 ; an-Nahl : 78.
h. Psikology : ar-Rum : 21 ; asy-Syam : 7 ; al-Isra’ : 85.

4. Malaikat.

1. Wajib iman kepada Malaikat ( al-Baqarah 285 ).
2. Malaikat, sebagai makhluq immaterial mempunyai beberapa ciri :
a. Makhluq yang dimuliakan ( al-Anbiya : 26-28 ).
b. Makhluq yang selalu patuh kepada Allah ( an-Nahl : 50 ).
c. Makhluq yang tidak pernah berdosa / ma’shiyat ( at-Tahrim : 6 ).
d. Makhluq yang tidak pernah sombong dan selalu bertasbih kepada Allah ( al-A’raf : 206 ).
3. Diciptakan dari cahaya ( hadits ).
4. Tugas-tugasnya adalah :
a. Mengemban wahyu, yaitu Jibril ( al-Baqarah : 98 ) ; sering disebut Ruhul Amin ( asy-Syu’ara : 193-194 ) atau Ruhul Qudus ( an-Nahl : 102 ) atau Rasul ( asy-Syura : 51 ). Menyampaikan wahyu kepada hamba-hamba Allah yang dikehendaki-Nya ( an-Najm : 10 ), kepada para Nabi ( an-Nisa’ : 163 ), kepada Maryam ( Ali-Imran : 40-41 ).
b. Malaikat lain menurunkan wahyu kepada ‘abdi-‘abdi Allah yang dikehendaki-Nya ( an-Nahl : 2 ).
c. Meneguhkan hati Mu’minin ( al-Anfal : 10 dan 12, Ali Imran : 126 ) ; Isa diteguhkan ( al-Baqarah : 87 dan 253 ; al-Maidah : 110 ).
d. Mendo’akan Mu’minin ( al-Mu’min : 7 ).
e. Malaikat sebagai aulia ; kawan atau penjaga mu’minin ( Fushilat : 31 ) seperti : membantu muslim dengan 1000 malaikat ( al-Anfal : 9 ) ; dengan 3000 malaikat ( Ali-Imran : 123 ) dengan 5000 malaikat ( Ali Imran : 124 ).
f. Melaksanakan hukuman Allah kepada manusia ( al-Anfal : 50 ; Muhammad : 27 ).
g. Memohonkan ampun bagi manusia ( asy-Syura : 5 ; al-Mu’min : 7 dan 9 ).
h. Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad saw ( al-Ahzab : 56 ).
i. Menyiksa orang-orang kafir ( al-Anfal : 50 ; Muhammad : 27 ).
j. Mencatat amal manusia ; Kiroman Katibin ( al-Infithar : 10-12 ; Qaaf : 17-18 ; ar-Ra’d : 10-11 ).
k. Mencabut nyawa ( al-An’am : 61 ; as-Sajadah : 11 ).
l. Memberi salam dan keselamatan ahli sorga ( ar-Ro’du : 23-24 ).

Catatan : Malaikat sebagai tamu Nabi Ibrahim as ( Hud : 69-70 ; al-Hijr : 52-55 ; adz-Dzariyat : 24-25 ). Malaikat dan kejadian Adam ( al-Baqarah : 30 ; al-Hijr : 28 ; Shad : 71 ).


5. J i n.

1. Termasuk makhluq halus yang diterangkan al-Qur’an.
2. Dibuat dari api yang panas ( al-Hijr: 27 ), atau nyala api ( ar-Rahman : 15 ).
3. Mendapatkan tugas :
a. Diperintah / dilarang oleh peraturan Allah ( al-An’am : 130 ).
b. Ibadah ( adz-Dzariyat : 56 ).
c. Diancam siksa ( ar-Rahman : 31-34 ).
4. Ada jin yang saleh dan ada jin yang jahat ( al-Jin : 11, 14 dan 15 ).
5. Sebagaimana manusia, jin-pun tidak dapat mengetahui yang ghoib ( al-Jin : 27dan 28, Saba’ : 14 ).

Catatan : Peristiwa Jin dan Rasulullah ( al-Ahqof : 29-32 ). Peristiwa Jin dan Sulaiman ( Saba’ : 12 dan 13; an-Nahl : 39 ).



6. Iblis dan Syaithon.

1. Iblis adalah makhluq halus dari golongan jin ( al-Kahfi : 50 ).
2. Iblis adalah kafir ( al-Baqarah : 34 ).
3. Iblis hidup sampai kiamat ( Shod : 80 dan 81 ).
4. Iblis adalah nenek moyang syaithon ( iblis mempunyai keturunan, yang kemudian biasa disebut syaithon ) – ( al-Kahfi : 50 ).
5. Syaithon bekerja mengganggu dan menyesatkan manusia ( an-Nahl : 63; al-Anfal : 48; Maryam : 83; dan al-Hasyr : 16 ).
6. Setiap manusia disertai syaithon ( al-An’am : 112 ).
7. Melanggar ketentuan Allah berarti memperkuat kedudukan syaithon dalam diri ( az-Zuhruf : 36-39 ).
8. Syaithon dinilai sebagai musuh manusia ( Fathir : 6; al-Baqarah : 168 dan 169 ).
9. Kata-kata syaithon dipergunakan untuk pemimpin jahat ( al-Baqarah : 14; Ali-‘Imran : 174 ).
10.Do’a untuk terhindar dari syaithon ( al-Mu’minun : 98 dan 99; an-Nas : 1-6; al-Falaq : 1-6 ).


7. Kitabullah.

1. Kitabullah ialah kumpulan wahyu-wahyu Allah.
2. Setiap Mukmin wajib iman kepada seluruh kitab-kitab Allah ( al-Baqarah 285 ).
3. Hubungan al-Qur’an dengan kitab-kitab Allah yang telah lalu.
a. Menjadi saksi tentang benarnya kitab-kitab Allah yang telah lalu (al-Maidah : 48 ).
b. Menjawab dan menyelesaikan perbedaan-perbedaan pendapat para penganut agama ( an-Nahl : 64 ).
4. Kitab-kitab Allah yang diterangkan ialah :
a. Taurat kepada Musa.
b. Zabur kepada Dawud.
c. Injil kepada Isa.
d. Al-Qur’an kepada Muhammad.
e. Lembaran-lembaran khusus ( shuhuf ) kepada Ibrahim, Musa dan lain-lain
5. Tentang Taurat dan Injil.
a. Semula kitab tersebut berasal dari Allah SWT ( Ali-‘Imran : 3 ).
b. Taurat telah dirubah isinya ( an-Nisa’ : 46 ).
c. Orang Yahudi menyembunyikan beberapa isi Taurat dan sebagian terlupakan ( al-Maidah : 15 ).
d. Orang Nasrani lupa isi sebagian Injil ( al-Maidah : 14 ).


8. Rasul / Nabi.

Rasul / Nabi yaitu manusia yang dipilih Tuhan untuk menerima wahyu-Nya guna disampaikan kepada ummatnya. Aspek keyakinan kepada Rasul dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Setiap Mu’min wajib iman kepada seluruh Rasul Allah ( al-Baqarah 177; 285 ).Sebagian diantara mereka ada yang disebutkan namanya dalam al-Qur’an dan ada juga yang tidak disebutkan ( surat al-Mu’min 78, an-Nisa 164 ).
2. Setiap ummat ( sebelum Nabi Muhammad ) pasti ada Rasulnya ( Yunus 47 ; an-Nahl 63 ).
3. Nabi / Rasul terdiri dari manusia jenis pria ( an-Nisa 63; al-Anbiya 7 ).
4. Misi setiap Rasul adalah sama yaitu menyampaikan ajaran tauhid ( al-Anbiya 25 ; an-Nahl 36 ; asy-Syura 13 ).
5. Masing-masing Rasul mempunyai kelebihan-kelebihan tertentu ( al-Baqarah 253 ).
6. Setiap Rasul menggunakan bahasa kaumnya ( Ibrahim 4 ).
7. Beberapa sifat yang wajib dimiliki setiap Rasul :
a. Shiddiq : benar.
b. Amanah : dapat dipercaya.
c. Tabligh : menyampaikan ajaran.
d. Fathonah : cerdas.

Ulul’azmi ( al-Ahgaf 35 ) ialah : Muhammad, Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa. Beberapa ayat tentang nabi : Ali-’Imran 33, al-A’raf 65, Hud 61dan 84, al-Anbiya 65, 86.

Cerita beberapa Nabi dalam Al-Qur’an :

Syu’aib : 7:85-93; 11:84-95; 26:176-191; 29:36-37.
Dzulkifli : 38:48.
Idris : 19:56-57; 21:85.
Hud : 7:65-72; 11:50-60; 26:123-140; 46:21-26.
Shalih : 7:73-79; 11:61-67; 26:141-159; 27:45-53; 54:23-30; 54:31; 91:12-14.
Isma’il : 6:86-87; 38:48; 19:54-55.
Harun : 4:163; 25:35-36.
Ibrahim : 43:26-28; 6:74-89; 3:65-68; 95; 2:258; 9:114; 19:41-50; 21:51-73; 37:83-99; 26:69-102; 2:124-134; 3:33-34,96; 22:26; 4:125; 14:35-40; 11:69-76; 15:51-56; 51:24-37; 37:100-113; 2:260; 16:120-123; 6:161; 60:4; 38:45-47; 53:37; 29:16-17,24,27.
Adam : 3:33-34; 2:34.
Dawud : 2:249-251; 4:163; 17:55; 5:78-79; 6:84; 21:78-80; 38:17-21; 38:22-26; 21:105.
Ilyas : 6:85; 37:123-132.
Yasa’ : 6:86; 38:48.
Idris : 19:56-57.
Ayyub : 6:84; 21:83-84; 38:41-44.
Yunus : 6:86-87; 10:98; 37:139-148; 21:87-88; 68:48-49.
Yusuf : 12:3-104; 40:34.
Luth : 7:80-83; 27:54-57; 11:77-83; 29:26-35; 26:160-175; 15:57-77; 37:133-138; 6:86; 21:74-75; 22:42-44; 50:13-14; 54:33-39.
Musa : 28:3-43; 20:9-100; 26:10-68; 7:100-156; 10:75-92; 27:7-14; 79:15-26; 11:96-101; 14:5-8; 23:45-48; 43:46-56; 51:38-40; 44:17-33; 40:23-45; 2:55-57,60-61,47-54,63,67-73,92-93; 4:153-155,164; 5:20-26; 7:160; 18:60-82; 2:87; 6:91; 19:51-53; 21:48; 23:49; 32:23; 40:53; 41:45; 22:45; 61:5; 37:114-122; 29:39-40.
Nuh : 3:33; 4:163; 6:84; 7:59-64; 10:71-73; 11:25-49; 21:76-77; 25:37; 26:105-122; 29:14-15; 37:71-83; 71:128; 54:9-16; 23:23-31; 40:5-6.
Sulaiman : 6:84; 21:81-82; 34:12-14; 27:15-44; 34:15-21; 2:102; 38:30-40.
Yahya : 21:89-90; 3:38-41; 19:2-15.
Isa : 19:16-34; 2:86; 3:45-60; 4:156-172; 5:17,46,72,75; 9:30-31; 23:50; 43:57-65; 61:6,14; 5:109-120; 57:26-27; 9:111.
Zakariya : 3:37-38; 6:85; 19:2-7; 21:89.
Ya’qub : 2:140; 3:84; 4:163; 6:84; 11:71; 12:6,38,68; 19:6,49; 21:73; 29:27; 38:45.


9. Muhammad Rasulullah.

1. Rasul Allah ( al-Fath 29; al-Ahzab 40 ).
2. Rasul / Nabi terakhir ( al-Fath 29; al-Ahzab 40 ).
3. Rasul / Nabi untuk seluruh ummat; ( al-A’raf 158; Saba’28 ).
4. Peri kehidupannya : sebagai uswatun hasanah / contoh teladan yang baik ( al-Ahzab 21 ).
5. Bersih dari dosa dan kesalahan ( al-Fath 2 ).
6. Berakhlaq mulia ( al-Qolam 4 ).
7. Ummy / tidak dapat membaca dan menulis ( al-A’raf 158 ).
8. Tidak pernah berguru kepada seseorang ( an-Nahl 103 ).
9. Perintah dan ajarannya wajib dipatuhi ( Ali Imran 132 ). ( melahirkan sunnah ).
10. Misinya : rahmatan lil’alamin / kasih sayang bagi seluruh alam ( al-Anbiya 107 ).

Periode Kehidupan Muhammad :
Tanggal lahir : Senin 12 Rabiul Awal ( 20 April 571 M ).
Usia 6 tahun : Ditinggal ibunya.
Usia 8 tahun : a. Ditinggal kakeknya. b. Mencari nafkah sendiri.
Usia 12 tahun : Berdagang.
Usia 25 tahun : Nikah dengan Khadijah.
Usia 41 tahun : Mendapatkan wahyu.
Usia 52 tahun : Melaksanakan Isra’ Mi’raj.
Usia 53 tahun : Hijrah ke Madinah kemudian menjadi kepala negara.
Usia 63 tahun : Wafat.


10. Isa as.

1. Isa adalah Nabi dan Rasul Allah untuk Bani Israil : Ali-‘Imran 49. Bukan anak haram : Maryam 21.
2. Isa diberi mu’jizat sebagai tanda kerasulannya : Ali-‘Imran 49.
3. Misinya membenarkan dan melanjutkan Taurat : ‘Ali-Imran 50.
4. Penciptaan dengan kekuasaan Allah : Ali-‘Imran 59.
5. Ia tidak wafat karena dibunuh dan karena disalib : an-Nisa’157-158.
6. Ia telah wafat secara wajar : Ali-‘Imran 55.
7.Sahabat-sahabat Muslim : Ali-‘Imran 52.
Tidak ada ayat al-Qur’an yang menyatakan bahwa nabi ‘ Isa masih hidup dan akan turun lagi ke bumi ini.


11. Hari Akhir / Qiyamat.

1. Alam barzah.
Sebelum terjadi hari qiyamat, bagi mereka yang telah wafat mengalami kehidupan akhirat yang disebut alam barzah ( ar-Rum 55-56 ). Barzah berarti sesuatu yang terletak diantara dua barang atau penghalang. Pada masa itu ruh manusia sudah menyadari akan kebenaran janji-janji Allah ( al-Mu’minun 99-100 ). Bahkan kepada mereka yang jahat sudah diperlihatkan neraka dan siksa ( al-Mu’min 45-46 ). Hadits Nabi menyebutkan sebagai azab kubur.

2. Hari Qiyamat.

a. Nama-nama hari qiyamat :
1. Yaumul qiyamah = Hari kebangkitan.
2. Assa’ah = Waktu.
3. Yaumul Akhir = Hari Akhir.
4. Yaumuddin = Hari akhir ( agama ).
5. Yaumul fasli = Hari keputusan.
6. Yaumul Hisab = Hari perhitungan.
7. Yaumul Fathi = Hari pengadilan.
8. Yaumuth Thalaq = Hari perpisahan.
9. Yaumul Jam’i = Hari pengumpulan.
10 Yaumul Hulud = Hari kekekalan.
11.Yaumul Huruj = Hari Keluar.
12.Yaumul Ba’tsi = Hari Kebangkitan.
13. Yaumul Hasrah = Hari penyesalan.
14. Yaumuttanad = Hari pemanggilan.
15. Yaumul azifah = Hari mendekat.
16. Yaumuttaghobun = Hari terbukanya ‘ aib.
17. Al-Qori’ah = Bencana yang menggetarkan.
18. Al-Ghosiyah = Bencana yang tak tertahankan.
19. Ash-Shokhoh = Bencana yang memilukan.
20. Ath-Thommah = Bencana yang melanda.
21. Al-Haqqoh = Kebenaran besar.
22. Al-Waqiah = Peristiwa besar.

b. Saat terjadinya hanya Allah yang mengetahui ( Luqman 34; al-A’raf 187 ).

Ada beberapa Hadits nabi yang menerangkan ciri-cirinya seperti :
1. Banyak penjahat memimpin orang yang baik.
2. Banyak kemewahan yang di luar batas.
3. Pertempuran besar antara 2 golongan.
4. Banyak orang mengaku jadi nabi / dapat wahyu.
5. Banyak bencana alam.
6. Fatwa-fatwa ulama jahat yang menyesatkan.
7. Hilangnya ahli agama.
8. Banyak fitnah kepada ummat Islam.
9. Ibu / ayah sudah dianggap sebagai bawahan oleh putra / putri.
10. Ada ciri-ciri lain yang menjadi pembahasan para ulama ( diperbeda pendapatkan ) seperti :
a. turunnya Isa as.
b. turunnya Dajjal.
c. turunnya Imam Mahdi.
d. matahari terbit di barat dan lain-lain.

c. Gambaran hari qiyamat digambarkan dalam al-Qur’an yang pada dasarnya menunjukkan rusak total seluruh alam ini, dimana bumi dan langit diganti ( Ibrahim 48; al-Qiyamah 6-25; al-Mursalat 8-11; an-Na’ba 17-20; an-Na’ziah 6-14; dan 42-44,99; 1-6; 70; 43; 69:13-18 dan 56’ 1-3 ).
d. Kebangkitan total dan terjadi alam Mahsyar serta perlaksanaan pengadilan terbuka ( al-Waqiah 60-62; al-Haj 5-7; az-Zilzal 1-8; an-Nur 24-25).
e. Kebidupan abadi di sorga dan neraka.


12. Qodho dan Qodar.

1. Qodho berarti ketetapan Allah. Qodar atau taqdir berarti ukuran atau kekuasaan Allah.
2. Setiap Muslilm wajib iman bahwa Allah Maha Kuasa untuk berbuat apa saja terhadap makhluq-Nya; dan setiap muslim juga wajib iman bahwa manusia diberi kebebasan untuk memillih dan menentukan nasibnya sendiri, dengan segala usahanya dan memohon kepada Allah.
3. Allah menciptakan segala sesuatu dengan 4 proses: Menciptakan, menyempurnakan, memberikan ukuran dan memberi bimbingan. ( al-A’la 2-4 ). Allah menciptakan manusia, bumi dan semua alam semesta dengan segala ketentuan yang berlaku padanya. Ia jadikan yang haq dan yang bathil ; yang halal dan yang haram; yang indah dan yang buruk. Kepada manusia diberi-Nya akal, perasaan ( hati, syahwat dan lain-lain ) serta wahyu, dengan ketentuan-ketentuan : siapa yang berbuat dan memilih yang baik akan bahagia dan siapa yang berbuat atau memilih yang tidak baik akan mendapatkan derita.
4. Qodho Allah telah berlaku sejak setiap manusia lahir. Ia lahir dialam ini dengan tidak diberi hak pilih siapa ayah atau ibunya, bagaimana warna kulitnya dan seterusnya. Dalam pengembangan dirinya ia diikat oleh ketentuan-ketentuan yang diciptakan Allah bagi dirinya sesuai dengan ketentuan sunnatullah dan syari’atullah tersebut.
5. Apa yang terjadi bagi seseorang tidak lepas dari ihtiar dirinya atau lingkungannya yang sekaligus merupakan keputusan Allah bagi seseorang.
6. Ayat-ayat al-Qur’an yang memberi gambaran tentang kekuasaan Allah yang absolut, seperti : al-Hadid 22-23; Yunus 107; Fathir 2; al-Baqarah 284; Ali-‘Imran 26-27. Sedang ayat-ayat al-Qur’an yang mengharuskan manusia berikhtiar untuk menentukan nasibnya antara lain : al-Insan 2 dan 3 ; al-Balad 10; al-Muddatsir 38; Fushilat 46; asy-Syura 30; ar-Rum 41; ar-Ro’du 11.
7. Karena ayat-ayat tersebut diatas dan karena pengaruh dari faham determinisme dan indeterminisme dalam theologi Kristen; maka dalam sejarah Islam juga pernah timbul aliran-aliran yang berpendirian ekstrim dalam menekankan faktor kekuasaan Allah dan menekankan usaha manusia, yaitu golongan ( aliran ) Jabbariyah dan Qadariyyah.


13. Alam..

1. Alam ini adalah makhluq = diciptakan Allah ( al-Baqarah 117 ).
2. Alam ini akan rusak dan berakhir ( al-Qoshosh 88 ).
3. Alam ini rill, nyata, konkrit, bukan maya ( al-An'am 73; Shod 27 ).
4. Alam ini teratur ( al-Mulk 3 dan 4 ).
5. Alam terikat dengan hukum-hukum tertentu yang pasti ( al-Furqon 2, ar-Ro'du 8, ar-Rahman 5 ).
6. Alam ini dapat dipikirkan dan dipelajari ( al-Jasiyah 13 ).
7. Penciptaan alam bertujuan :
a. Membuktikan kebesaran Allah ( Ali-Imran 190 ).
b. Disiapkan untuk kesejahteraan dan kebahagiaan manusia ( Luqman 20 ).
c. Ujian untuk manusia ( Hud 7 dan al-Mulk 2 ).
8. Seluruh alam ini patuh kepada ketentuan Tuhan ( Ali-'Imran 83; an-Nahl 49 dan 50 ; al-Isra':44 ).
9. Alam ini berpasang-pasangan ( adz-Dzariyat 49 ). Buah-buahan ( ar-Ro'du 3 ). Ternak dan manusia ( asy-Syura 11 ). Yang tidak diketahui ( Yasin 36 ).
10. Proses kejadian alam :
a. Berkembang dari satu dzat seperti gas ( Fushshilat 9-12 ).
b. Dipisah-pisahkan menjadi benda-benda langit, galaksi, planet dan lain-lain (al-Anbiya 30; adz-Dzariyat 7).
c. Bumi dilontarkan sebagai bola api dari benda yang lebih besar ( ar-Rahman 14; an-Nazi'aat 30 ).
d. Planet lainnya, bulan dan sebagainya (ath-Thalaq 12; Nuh 15-16; an-Naba' 12).
e. Perkembangannya melalui 6 masa ( Fushshilat 9 dan 10 ).
f. Kejadian bintang ( al-Masih 1-3 ).
g. Sesuatu yang hidup berasal dari air ( Hud 7; al-Anbiya 30; an-Nur 45; al-Furqon 54 ).
h. Pada benda-benda langit ada kehidupan dan kematian ( asy-Syura 29; al-Isra'44; Maryam 93 ).



14. Manusia.

A. Manusia dalam al-Qur’an disebut : Al-Insan ( al-Insan 1 ). Al-Basyar ( al-Hijr 28 ). Bani Adam ( al-Isra’ 70 ). An-Nas.

B. Proses kejadian manusia :
1. Melalui masa yang tidak disebutkan ( al-Insan 1 ).
2. Mengalami beberapa tingkatan kejadian ( Nuh 14 ).
3. Ditumbuhkan dari tanah seperti tumbuh-tumbuhan ( Nuh 17 ).
4. Dijadikan dari tanah liat = lazib ( ash-Shaffat 11 ).
5. Dijadikan dari tanah kering dan lumpur hitam ( shalshal dan hamain ) al-Hijr 28.
6. Berproses dari saripati tanah, nuthfah dalam rahim, segumpal darah, segumpal daging, tulang, dibungkus dengan daging, makhluk yang paling baik ( al-Mu’minun 12-14 ).
7. Kemudian ditiupkan roh ( ash-Shad: 72, al-Hijr: 29 ).
Manusia diciptakan dari tanah dengan bermacam-macam istilah, yaitu turob ( tanah ), tanah kering ( shal-shal ), lumpur hitam ( hamain ), thin ( tanah kering ) dan lain-lain. Ini menunjukkan bahwa fisik manusia berasal dari macam-macam bahan yang ada dalam tanah.
C. Tubuh manusia terdiri dari roh dan jasad, kedua unsur ini membentuk senyawa, sehingga terwujud proses dan mekanisme hidup. Terputusnya dua unsur ini berarti terjadinya kematian.

D. Keistimewaan manusia dari makhluk lainnya :
1. Manusia sebagai ciptaan yang tertinggi dan terbaik ( at-Tin 4 ).
2. Manusia dimuliakan dan diistimewakan oleh Allah ( al-Isra’ 70 ).
3. Mendapatkan tugas mengabdi ( adz-Dzariyat 56 ), oleh karenanya manusia disebut abdi Allah.
4. Mempunyai peranan sebagai khalifah ( wakil Allah ) ( al-An’am 165 ), dengan berbagai tingkatan.
5. Mempunyai tujuan hidup, yaitu mendapatkan ridho Allah ( al-An’am 163 ), dan kebahagiaan didunia dan diakhirat.
6. Untuk melaksanakan tugas serta peranannya guna mencapai tujuan hidupnya manusia diberi peraturan-peraturan hidup ( an-Nisa’ 105 ).

E. Sifat-sifat manusia antara lain :
1. Bersifat tergesa-gesa ( al-Isra’ 11 ).
2. Sering membantah ( al-Kahfi 54 ).
3. Ingkar dan tidak berterima kasih kepada Tuhan ( al-‘Adiyat 6 ).
4. Keluh kesah dan gelisah serta kikir ( al-Ma’arij 19 ).
5. Putus asa bila ada kesusahan ( al-Ma’arij 20 ).
6. Kadang-kadang ingat Tuhan karena penderitaan ( Yunus 12 ).

F. Penggolongan manusia :

1. Menurut Surat al-Fatihah :
a. Yang diberi ni’mat petunjuk.
b. Yang dimurkai Tuhan.
c. Yang sesat.

2. Menurut Surat al-Baqarah ( awal ) :
a. Muttaqin.
b. kafirin.
c. munafiqin.

3. Yang dicintai dan dimurkai :

a. Yang dicintai Allah :

1. Muhsinin ( al-Baqarah 195; Ali-‘Imran 134; al-A’raf 56 ).
2. Tawwabin, Mutathohhirin ( al-Baqarah 222; asy-Syu’ara 69; at-Taubah 120 ).
3. Muttaqin ( Ali-‘Imran 76; at-Taubah 36 ).
4. Shobirin ( Ali-Imran 146 ).
5. Muqsithin ( al-Maidah 42 ).
6. Mutawakkilan ( Ali-‘Imran 159 ).
7. Berjuang dijalan Allah dengan organisasi rapih ( ash-Shaaf 4 ).

b. Yang dimurkai Allah :

1. Fasiqin ( ash-Shaff 5 ).
2. Mufsidin ( al-Maidah 64; Yunus 81 ).
3. Zholimin ( at-Taubah 19 ).
4. Kafirin ( at-Taubah 37 ).
5. Khowwanin Kafur ( al-Hajj 38 ).
6. Mustakbirin ( an-Nahl 23 ).
7. Musrifin ( al-An‘am 141 ).
8. Kadzibun Kaffar ( az-Zumar 3 ).
9. Musrifun Kadzab ( al-Mu’min 28 ).

4. Dalam penggolongan-penggolongan lainnya yang terdapat dalam al-Qur’an maupun al-Hadits yang pada umumnya dibagi kepada dua macam :
a. Yang baik ( ashhabul yamin, ashabul maimanah, khairul bariyyah dan lain-lain ).
b. Yang tidak baik ( ashhabusysyimal, ashhabul mas’amah, syarrul bariyyah dan lain-lain ).



15. Kehidupan Manusia.

1. Tujuan Hidup : Mencari ridho Allah / mardhotillah ( al-An’am 163 ).
2. Tugas Hidup : Mengabdikan diri kepada Allah dalam berbagai aspek kehidupan / ‘ ibadah ( adz-Dzariyat 56 ).
3. Peranan Hidup. Khalifah, wakil Allah untuk mewujudkan kehendak Ilahi dibumi, memakmurkan alam dan lain-lain ( al-An’am 165 ). Pelanjut risalah / menyampaikan ajaran-ajaran Allah dan membelanya ( Ali-‘Imran 110 ).
4. Pedoman Hidup. Al-Qur’an dan as-Sunnah ( al-Isra’ 9; an-Nisa’ 59 dan 105 ).
5. Teladan hidup.
Muhammad Rasulullah saw. ( al-Ahzab 40 ).
6. Kawan hidup. Mu’minin, Mu’minat ( al-Hujurat 10 ).
7. Lawan hidup.
Syaithan dan sifat-sifat syaithan seperti : syirik, kufur dan lain-lain ( al-Baqarah 168 dan al-An’am 142 ).
8. Bekal hidup. Seluruh alam raya dan isinya ( al-Jasiyah 13 ).


16. Tauhid.

1. Tauhid diambil kata : Wahhada Yuwahhidu Tauhidan yang artinya mengesakan. Satu suku kata dengan kata wahid yang berarti satu atau kata ahad yang berarti esa. Dalam ajaran Islam Tauhid itu berarti keyakinan akan keesaan Allah. Kalimat Tauhid ialah kalimat La Illaha Illallah yang berarti tidak ada Tuhan melainkan Allah. ( al-Baqarah 163 Muhammad 19 ).Tauhid merupakan inti dan dasar dari seluruh tata nilai dan norma Islam, sehingga oleh karenanya Islam dikenal sebagai agama tauhid yaitu agama yang mengesakan Tuhan. Bahkan gerakan-gerakan pemurnian Islam terkenal dengan nama gerakan muwahhidin ( yang memperjuangkan tauhid ). Dalam perkembangan sejarah kaum muslimin, tauhid itu telah berkembang menjadi nama salah satu cabang ilmu Islam, yaitu ilmu Tauhid yakni ilmu yang mempelajari dan membahas masalah-masalah yang berhubungan dengan keimanan terutama yang menyangkut masalah ke-Maha Esa-an Allah.

2. Ajaran Tauhid bukan hanya ajaran Nabi Muhammad saw, tetapi merupakan ajaran setiap nabi / rasul yang diutus Allah SWt. ( al-Anbiya’ 25 ).

Nabi Nuh mengajarkan tauhid ( al-A’raf 59 ).
Nabi Hud mengajarkan tauhid ( Hud 50 ).
Nabi Shalih mengajarkan tauhid ( Hud 61 ).
Nabi Syu’aib mengajarkan tauhid ( Hud 84 ).
Nabi Musa mengajarkan tauhid ( Thoha 13-14 ).
Nabi Ibrahim, Ishaq dan Ismail juga mengajarkan tauhid ( al-Baqarah 133 ).
Juga Nabi Isa ajarannya adalah tauhid ( al-Maidah 72 ). Dan lain-lain.

3. Urgensi tauhid dalam Islam dapat dilihat antara lain dari :

a. Sejarah perjuangan Rasulullah saw, dimana hampir selama periode Makkah Rasulullah saw mengerahkan usahanya untuk membina tauhid ummat Islam. Rasul selalu menekankan tauhid dalam setiap ajarannya, sebelum seseorang diberi pelajaran lain, maka tauhid ditanamkan lebih dahulu kepada mereka.
b. Setiap ajaran yang menyangkut ‘ ibadah mahdloh umpamanya senantiasa mencerminkan jiwa tauhid itu, yakni dilakukan secara langsung tanpa perantara.
c. Setiap perbuatan yang bertentangan dengan jiwa dan sikap tauhid yaitu perbuatan syirik dinilai oleh al-Qur’an sebagai : Dosa yang paling besar : ( an-Nisa’ 48 ). Kesesatan yang paling fatal, ( an-Nisa’116 ). Sebab diharamkannya masuk sorga ( al-Maidah 72 ). Dosa yang tidak akan diampuni oleh Allah SWT ( an-Nisa’ 48 ).

4. Manifestasi Tauhid :

I’tikad dan keyakinan tauhid mempunyai konsekuensi bersikap tauhid dan berfikir tauhid seperti ditampakkan pada :
a. Tauhid dalam ‘ibadah dan do’a. Yaitu tidak ada yang patut disembah kecuali hanya Allah dan tidak ada dzat yang pantas menerima dan memenuhi do’a kecuali hanya Allah. ( Al-Fatihah 5 ).
b. Tauhid dalam mencari nafkah dan berekonomi. Yaitu tidak ada dzat yang memberi rizki kecuali hanya Allah ( Hud 6 ). Dan pemilik mutlak dari seluruh apa yang ada adalah Allah SWT. QS.( al-Baqarah 284, an-Nur 33 ).
c. Tauhid dalam melaksanakan pendidikan dan da’wah. Yaitu bahwa yang menjadikan seseorang itu baik atau buruk hanyalah Allah SWT. Dan hanya Allah yang mampu memberikan petunjuk kepada seseorang ( al-Qoshosh 56, an-Nahl 37 ).
d. Tauhid dalam berpolitik. Yaitu penguasa yang Maha Muthlaq hanyalah Allah SWT. ( al-Maidah 18, al-Mulk 1 ). Dan seseorang hanya akan memperoleh sesuatu kekuasaan karena anugerah Allah semata-mata ( Ali-‘Imran 26 ). Dan kemulyaan serta kekuasaan hanyalah kepunyaan Allah SWT.( Yunus 65 ).
e. Tauhid dalam menjalankan hukum. Bahwa hukum yang benar adalah hukum yang datang dari Allah SWT. Serta sumber kebenaran yang muthlaq adalah Allah SWT. ( Yusuf 40 dan 67 ).
f. Tauhid dalam sikap hidup secara keseluruhan, bahwa tidak ada yang patut ditakuti kecuali hanya Allah. ( at-Taubah 18, al-Baqarah 150 ). Tidak ada yang patut dicintai kecuali hanya Allah ( dalam arti yang absolut ) ( at-Taubah 24 ). Tidak ada yang dapat menghilangkan kemudharatan kecuali hanya Allah. ( Yunus 107 ). Tidak ada yang memberikan karunia kecuali hanya Allah. ( Ali-‘Imran 73 ). Bahkan yang menentukan hidup dan mati seseorang hanyalah Allah SWT. ( Ali-‘Imran 145 ).
g. Sampai pada ucapan sehari-hari yang senantiasa dikembalikan kepada Allah seperti : Mengawali pekerjaan yang baik dengan Bismillah = atas nama Allah. Mengakhiri pekerjaan dengan sukses membaca Alhamdulillah = segala puji bagi Allah. Berjanji dengan ucapan Insya Allah = kalau Allah menghendaki. Bersumpah dengan WAllahi, BIlahi, TAllahi = demi Allah. Menghadapi sesuatu kegagalan dengan Masya Allah = semua berjalan atas kehendak Allah. Mendengar berita orang yang meninggal dunia dengan Inna LIlahi Wa Inna Ilaihi raji’un = kami semua milik Allah dan kami semua akan kembali kepada Allah. Memohon perlindungan dari sesuatu keadaan yang tidak baik dengan ucapan A’udzu bIlahi mindzalik = aku berlindung kepada Allah dari keadaan demikian ……………………..Mengagumi sesuatu dengan ucapan Subhanallah = Maha Suci Allah. Terlanjur berbuat khilaf dengan ucapan, Astaghfirullah = aku mohon ampun kepada Allah dan lain-lain.
h. Berhindar dari kepercayaan-kepercayaan, serta sikap-sikap yang dapat mengganggu jiwa dan ruh tauhid seperti : Mempercayai adanya azimat, takhyul, pelet, meminta-minta kepada selain Allah, mengkultuskan sesuatu selain Allah, melakukan tasybih, musyabihah ( antrofomorfisme ) yaitu menganggap Allah berjisim dan lain-lain.

5. Tauhid yang murni akan melahirkan satu sikap yang tunduk dan patuh kepada Allah, yang disebut al-Qur,an dengan sikap sami’na wa atho’na yaitu kami dengar dan kami patuh. Dan kepada mereka yang tidak patuh dinilai sebagai orang yang mengilah-kan hawa nafsu ( al-Jasiyah 23 ). Nabi bersabda : Tidak berzina orang yang berzina kalau dia beriman dan tidak mencuri seorang pencuri kalau beriman ………………………..”.

HABIS BAGIAN KEDUA



akan bersambung lagi ...InsyaAllah
Posted Image

http://www.globalunification.com/associatesASIA001.php
http://www.hi5.com/friend/profile/displayP...userid=24171023
http://www.mesra.net/forum/index.php?act=ST&f=32&t=49475
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
zarith
Member Avatar
Ibu
[ * ]
[size=7]Shalat dan Otak Manusia[/size]


Posted Image


Posted Image


Keajaiban & Iptek Oleh : Sarip 13 Dec 2004 - 1:34 am

Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa menghadap Allah (meninggal dunia),sedangkan ia biasa melalaikan Shalatnya, maka Allah tidak mempedulikan sedikit-pun perbuatan baiknya (yang telah ia kerjakan tsb)". Hadist RiwayatTabrani.

Sholat itu Bikin Otak Kita Sehat" Maka dirikanlah Shalat karena Tuhanmu dan Berkurbanlah' (Q.S Al Kautsar:2)

Sebuah bukti bahwa keterbatasan otak manusia tidak mampu mengetahui semua rahasia atas rahmat, nikmat, anugrah yang diberikan oleh ALLAH kepadanya.

Haruskah kita menunggu untuk bisa masuk diakal kita ???????

Seorang Doktor di Amerika ( Dr. Fidelma) telah memeluk Islam karena beberapa keajaiban yang di temuinya di dalam penyelidikannya. Ia amat kagum dengan penemuan tersebut sehingga tidak dapat diterima oleh akal fikiran.

Dia adalah seorang Doktor Neurologi. Setelah memeluk Islam dia amat yakin pengobatan secara Islam dan oleh sebab itu itu telah membukasebuah klinik yang bernama "Pengobatan Melalui Al Qur'an" Kajian pengobatan melalui Al-Quran menggunakan obat-obatan yang digunakan seperti yang terdapat didalam Al-Quran. Di antara berpuasa, madu, biji hitam (Jadam) dan sebagainya.

Ketika ditanya bagaimana dia tertarik untuk memeluk Islam maka Doktor tersebut memberitahu bahwa sewaktu kajian saraf yang dilakukan, terdapat beberapa urat saraf di dalam otak manusia ini tidak dimasuki oleh darah. Padahal setiap inci otak manusia memerlukan darah yang cukup untuk berfungsi secara yang lebih normal.

Setelah membuat kajian yang memakan waktu akkhirnya dia menemukan bahwa darah tidak akan memasuki urat saraf di dalam otak tersebut melainkan ketika seseorang tersebut bersembahyang yaitu ketika sujud. Urat tersebut memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja. Ini artinya darah akan memasuki bagian urat tersebut mengikut kadar sembahyang waktu yang iwajibkan oleh Islam. Begitulah keagungan ciptaan Allah.

Jadi barang siapa yang tidak menunaikan sembahyang maka otak tidak dapat menerima darah yang secukupnya untuk berfungsi secara normal. Oleh karena itu kejadian manusia ini sebenarnya adalah untuk menganut agama Islam "sepenuhnya" karena sifat fitrah kejadiannya memang telah dikaitkan oleh Allah dengan agamanya yang indah ini.

Kesimpulannya :
Makhluk Allah yang bergelar manusia yang tidak bersembahyang walaupun akal mereka berfungsi secara normal tetapi sebenarnya di dalam sesuatu keadaan mereka akan hilang pertimbangan di dalam membuat keputusan secara normal. Justru itu tidak heranlah manusia ini kadang-kadang tidak segan-segan untuk melakukan hal hal yang bertentangan dengan fitrah kejadiannya walaupun akal mereka mengetahui perkara yang akan dilakukan tersebut adalah tidak sesuai dengan kehendak mereka karena otak tidak bisa untuk mempertimbangkan Secara lebih normal.

Maka tidak heranlah timbul bermacam-macam gejala-gejala sosial Masyarakat saat ini.

Sumber : National Geographic 2002 “ Road to Mecca”



Dipetik Dari:

Hak cipta dilindungi oleh Allohu Subhanahu wa Ta'ala
TIDAK DILARANG KERAS mengcopy, memperbanyak, mengedarkan
untuk kemaslahatan ummat syukur Alhamdulillah sumber dari swaramuslim dicantumkan
Posted Image

http://www.globalunification.com/associatesASIA001.php
http://www.hi5.com/friend/profile/displayP...userid=24171023
http://www.mesra.net/forum/index.php?act=ST&f=32&t=49475
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
zarith
Member Avatar
Ibu
[ * ]
Posted Image


Ketahuilah olehmu wahai saudaraku, hakikat makrifat itu terhimpun ia atas tiga[3] perkara iaitu;

• 1. Pegangan yang putus[tetap dan teguh]
• 2. Muafakat bagi yang sebenar [betul dengan hukum syarak]
• 3. Daripada dalil Akal dan dalil Naqal daripada Al-Quran dan Hadis

Maka tertolak(batal)makrifat itu tiga perkara pula iaitu;

• 1. Syak
• 2. Dzan
• 3. Waham

Adapun erti syak itu bersamaan berat antara ada dengan tiada pada hati seseoarang. Erti Dzan itu dua bahagi berat kepada ada[2/3] dan satu bahagi berat kepada tiada[1/3].Erti Waham itu dua bahagi ringan kepada tiada dan satu bahagian ringan kepada ada.

Maka jika ada satu daripada yang tiga ini di dalam hati seseorang maka tiadalah memadai makrifatnya.

Jika ia yakin lagi putus pegangannya dan muafakat bagi yang sebenar tetapi tiada dengan dalil, dinamakan dia taklid yang Sholeh bukan nama makrifat. Maka yang demikian itu pada Qaul[Pendapat] yang muktamat, mereka ini adalah mukmin yang 'Ashi (mukmin yang derhaka) jika ia mempunyai akal. Derhakanya ia kerana tiada mahu belajar sedangkan dia sihat.

Ketiga; pegangan yang putus tiada muafakat dengan yang sebenar dan tiada daripada dalil, maka dinamakan orang itu Jahil Murakkab(Jahil yang bersusun) seperti kata orang yahudi "bahawasanya Nabi Isa anak Allah" atau seperti i'tiqad majusi dengan dua tuhan satu tuhan dilangit dan satu tuhan dibumi. Maka orang itu tiada khilaf(bersalahan) ulama akan bahawasanya ia kafir. Mahasuci Allah Taala itu diperanakkan dan beranak seperti firmanNya dalam Suratul-Ikhlas ayat 3 -4 yang bermaksud;

"Tiada beranak Ia dan tiada diperanakkan dan tiada sebangsa baginya seseorang".(Surah Al-Ikhlas;3-4)

"Jika ada di dalam tujuh petala langit dan bumi, ketuhanan yang lain daripada Allah Taala, nescaya binasa keduanya(Surah Al-Ambiya';22) dan lagi firmanNya yang bermaksud;

Jangan kamu ambil akan dua tuhan.Sesungguhnya tuhan itu Tuhan Yang Esa (Surah Al-Nahl;51).

Bermula mengetahui dua puluh sifat itu setengah daripada jalan mengenal Allah Taala dengan Ilmu(Ilmu Yakin) kerana mengenal Allah dengan berdalil kepada sekelian Alam dan memikirkan akan segala kejadian seperti firman Allah dalam Suratul Imran:190 - 191 yang bermaksud:

"Bahwasanya pada kejadian langit dan bumi dan bersalahan malam dan siang sebagai tanda bagi orang yang mempunyai fikiran, mereka yang sentiasa menyebut akan Allah Taala pada waktu berdiri dan pada waktu duduk dan pada waktu berbaring atas lambung dan sentiasa memikir mereka itu pada segala kejadian langit dan bumi."

Pengetahuan mengenai sifat-sifat yang Wajib bagi Allah dan Rasul , sifat-sifat yang Mustahil dan Harus bagi Allah dan Rasul ini kenali juga dengan ilmu-ilmu berikut:

• Ilmu Tauhid
• Ilmu Usuluddin
• Ilmu Kalam
• Ilmu 'Aqaid
• Ilmu Sifat Dua Puluh
• Ilmu Akal

Perbincangan mencakupi perbahasan tentang makna dan maksud yang tersirat di sebalik pengucapan Kalimah Syahadah. Meliputi perkara-perkara seperti;

• Makna Ketuhanan
• Hakikat Ketuhanan
• Sifat-sifat Ketuhanan

yang wajib dipelajari oleh setiap muslim bagi tujuan untuk mentahkidkan pegangan seseorang agar dapat mengenal dan membeza Ketuhanan Allah Taala yang ULUHIYAH DAN RUBUBIYAH. Ilmu Tauhid inilah yang menjadi asas dan tapak permulaan untuk meneroka ilmu-ilmu yang seterusnya seperti Ilmu Tasauf dan Ilmu Tahqiq(Martabat Tujuh) yang akan membebaskan seseorang daripada najis syirik Jali [besar] dan syirik Khofi [halus/tersembunyi].

Adapun memikirkan akan segala kejadian itu bukanlah semata-mata pada langit dan bumi sahaja bahkan semua kejadian adalah dijadikan untuk mengambil dalil yang menunjukkan akan ketunggalan Allah Taala dan kekuasaannya. Demikian lagi sama juga dengan memandang dan memikir pada kejadian diri kita juga daripada yang pelik dan pekerjaan yang ganjil yang lemah oleh pancaindera pemikiran yang sama dengan pandangan kepada kejadian langit dan bumi ialah tanda bagi yang berakal mengenal dan mengingat akan tuhan yang amat bijaksana seperti firmannya dalam Suratul Zaariyat yang bermaksud;

"Dan pada diri kamu adakah tiada melihat kamu" [yakni sebagai melihat yang jadi pengajaran].

Maka dari sinilah sebahagian daripada Ilmu Tasauf mengajar mengenal diri dan jika kenal diri barulah kenal Allah. Harap pembaca dapat turut mengupas yang berikutnya...Insya Allah.




Penulisan ini adalah sebagai panduan umum. Sebaiknya untuk mendapat penjelasan lanjut eloklah dirujuk kepada Guru-guru yang Ahli dalam Ilmu ini terutamanya Ilmu Usuluddin dan Ilmu Tahqiq [Martabat Tujuh]


Jika ada kesamaran atau kemusykilan sila rujuk kepada orang yang Alim dalam bidang ini

Semoga Allah memberi taufiq dan hidayahnya

TIADA DAYA DAN UPAYA MELAINKAN DENGAN BANTUAN ALLAH DAN KURNIA RAHMATNYA
Posted Image

http://www.globalunification.com/associatesASIA001.php
http://www.hi5.com/friend/profile/displayP...userid=24171023
http://www.mesra.net/forum/index.php?act=ST&f=32&t=49475
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
zarith
Member Avatar
Ibu
[ * ]
Posted Image



[size=7]Yang DiNamakan Agama[/size]



Adapun yang dinamakan agama itu ibarat daripada terhimpun padanya empat[4] perkara iaitu;

1. Iman
2. Islam
3. Tauhid
4. Makrifat


Erti Iman itu ialah percaya dan membenarkan barang(sesuatu) yang didatangkan oleh Rasulullah SAW.; iaitu tiap-tiap perkara yang disampaikan dan diajarkan oleh Nabi itu sebenarnya datang dari Allah. Bukanlah buatan dan rekaan daripada Nabi seperti firman Allah yang bermaksud;

Tiada ia(Nabi) bertutur daripada pihak kemahuan dirinya melainkan ia(Nabi) bertutur itu wahyu yang diwahyukan kepadanya.

Juga ada tersebut dalam sebuah hadis Qudsi yang menunjukkan akan kebenaran Rasulullah SAW. dengan firman Allah yang bermaksud:

Telah benarlah hambaku(Muhammad SAW.) pada tiap-tiap barang yang menyampai ia daripadaKu(Allah).

Dan adalah kesimpulan Iman itu dinamakan Rukun Imam. Ianya mencakupi enam[6] perkara iaitu;

1. Percayakan Allah
2. Percayakan Malaikat
3. Percayakan Kitab Allah
4. Percayakan Segala Rasul Utusan Allah
5. Percayakan Hari Qiyamat
6. Percayakan Untung Baik dan Untung Jahat itu daripada Allah


Adapun makna percaya akan Allah itu ialah 'Itiqad dengan jazam[tetapdan teguh] yang putus bahawasanya Allah Taala itu adalah Tuhan Yang Esa(Tunggal) yang bersifat dengan segala sifat kesempurnaan yang menjadi sekelian makhluk dan mentadbirkannya dengan bijaksana dan wajib dikenal akan Allah dengan sebenar-benar pengenalan dan patut disembahkanNya.

Dan makna percayakan malaikat itu ialah percayakan bahawa Malaikat itu hamba Allah Taala yang bukan mereka itu laki-laki atau perempuan dan tiada mereka itu beribu dan berbapa dan tiada mereka itu makan dan minum dan tiada mereka itu tidur. Adalah pekerjaan mereka itu mengikut apa yang dititahkan oleh Allah Taala dan bilangan mereka itu terlalu banyak tiada boleh mengetahuinya melainkan Allah Taala jua. Sekelian mereka itu terpelihara daripada mengerjakan maksiat lagi suci mereka itu daripada segala sifat manusia. Bahawasanya penghulu-penghulu mereka itu empat iaitu;

1. Jibrail menyampaikan wahyu
2. Mikail menurunkan hujan dan menjaga rezeki
3. Israfil meniup sangkakala
4. 'Izrail mencabut nyawa


dan wajib diketahui akan mereka itu atas jalan tafsil sepuluh malaikat mengikut tugas/pekerjaan iaitu;

Munkar dan Nakir yang menanya keduanya kepada segala orang yang telah mati.
Malik Ridzuan menjaga syurga.
Malik Zabaniah menjaga neraka.
Rakid dan Atid satu pada kanan Mukallaf dan satu pada kiri menyurat keduanya akan sekelian kebajikan dan kejahatan yang dikerjakan oleh mukallaf itu.


Wajib pula mengetahui beberapa malaikat yang menanggung 'Arash' dan mereka itu sekarang ini empat malaikat dan ditambah akan mereka itu empat malaikat lagi pada hari qiyamat yang mana jumlah semuanya adalah lapan sebagaimana Firman Allah yang bermaksud;

"Menanggung ia [malaikat] akan 'Arasy Tuhan engkau atas mereka itu pada hari Qiyamat lapan orang".

Dan makna percaya akan Kitab Allah Taala itu iaitu beramal dengan segala suruhannya dan menjauh segala tegahan serta yakin dan percaya dengan sebenar-benar kepercayaan bahawasanya sebenar daripada Allah Taala. Bahawasanya kitab yang diturunkan dari langit itu sebanyak 104 Suhuf;

50 Suhuf diturunkan kepada Nabi Syis
30 Suhuf diturunkan kepada Nabi Idris
10 Suhuf diturunkan kepada Nabi Ibrahim
10 Suhuf diturunkan kepada Nabi Musa dahulu sebelum daripada Kitab Tuarat
Kitab Taurat bagi Nabi Musa
Kitab Injil bagi Nabi Isa
Kitab Zabur bagi Nabi Daud
Kitab Al-Qur'an bagi Nabi Muhammad SAW.


Maka sekelian yang tersebut itu wajib kita percaya dan membenarkannya. Akan tetapi apabila dibangkitkan Nabi Muhammad SAW. dan diturunkan kepadanya Al-Qur'an, maka tiada harus mengikut akan yang lain daripada Al-Qur'an kerana Al-Qur'an menghimpunkan dan menasakhkan akan segala hukum yang turun kepada rasul-rasul yang dulu daripada Nabi Muhammad SAW.

Dan makna percaya akan sekelian Ambiya' 'Alaihissalamtu-Wassalam adalah sekelain mereka itu 124 000 orang atas Qaul yang masyhur dan yang jadi Rasul daripada mereka itu 313 orang. Wajib dipercayai apa-apa yang dikhabarkan oleh mereka itu adalah sebenarnya titah daripada Allah Taala seperti segala suruhan dan tegahnya bukan daripada hawa nafsu mereka itu(rasul-rasul) sendiri tetapi adalah datang daripada Wahyu Allah.

Dan makna percaya akan hari Qiyamat ialah percayakan kedatangan hari penentuan yang lagi akan berlaku dengan tiada syak. Termasuk juga percaya akan alam kubur, hari bangkit semula,hari perhimpunan(masyar), kiraan amalan, mizan, pembahagian surat amalan, titian sirat, syafaat Kubra Nabi Kita Muhammad SAW.,syurga dan neraka dan lain-lain yang berkaitan dengan hari Qiyamat.

Dan percaya kepada untuk baik dan untung jahat sekeliannya adalah dengan kuasa dan kehendak Allah yang telah ditentukan dan dikadarkan daripada azali lagi.

Bermula Iman ada kalanya bertambah dengan sebab bertambah taat manusia dengan mengerjakan segala titah perintah Allah dan menjauhkan segala larangan dan ada kalanya kurang dengan sebab kurang taat dengan sebab mengerjakan maksiat seperti firman Allah dalam Surah Al-Anfaal: 3 yang bermaksud;

"Dan apabila dibaca atas mereka itu akan ayat-ayat Allah Taala nescaya bertambah mereka itu imannya". dan sabda Nabi SAW. yang bermaksud;

'Bermula Iman itu lebih daripda tujuh puluh cawangan". {Riwayat Bukhari)

Dan adalah martabat orang mukmin itu tiga martabat iaitu;

1.Dholim Linafsih iaituZalim dirinya sendiri iaitu mereka sentiasa mengerjakan maksiat atau mereka yang mencampur amal-amal yang sholeh dengan kejahatan.

2. Muktasid iaitu mereka yang beramal atas perkara-perkara yang wajib dan menjauhkan perkara yang haram dengan tidak menambahkan amalan-amalan yang sunat dan tiada kurang dengannya.

3. Saabiqul Bilkhoiraat iaitu mereka yang berlumba kepada kebajikan iaitu mereka sentiasa Taqarub(mendekatkan diri) kepada Allah dengan mengerjakan segala yang wajib dan segala yang sunat serta meninggalkan perkara yang haram dan yang makruh seperti firman Allah dalam Surah Al-Fatir;32 yang bermaksud;

"Kemudian Kami pusakakan kitab itu untuk orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami. Di antara mereka ada yang aniaya kepada dirinya(tidak mengikut isi kitab/Dholim Linafsih ) dan di antaranya ada yang sederhana(menurut sekadar tenaganya/Muktasid) dan di antaranya ada yang maju(Saabiqul Bilkhoiraat) memperbuat kebajikan dengan izin Allah. Itulah kurnia yang besar".

Adapun keadaan Iman itu setengah ulama telah membahagikan kepada lima bahagian iaitu;

1. Iman Taklid iaitu iman yang mengambil daripada perkataan orang dengan tiada boleh mengeluarkan dalil. Iman ini ada pada kebanykan orang awam.

2. Iman Ilmu Yakin iaitu iman yang jadi daripada makrifat pada segala 'Aqaid dengan segala dalil. Iman ini adalah bagi orang-orang yang mempunyai dalil dan burhan.

3. Iman 'Ainul Yakin iaitu iman yang jadi daripada makrifat hati bagi Allah Taala dengan sekira-kira tiada ghaib daripada hatinya dengan sekejap mata jua pun. Iman ini bagi Ahli Muroqabah dinamakannya Makam Muroqabah.

4. Iman Haqqul Yakin iaitu iman yang jadi daripada musyahadahkan Allah Taala dengan Ainul Basyirah(mata hati). Iman ini bagi orang Arif yang dinamakan Maqam Musyahadah.

5. Iman Kamalul Yakin atau iman daripada hakikat iaiutu iman yang jadi daripada keadaan tiada memandang ia melainkan Allah Subhanahuwataala. Iman ini bagi orang yang Tahqiq yang dinamakan Makam Fana. {Petikan daripada Kitab 'Aqiidatun-Najin}

Adapun erti Tauhid itu mengesakan Zat Allah Taala dan mengesakan SifatNya dan mengesakan AsmaNya dan mengesakan AfaalNya.

Adapun erti makrifat itu mengenalkan yakni mengenalkan ZatNya yang Wajibal Wujud dan mengenalkan setengah daripda Sifat Kamalat Tuhan yang tiada terhingga banyaknya dan mengenalkan setengah daripada AfaalNya yang mengadakan Mumkin daripada tiada kepada ada dan daripada ada kepada tiada.

Maka mengenal ini difardukan atas tiap-tiap mukallaf yang 'Akil Baligh lelaki dan perempuan kerana setengah daripada permulaan yang wajib atas tiap-tiap mukallaf mengetahui dan belajar dan mengajar akan dia sebagaimana sabda Rasulullah SAW. yang bermaksud;

"Permulaan agama ialah mengenal Allah".

yakni mengenal setengah daripada SifatNYa yang wajib lagi sabit bagi Zat Tuhan kita; dan yang mustahil padanya dan harus padaNya seperti yang difatwakan oleh Imam Sanusi Rahimallahi Taala dengan katanya;

"Dan wajib atas tiap-tiap mukallaf pada syarak mengetahui barang yang wajib pada hak Tuhan kita dan barang yang mustahil padaNya dan barang yang harus padaNya dan demukian juga pada hak segala Rasul 'Alaihi Sholaatu Wassalam."

Maka dengan mengenal yang demikian itu barulah sah ibadatnya. Ini diambil faham daripada sabda Rasulullah yang bermaksud;

"Tiada sah ibadat melainkan kenal tuhan yang diibadat akan Dia."

Tetapi bukanlah disuruh kenal itu Kunhi(Ain) Zat Allah Taala kerana Kunhi Zat Allah Taala tiada dapat oleh pendapat segala makhluk melainkan Nabi kita Muhammad SAW. ketika ia mikraj jua seperti Firman Allah yang bermaksud

"Tiada mendapat akan Dia (Allah) oleh segala penglihatan dan Ia jua yang mendapat akan penglihatan" dan lagi sabda Nabi SAW yang bermaksud :

"Bahawasanya Allah Taala terdinding Ia daripada penglihatan dan bahawasanya segala malaikat yang di atas menuntut akan Dia sebagaimana kamu tuntut akan dia itu"

Dan makna terdinding Alaah Taala daripada penglihatan samada penglihatan yang zhohir iaitu tiada dapat dipandang atau dilihat akan Kunhi zat Allah Taala di dalam dunia ini maka tiap-tipa perkara yang didapati dengan pancaindera di dalam dunia ini adalah sekeliannya itu makluk bukan Tuhan.

Atau dengan fikiran iaitu tiada dapat memikir akan hakikat Kunhi zat dan kerana Tuhan itu :

"Tiada seumpama Allah Taala itu suatu dan Ia jua Tuhan yang amat mendengar lagi amat melihat".

Dan Sabda Nabi SAW yang bermaksud :"Mahasuci engkau (hai Tuhanku) tiada aku kenal akan dikau sebenar-benar pengenalan"

Dan kata Saiyyidina Abu Bakar Al-Sidiq RA. "Lemah daripada pendapat itulah pendapat". dan kata Sayyidina Ali RA. "Tiap-tiap barang yang terlintas pada cita-citamu dan yang berupa pada hatimu maka Allah Taala bersalahan akan yang demikian itu".

Dan kata Sayyidina Jaafar Al-Shodiq RA."Barang(sesuatu) yang terlintas di hati engkau maka iaitu binasa. Bermula Allah Taala menyalahi yang demikian itu"

Dan kata segala 'Arifin "Demikianlah Ijmak(sepakat) Ahli Sunnah Wal Jammah...tiap-tiap barang yang tersangka dengan segala sangka kamu dan dapat akan dia dengan akal kamu maka adalah ia baru seumpama kamu".

Kerana yang demikian itulah Rasulullah bersabda dengan maksudnya;

Fikir oleh kamu pada segala kejadian dan jangan kamu fikir pada Yang Menjadi kerana bahawasanya tiada dapat meliputi fikiran kamu."

iaitu hendaklah fikir kepada segala kejadian Allah seperti langit bumi dan barang antara keduannya yang menunjukkan akan keesaan Allah dan kekuasaan.

Bahawasanya Allah Taala bersifat Ia dengan segala Sifat Kamalat yang tiada terhingga baiknya melainkan Ia jua Yang Tahu. Tiada wajib atas tiap-tiap mukallaf mengetahui akan dia dengan jalan tafsil(perincian) melainkan dua puluh sifat jua seperti kata Imam Sanusi Rahimallahi Taala " Setengah daripada barang yang wajib mengetahui oleh tiap-tiap mukallaf bagi Tuhan kita 20 sifat.

Oleh itu tiap-tiap seorang daripada kita WAJIB mempelajari Ilmu Sifat 20 ini yang juga disebut seperti kenyataan di atas tanpa mengira siapa kita.





Jika ada kesamaran atau kemusykilan sila rujuk kepada orang yang Alim dalam bidang ini

Semoga Allah memberi taufiq dan hidayahnya

TIADA DAYA DAN UPAYA MELAINKAN DENGAN BANTUAN ALLAH DAN KURNIA RAHMATNYA
Posted Image

http://www.globalunification.com/associatesASIA001.php
http://www.hi5.com/friend/profile/displayP...userid=24171023
http://www.mesra.net/forum/index.php?act=ST&f=32&t=49475
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
zarith
Member Avatar
Ibu
[ * ]
Posted Image




[size=7]PERBEZAAN PENGHAYATAN TAUHID [/size]

Menyingkap Perbezaan Penghayatan Tauhid Antara Golongan Awam, Ulama Zhohir dan Ahli Sufi



Dan (orang-orang yang beriman kepada Allah), kebanyakan mereka tidak beriman kepada Allah melainkan mereka mempersekutukannya juga dengan yang lain.(Surah Yusof:106)


Seorang tokoh sufi terkemuka Al-Junaid Al-Bagdadi menyimpulkan bahawa majlis yang paling mulia dan paling terhormat ialah majlis yang terdapat di dalamnya perbincangan mengenai bidang Tauhid.

Hujjatul Islam Imam Ghazali menyokong kenyataan di atas dengan catatannya sebagaimana berikut;


Orang-orang yang mempunyai Ilmu Tauhid ini adalah yang paling utama di antara ulama-ulama lain. Sebab inilah Allah Taala menyebut mereka ini secara istimewa pada tingkat yang tertinggi sebagaimana firmannya yang bermaksud:

"Allah telah terangkan bahawa tidak ada tuhan melainkan Dia yang berdiri dengan keadilan dan disaksikan oleh malaikat dan ahli-ahli ilmu."(Surah Al-Imran, ayat 18).

Oleh itu ulama-ulama Ilmu Tauhid secara umumnya adalah Nabi-nabi, selepas mereka barulah ulama-ulama yang menjadi ahli waris Nabi-nabi".


Tetapi apakah sebenarnya Tauhid itu?

Bicara ini cuba mengajak saudara-saudaraku berkenalan secara yang agak kristis hal-hal yang berkaitan dengan Tauhid ini, pengilmuan dan pemahamannya mengikut beberapa golongan manusia beriman; sikap dan perbezaan penghayatan golongan-golongan tersebut berbanding dengan pendekatan ahli-ahli sufi...insya Allah..

Dari aspek bahasa, sebagaimana yang dijelaskan oleh A-Jurjani serta juga yang dicatatkan oleh Al-Qusyairi,

Tauhid itu adalah "SATU" serta mengetahui pula tentang satunya sesuatu itu.

Al-Tahanawi menjelaskan bahawa;

Tauhid itu dari segi bahasa ialah menjadikan i'tiqad tentang Keesaan Allah.
Manakala pada pandangan golongan sufi pula ia merupakan suatu "makrifat" tentang Keesaan Allah yang tetap bagiNya sama ada dalam hubungan dengan azali atau hadas(baru).


Melalui keterangan dan penjelasan beberapa pemuka ulama di atas, nyatalah bahawa Tauhid itu

merupakan suatu pegangan,
pengilmuan dan
sesuatu yang bersabit dengan penghayatan tentang pengesaan dan Keesaaan Allah Taala.


Pegangan bagaimanakah yang dikehendaki sebenarnya?
Ilmu apakah yang dimaksudkan?
Bagaimanakah rupa wajah Keesaan yang perlu dihayati?

Yang nyata daripada definisi Tauhid di atas, seolah-olah wujudnya pembahagiaan terhadap Tauhid berasaskan golongan mana yang memperkatakannmya. Ini adalah kerana pegangan, kedalaman ilmu dan wajah-wajah penghayatan antara beberapa golongan manusia adalah berbeza-beza mengikut kadar kesedarannya pada maksud beragama dan maksud Keesaan Ketuhanan

Terdapat di satu pihak apa yang dikatakan sebagai Tauhid Al-I'tiqad iaitu yang diperkatakan oleh kalangan ulama.
Manakala di satu pihak lagi sebagai Tauhid Al-Makrifat yang diperkatakan oleh Ahli Sufiah.


Untuk melihat lebih jauh pembahagiaan Tauhid ini, bolehlah diperhatikan sudut pandangan Al-Junaid Al-Bagdadi yang mengatakan;

Ketahuilah bahawa Tauhid di kalangan manusia terbahagi kepada empat jenis;

Pertama Tauhid golongan awam;
Kedua, Tauhid golongan yang mahir dalam ilmu-ilmu keagamaan yang zhohir;
dan dua jenis lagi ialah Tauhid Al-Khowas yang lahir daripada golongan Ahli Makrifat.


Seorang tokoh sufi yang lain, Yusof ibn Al-Husayn membahagikan Tauhid kepada tiga kategori; iaitu lebih kurang sama dengan apa yang diperkatakan oleh Al-Junaid.

Pertama, ialah apa yang diistilahkan sebagai Tauhid Al-Ammah
Kedua, Tauhid golongan yang mantap dengan ilmu keagamaan yang zhohir dan
Ketiga, ialah Tauhid al-Khossah.


Tidak hairanlah kita akan menemui pembahagian Tauhid ini seperti yang tercatat dalam Kitab Kasful Asror sebagaimana berikut;

"Adapun orang yang mengatakan(memahami) kalimah Tauhid itu atas tiga bahagi iaitu;

Martabat orang Mubtadi,
Martabat orang Mutawassit dan
Martabat orang Muntahi"


Sudut-sudut pandangan sebagaimana yang diketengahkan di atas, secara jelas memperlihatkan wujudnya pembahagian yang berbeza sekitar pegangan, darjah keilmuan, pengalaman beragama dan penghayatan Tauhid, yang pada umumnya boleh dibahagikan kepada dua kategori yang utama;

Pertama, Tauhid yang bersifat zhohir yang dipegang dan dihayati oleh golongan awam dan orang yang mantap dalam bidang-bidang ilmu keagamaan yang zhohir, dan
Keduanya, Tauhid Al-Khowas dan Al-Khossah yang dihayati oleh kalangan ahli sufi..


Berhubung dengan Tauhid yang bersifat zhohir, maka dapatlah diperhatikan bahawa ia merujuk kepada suatu kategori i'tiqad terhadap kewujudan Keesaan Allah dan pengertian membezakan Allah daripada seluruh makhluk ciptaanNya dari aspek Zat, pelbagai Sifat dan pelbagai Afa'alNya. Ini memaknakan bahawa bahawa seseorang sudah melaksanakan Tauhid bila mana ia telah menyifatkan Allah dengan sifat-sifat

Wujud
Qidam,
Baqa,
Qiyamahu binafsih(berdiri dengan sendiri)
Ilmu
Hayat
Qudrat
Iradah yang mutlak
Penghidup
Pendengar
Pelihat
Pekata,serta
lain-lain sifat Kesempurnaan yang layak bagi Allah;
dan sekaligus pula menyifatkan makhluk ciptaan Allah dengan sifat-sifat lain yang baharu(hadis),
berubah,
berakhir,
fana serta
lain-lain yang layak bagi makhluk.


Inilah sebenarnya apa yang terkandung dalam Mukholafatahu Taala Lil-Hawaadis. Ia merupakan apa yang diistilahkan sebagai tanzih, kerana pemusatan perbicaraan adalah di sekitar pengertian kesatuan dalam i'tiqad Ketuhanan, iaitu suatu usaha pembersihan Allah daripada sesuatu yang tidak layak pada Allah di samping persamaan dan keserupaan pada seluruh sifat-sifat yang dimiliki oleh makhluk.

Di dalam memahami dan menghayati pegangan sebenar maksud Ketuhanan, wujud pula perbezaan di kalangan individu dalam golongan ini. Yang awam dengan kefahamannya sendiri sehingga langsung berpuas hati sekadar apa yang diluluskan oleh syarak. Mereka tidak mampu menterjemahkan dalam kehidupan seharian, jauh sekali untuk menghayati makna Ketuhanan dengan mendatangkan dalil-dalil akli dan naqli. Tanpa sedar mereka terjerumus ke dalam I'tiqad-i'tiqad yang salah, mempersektukan Tuhan tanpa sengaja sehingga secara terang-terangan terjelma dalam bentuk pengucapan dan tindak-tanduk mereka. Inilah golongan yang menafikan "Ma'bud" yang lain dengan mengisbatkan Allah sebagai sebenar-benarnya Tuhan; tetapi dalam masa yang sama mendirikan sifat-sifat Ketuhanan pada makhluk. Ada lagi yang lebih parah mengi'tiqadkan Ma'bud yang dinafikan dalam kalimah Syahadah ialah menafikan tuhan-tuhan seperti berhala, api, matahari, bulan dan sebagainya; sedangkan bukanlah begitu yang sebenarnya mengikut perkiraan ulama-ulama Mutakallimun.

Dengan kata lain, pada satu pihak, golongan awam ini telah sedar dan percaya kepada wujudnya Allah, tetapi pada pihak yang lain, mereka masih meraba-raba dalam menghayati maksud Ketuhanan seperti yang sebenarnya. Mereka tidak punya ilmu dan kefahaman tentang Ketuhanan ini sebagai yang dikehendaki oleh ulama Mutakallimun.

Golongan Mutakallimun meneroka dengan keupayaan akal fikiran mereka mengkaji dan menyelidiki dengan lebih jauh akan makna Ketuhanan ini. Dengan menetapkan hukum akal, hukum adat dan hukum Ketuhanan, perbahasan tentang makna Ketuhanan ini dikupasi sehingga lahirlah berbagai-bagai istilah dan idea yang mengajak manusia untuk sama-sama mentahqiqkan kefahaman mereka dengan dalil-dalil yang jelas dan nyata berdasarkan Akli dan Nakli. Mereka bebaskan pemikiran mereka dari t'tiqad-i'tiqad yang tidak sebenar dan pemahaman-pemahaman yanga terseleweng. Mereka hayati pegangan dan kepercayaan mereka dalam kehidupan mereka sehingga ianya terjelma dalam percakapan dan tindak-tanduk mereka sebagai seorang yang ahli dan alim dalam Ilmu Kalam atau Ilmu Usuluddin.

Bagaimanapun dari sudut pandangan sufi, terdapat sedikit perbezaan antara tanggapan dan penghayatan Tauhid di kalangan muslim awam dan kalangan yang mahir dalam ilmu-ilmu keagamaan yang zhohir; meskipun kedua-dua kalangan tersebut masih sama-sama berada pada paras yang zhohir. Hal ini dapat dimengertikan dengan jelas bila diteliti sudut pandangan Sheikh Junaid Al-Bagdadi sebagaimana berikut;

"Adapun Tauhid golongan awam adalah merupakan pengingkaran tentang keesaan Allah dengan

penyingkiran pandangan terhadap pelbagai Tuhan yang lain,
bandingan,
lawan,
kesamaan dan
keserupaan denganNya;
berserta dengan tidak melakukan apa-apa terhadap pelbagai tekanan dalam bentuk kemahuan dan ketakutan daripada pihak yang lain daripada Allah.



Tauhid jenis ini memiliki ukuran kemujaraban selama mana ikrar masih kekal.

Adapun Tauhid di kalangan orang yang mantap keilmuaan zhohir merupakan pengikraran tentang Keesaan Allah dengan menyingkirkan

pandangan terhadap pelbagai Tuhan(yang lain),
bandingan,
lawan,
kesamaan,
dan keserupaan denganNya;
bersama melaksanakan perintah dan berhenti daripada melakukan yang dilarang pada aspek yang bersifat zhohir....."
Nyatalah bahawa perbezaan tertumpu pada aspek sikap, di mana golongan awam bersikap pasif, sedangkan golongan yang satu lagi bersifat lebih aktif.


Seterusnya jika mendekati secara langsung untuk melihat sudut pandangan para ahli Sufi berhubung dengan kategori Tauhid yang sedang dibicarakan, maka dapatlah dijelaskan bahawa umumnya dari aspek pegangan para pemuka kaum sufi telah membina kaedah di atas asas yang betul dalam hal yang berhubung dengan Tauhid. Mereka menjaga rapi akidah mereka daripada sebarang unsur bida'ah. Mereka berpegang dengan apa yang dipegang golongan Al-Salaf dan Ahli Sunnah mengenai Tauhid yang tidak ada unsur penyamaan Allah dengan segala yang baru; dan tidak pula menafikan sifat-sifat yang dimiliki oleh Allah. Mereka mengiktiraf makhluk yang wujudnya berasal dari tiada.

Golongan sufi sepakat mengatakan bahawa Allah itu

Satu,
Tunggal,
Maha Esa,
Qadim,
Maha Mengetahui,
Maha Mendengar,
Maha Melihat,
Maha Pengasih,
Maha Penyayang,
Maha Berkehendak,
Maha Bijaksana,
Berkata-kata,
Maha Pencipta.
Mereka menyifatkan Allah dengan setiap Nama yang Allah sendiri menamakan diriNya. Allah sentiasa Qadim dengan segala Nama dan SifatNya,
Tidak menyerupai makhluk dari mana sudut sekalipun; Zat dan SifatNya,
Tidak menyerupai zat dan sifat yang selain daripadaNya;
Sedikitpun unsur kemakhlukan yang bersifat Hadis(baru) tidak ada padanya.
Allah sentiasa mendahului dan terkedepan dengan segala sesuatu yang bersifat Hadis;
Selain dariNya tidak ada apa yang bersifat Qadim;
Tuhan lain daripadaNya juga adalah tidak ada.
Allah itu bukan jisim, bukan bentuk, bukan rupa, bukan jauhar dan bukan 'aradh.
Dengannya tidak ada percantuman dan tidak ada perceraian, tidak ada diam, tidak ada gerak, tidak berkurang dan tidak bertambah;
Tidak dikuasai oleh lalai dan lupa;
Tidak pula diingkari oleh waktu;
Tidak juga boleh ditentukan menerusi isyarat;
Tidak tertakluk oleh ruang dan waktu;
Allah juga tidak boleh disentuh dan dipisah-pisahkan;
Tidak menempati sesuatu tempat;
Tidak boleh dicapai oleh pemandangan.


Menerusi unsur-unsur pengithbatan di satu pihak dan penafian di pihak yang lain, sebagaimana yang disepakati oleh ahli-ahli sufi seperti di atas, maka terserlahlah secara jelas unsur mukholafatahu Taala lil hawaadis.

Dasar mereka tetap sama sebagaimana golongan-golongan tersebut. Ini dapat kita lihat pada pandangan ahli-ahli sufi terhadap kategori Tauhid yang bersifat zhohir.

Al-Husyan ibn Mansur Al-Hallaj ada berkata;

"Hukumkanlah bahwa makhluk semua adalah Hadis, kerana keqadiman adalah untuk Allah sahaja"

Tauhid itu murujuk kepada pengetahuan engkau bahawa kekuasaan Allah di dalam semua benda(adalah bentuk). Dia tidak menempati benda-benda, bukan dengan pengantaraan alat-alat tertentu;......tidak ada pentadbir lain selain daripada Allah di langit yang tinggi dan di bumi yang rendah. Bagaimanapun juga waham engkau cuba menggambarkjanNya, maka Allah adalah berbeza daripada segala itu.

Tauhid ialah keteguhan hati mengithbatkan ketiadaan ta'til, serta mengingkari tashbih. Tauhid itu dari segi bahasa ialah satu; dengan kerana itu setiap apa yang tergambar dalam waham dan fikiran, maka Allah tentunya berbeza daripada semua itu, kerana Allah ada berfirman yang bermaksud;

"Tiada sesuatupun yang Menyerupai(sebanding dengan Zat, Sifat dan Af'al]Nya, Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat (Al-Syura:11)



Jaafar al-Shodiq ada berkata,

"Sesiapa pun yang menyangka bahawa Allah berada di dalam sesuatu atau terdiri daripada sesuatu atau berada di atas sesuatu, maka sesungguhnya dia telah syirik; kerana andainya Allah berada di atas sesuatu bermakna Allah adalah mahmul. Sekiranya Allah berada di di dalam sesuatu memaknakan Allah adalah mahsir; kalau Allah itu terdiri daripada sesuatu, memaknakan itu muhadas.

Malah dalam hubungan dengan Tauhid ketegori zhohir ini, kalangan ahli sufi seperti mana yang dinyatakan oleh 'Afifi misalnya, adalah tidak memperkatakan lebih daripada apa yang banyak diperkatakan oleh kalangan Mutakallimin. Pada peringkat Tauhid ini, kalangan ahli sufi sebagaimana juga kalangan Mutakallimin adalah bersandar kepada beberapa dalil yang jelas dan tidak menerima sikap taqlid. Hal ini ternyata daripada apa yang diperkatakan oleh salah seorang tokoh sufi abad keempat hijrah, Abu Muhammad Al- Jariri di mana beliau antara lainnya ada mengatakan;

"Barangsiapa yang tidak menegakkan ilmu Tauhidnya dengan bukti-bukti yang jelas akan terjatuh ke dalam kebatilan dan jurang kebinasaan".

Pendapat Al-Jariri ini disokong oleh Al-Qusyairi sebagaimana berikut;

"Sesungguhnya kalangan yang berpegang kepada taqlid dan tidak memerhatikan secara teliti terhadap dalil-dalil Tauhid, sebenarnya terbabas jauh daripada jalan kejayaan dan terjatuh ke jalan kebinasaan".

Walau bagaimanapun juga suasana dan keadaannya, kalangan ahli sufi tidak berpuas hati setakat mentauhidkan Allah pada peringkat zhohir sahaja. Ini adalah kerana Tauhid ketegori zhohir tersebut menurut pandangan mereka, adalah menggambarkan Allah itu seolah-olah berada begitu jauh daripada makhlukNya, khususnya manusia. Malah menurut mereka lagi, Pentauhidan Allah secara Akal dan Naqal semata-mata adalah MENGHIJABKAN seseorang daripada Hakikat Tauhid.

Ini adalah Keesaan Ilahi sejauh yang dilihat mereka, tidak akan tersyuhud selama mana seseorang itu terus-terusan melihat dirinya sebagai masih wujud. Dengan ini terdapat satu paras lain dalam Tauhid iaitu Tauhid Al-Khowas atau Al-Khassah yang dihayati oleh kalangan Sufi.

Sebagai menjelaskan wajah Tauhid golongan Sufi ini, maka sebaiknya kita lihat konsep dan pendekatan Sheikh Junaid Al-Bagdadi r.a yang telah diperakukan oleh ulama-ulama Ahli Sunnah Wal-Jamaah sebagai Imamiyah Ilmu Tasauf.

Ikutilah sambungan perbahasan menarik ini dalam tajuk Tauhid Al-Khowas.

Allahu A'lam




Semoga Allah memberi taufik dan hidayahnya

Tiada daya dan upaya melainkan dengan Allah yang Maha Mengetahui dan Maha Besar


Posted Image

http://www.globalunification.com/associatesASIA001.php
http://www.hi5.com/friend/profile/displayP...userid=24171023
http://www.mesra.net/forum/index.php?act=ST&f=32&t=49475
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
zarith
Member Avatar
Ibu
[ * ]
Posted Image


[size=7]TAUHID AL-KHOSSAH[/size]
Sambungan Dari Bicara Sebelem ini: Perbezaaan Penghayatan Tauhid

Dan (orang-orang yang beriman kepada Allah), kebanyakan mereka tidak beriman kepada Allah melainkan mereka mempersekutukannya juga dengan yang lain.(Surah Yusof:106)

Menyentuh tentang Tauhid Al-Khowas atau Al-Khossah itu, maka bolehlah dijelaskan bahawa ia adalah suatu jenis Tauhid yang terhasil secara zauqi di tengah-tengah Tajribah Al-Sufiyyah. Dalam perkataan lain zauqi atau kecapan terhadap pelbagai pengertian Tauhid diperolehi secara langsung hasil daripada pengertian tersebut tertajalli di dalam hati(Qalbu) seorang Sufi. Ia merupakan suatu "hal" di mana seseorang Sufi yang mengalaminya menjadi tenggelam dan fana daripada dirinya sendiri dan daripada segala sesuatu selain daripada Allah. Oleh itu apa yang tersyuhud kepadanya cumalah Allah sahaja. Kesedaran dan perasaannya dilimpahi dengan Qudrah Ilahi yang termanifestasi pada setiap benda; dengan Iradah Ilahi yang melaksana segala sesuatu; juga dengan perbuatan Ilahi yang muncul kesannya pada setiap gerak dan diamnya dalam persada wujud ini.

Inilah wajah kefahaman Ahli Sufi berkenaan Tauhid, pengertian Tauhid di sisi mereka yang tidak bisa ditanggapi kebanyakan manusia awam, kerana kefahaman mereka adalah berdasarkan penghayatan jiwa yang berjelira dengan Hakikat Tauhid; memperkayakan pengalaman keruhanian mereka sehinggakan membuahkan Makrifat yang kehalusannya sukar difahami oleh pandangan biasa yang tumpul.

Inilah apa yang dikatakan oleh Al-Tahanawi bahawa orang yang mengalami Tauhid jenis ini melihat setiap zat, pelbagai sifat dan pelbagai perbuatan, adalah tenggelam hapus dalam pancaran cahaya Zat Allah, pelbagai Sifat KesempurnaanNya dan PerbuatanNya.

Di samping pemuka-pemuka Sufi yang ada, Ulama Sufi yang banyak memperkatakan dan menghayati Tauhid jenis ini ialah Al-Junaid Al-Bagdadi. Beliau didapati telah membuat penganalisisan yang cukup menarik dengan merujuk kepada asal-usul Al-Nafs Al-Insaniyyah dan persekitarannya. Al-Junaid dalam hubungan ini ada mengatakan;


".....daripada jenis Tauhid Al-Khossah, maka seseorang yang wujud tanpa kemahuan berdiri di hadapan Allah[dalam keadaan] keduanya; seorang yang tadbiran Allah menjadi berlangsung ke atas dirinya, iaitu Allah dalam QudrahNya menentukannya. Dan dia menjadi tenggelam dalam lautan kesatuan Allah, benar-benar fana' daripada dirinya dan daripada seruan Allah kepadanya serta daripada jawapannya kepada Allah; iaitu merupakan satu pengrealisasian yang sejati terhadap Wahdaniyyah Allah dalam kehampirannya yang sejati dengan Allah. Lalu kesedaran dan aksinya menjadi hilang kerana Allah melaksanakan di dalam dirinya apa yang diKehendaki olehNya. Ilmu tentang hal yang demikian diperolehi apabila telah kembalilah seseorang hamba dari akhir ke awalnya; supaya ianya menjadi sebagaimana semula; iaitu sebelum ia menjadi seperti sekarang. Dalil dalam hal ini ialah firman Allah;

"Dan (ingatlah wahai Muhammad) ketika Tuhanmu mengeluarkan Zuriat anak-anak Adam (turun-temurun) dari (tulang) belakang mereka, dan ia jadikan mereka saksi terhadap diri mereka sendiri, (sambil Ia bertanya dengan firmanya-Nya): "Bukankah Aku Tuhan kamu?" Mereka semua menjawab, "Benar ... ." (Surah al-A 'raf 7:172)

Maka siapa dan bagaimana keadaan semula sebelum terjadi (seperti sekarang)?. Apakah ada siapa yang memberi jawapan selain daripada ruh-ruh yang suci tulen bersih selaras dengan Qudrah dan mashi 'ah sama seperti semula sebelum ianya wujud (seperti sekarang). Inilah matlamat merealisasikan Tauhid terhadap Allah, di mana orang yang mengalami menjadi hilang keindividuannya. (Al-Junaid, Rasa'il, hlm 56-57)


Nyatalah bahawa penganalisisan konsep Tauhid seperti mana yang dijelaskan oleh Al-Junaid di atas adalah dihubungkan secara jelas dengan aspek asal usul Al-Nafs atau Al-Ruh Al-Insanniyyah. Realisasi Tauhid menjadi terlaksana bilamana hamba kembali semula ke taraf wujudnya yang awal sebelum ia wujud sebagai sekarang. Pemerihalan dalam hal ini melibatkan pembicaraan satu konsep menarik yang dihuraikan oleh Al-Junaid bersandarkan kepada firman Allah dalam Al-Quran:

"Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan zuriat anak-anak Adam(turun-temurun) dari (tulang) belakang mereka, dan dijadikan mereka saksi terhadap diri mereka sendiri(sambil Dia bertanya dengan firmanNya); "Bukankah Aku Tuhan kamu?" Mereka semua menjawab , "Benar(Engkaulah Tuhan kami), kami menjadi saksi", Yang demikian supaya kamu tidak berkata pada hari Akhirat kelak, "Sesungguhnya kami adalah lalai(tidak diberi peringatan) tentang (Hakikat Tauhid) ini"

Mengenal ayat di atas, Al-Junaid menjelaskan bahwa Tuhan menceritakan perihal Dia bercakap dengan insan dalam suatu tempoh dimana insan masih belum sebagai sekarang. Kewujudan dalam tempoh tersebut adalah tidak sama dengan kewujudan sebagai makhluk Tuhan seperti sekarang. Itu cumalah kewujudan yang diketahui dan disedari oleh Tuhan sahaja, yang sifatnya tidak terikat dengan masa. Oleh itu, menurut Al-Junaid, kewujudan insan adalah berlaku dalam dua jenis:


Pertama; Kewujudan yang bersifat suci, iaitu sebelum insan didatangkan ke alam semesta ini. Wujudnya insan dalam tahap tersebut adalah penuh dengan kesucian dan kekudusan, berhubung secara langsung dengan Allah tanpa apa-apa hijab; kerana hijab menjadi terhasil oleh wujudnya hubungan dengan alam benda dan menjadi sibuk oleh kehendak-kehendak kejasadan dan syahwat. Oleh itu, dalam keadaan demikian nufus/arwah insan mengikrarkan dengan pastinya Keesaan Allah ketika dikhitabkan kepada mereka menerusi "Alastu birabikum"; kerana nufus/arwah tersebut tidak pun melihat apa-apa dalam wujud, selain daripada Allah yang melakukan sesuatu, Yang Menghendaki dan Yang Memiliki Kuasa, lalu ia fana' dan hilang wujud dirinya sendiri.

Kedua. Wujud insan dalam alam semesta yang diciptakan ini. Kewujudan ini adalah bersama jasad, yang dengannya menghasilkan kelupaan pada "persetiaan" awalnya oleh wujudnya hijab serta penguasaan syahwat.

Ternyata bahawa unsur pendekatan yang dilihat oleh al-Junaid serta sufi-sufi lain adalah terjadi pada peringkat insan masih berada di dalam arwah/nufus, di mana persoalan tentang Ketauhidan Allah dijawab dengan jitu dan pasti dengan sebenar-benar pengenalan(makrifat). Bagaimanapun, apabila insan telah diwujudkan sebagai manusia yang sekaligus terdiri daripada jasad dan ruh, maka "persetiaan" awal itu menjadi semakin kabur. Ia dikaburi oleh kehendak syahwat dan tuntutan jasad. Lalu untuk mendapatkan kembali taraf Ketauhidan awal tersebut, perlulah insan bergerak semula ke arah keadaan awalnya sebagaimana sebelum ia diwujudkan dalam bentuk sekarang.

Bagaimanapun pengembalian sempurna ke taraf awal sebagaimana sebelum wujudnya insan seperti sekarang, adalah tidak mungkin selagi hubungan di antara ruh dan jasad terus-terusan ada. Pembebasan ruh daripada ikatan dan tautan jasad dalam kadar kekuasaan insan mestilah diusahakan supaya terjadi. Hal ini, menurut Al-Junaid mestilah berlangsung menerusi Suluk Al-Thoriqah Al-Sufiah dan ketundukan serta penyerahan diri secara mutlak kepada Allah, yang melibatkan kegiatan-kegiatan riadah al-nafs dan pembersihannya serta pengekangan diri daripada kehendak-kehendak syahwat. Hasil daripada kegiatan tersebut, mengikut Al-Junaid, seseorang hamba akan menjadi individu yang tidak memiliki kehendak, dan dirinya diurus oleh Allah mengikut kehendakNya. Sedang diri hamba itu sendiri telah tenggelam di dalam lautan Tauhid; fana' daripada dirinya sendiri dan daripada seruan makhluk lain sejauh yang berhubung dengan urusan keduniaannya. Hal ini semua terjadi disebabkan syuhudnya terarah secara tajam ke arah pelbagai hakikat kewujudan dan Keesaan Allah dalam suatu kedudukan yang benar-benar hampir denganNya. Ketika itulah, sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Junaid, kesedaran hamba tentang diri dan aksinya menjadi hilang kerana Allah, menerusi IradahNya, dan menguasai perbuatan hamba tersebut. Lalu kembalilah, pada ketika itu, pengakhiran seorang hamba ke tahap awalnya, sebagaimana ianya masih belum wujud seperti sekarang. Di situlah terlaksananya pengrealisasian sejati terhadap konsep Tauhid yang hakikatnya tidak boleh dicapai oleh akal, tetapi termanisfestasi secara langsung ke dalam Al-Qalb.

Sebenarnya, daripada penganalisisan sebagaimana di atas memperlihatkan bahawa pengrealisasian terhadap konsepTauhid, adalah sama dengan al-Fana al-Sufi dalam Ilmu Tasauf; iaitu al-Fana al-Sufi tersebut adalah merupakan suatu hal di mana kesan-kesan Iradat, sakhsiyah, kesedaran tentang Zat serta setiap apa yang bukan al-Haq semuanya terselindung dan tidak dapat dilihat oleh sufi yang mengalamainya. Sejauh yang dapat dilihat dan dirasakan oleh sufi yang mengalaminya tersebut cumalah kewujudan al-Haq bersama Perbuatan dan IradahNya. Atau dalam kata lain al-Fana itu merupakan satu hal kejiwaan dalam mana hubungan insan dengan alam dan diri menjadi hapus dan hilang lenyap. Dalam suasana tesebut insan menjadi baqa dalam wujud syuhudi yang berakhir di dalamnya segala sesuatu yang lain daripada al-Haq.


Contoh yang paling baik berhubung dengan al-Fana ini ialah apa yang terjadi dan dialami oleh seorang tokoh sufi abad ketiga hijrah, Abu Yazid Al-Bustomin. Beliau menggambarkan pengalaman mikraj keruhaniannya yang dilambangkan menerusi ibadat "Haji". Beliau dalam hubungan ini mengatakan;

• "Aku naik Haji kali pertama maka aku telah Kaabah;

• Dan aku naik Haji kali kedua, maka aku telah lihat Kaabah dan TuanNya;

• Seterusnya aku naik Haji kali ketiga di mana aku tidak melihat sama ada Kaabah ataupun TuanNya".



Sebenarnya Haji di sini dilambangkan kepada perjalanan keruhanian menuju Tuhan.

• Dalam Haji peringkat pertama Abu Yazid melihat Kaabah, yakui alam semesta dan menanggapinya dalam suatu tanggapan yang bersifat hissi(perasaan)

• Dalam Haji peringkat kedua beliau melihat Kaabah dan pemilik Kaabah dalam suatu tanggapan "penduaan" yang bersifat akal serta memperbezakan kedua-duanya, yang pada hakikatnya adalah perbezaan antara Tuhan dan alam semesta.

• Kemudian dalam Haji peringkat ketiga, menerusi Qalbu dan Syuhud, Abu Yazid menanggapi "segala" dalam suasana yang tidak dibezakan lagi antara Kaabah dengan pemilik Kaabah. Dan di peringkat fana atau juga al-Tauhid di mana, dalam suasana tersebut lenyaplah daripada diri hamba kesan-kesan al-kathrah(banyak/pelbagai) yang bersifat akal dan hissi.


Seterusnya dalam usaha untuk melihat beberapa contoh lain daripada sudut pandangan para sufi terhadap unsur Tauhid dan dihayati oleh mereka, maka di bawah ini sebahagian daripada sudut pendangan tersebut;
Abu Said Ahmad ibn Isa Al-Khoraaz ada mengatakan;

"Maqam awal bagi orang yang memperolehi dan merealisasikan Ilmu Tauhid ialah Fana Qalbunya daripada menyebut perkara-perkara yang selain daripada Allah, dan (hatinya) ditumpukan khusus kepada Allah Taala".

Golongan Arif yang lain pula ada mengatakan;

"Adapun Tauhid itu ialah sesuatu yang boleh membutakan pemandangan, menghairankan orang yang berakal serta mendasyatkan seorang yang teguh pendirian".

Pendapat ini telah diulas oleh Al-Thusi sebagaimana berikut;

"......kerana orang yang merealisasikan Tauhid tersebut menerusi Qalbunya akan Kebesaran dan Kehebatan Allah yang melahirkan kedasyatan dan kehairanan kepada akal, kecuali orang yang Qalbunya telah benar-benar diteguhkan oleh Allah".

Al-Syibli mengatakan;

"Tahukah engkau mengapa Tauhid engkau menjadi tidak sah?" Lelaki itu menjawab; "Tidak" Al-Syibli berkata lagi; "Kerana engkau menuntutnya dengan diri engkau" Dan inilah hakikat sebenar apa yang dicatatkan oleh Afifi; "Orang yang percaya berasaskan pandangan fikirannya adalah terhijab daripada hakikat Tauhid.......kerana pada sudut pandangan golongan sufi Keesaan Ilahi tidak akan tersyuhud selama mana seorang itu masih melihat dirinya sebagai ada"


Dengan penjelasan dan perbincangan di atas, jika difahami dengan serius, maka dapatlah dikatakan bahawa kesempurnaan dalam Mentauhidkan Allah dari sudut pandangan Ahli Sufi bukanlah cuma Mengesakan menerusi peribadatan semata-mata, malah lebih daripada itu mesti pula diEsakan menerusi perbuatan, kudrat, iradah serta pengurusan tadbir. Hal ini semua bermaksud;

• bahawa Allah itu satu dengan pengertian tiada yang disembah selain dariNya [Laa Ma'bud Bihaqqi illaLlah];

• dan Allah juga satu dalam pengertian bahawa golongan sufi dalam syuhud mereka tidakpun melihat selain daripadaNya yang Melakukan segala sesuatu, Yang Berkuasa, Yang Menghendaki, dan Yang Mentadbirkan segala sesuatu

• atau dengan lebih hampir lagi Tiada Yang Maujud Melainkan Allah.[Laa Maujud Bihaqqi illaLlah]



Dalam rangka untuk mempertingkatkan prestasi kehampiran dan kedekatan dengan Allat iaitu suatu dimensi yang banyak terabai dalam tempoh sekarang, maka barangkali tidak salahnya kalau kita secara serius merenung pendekatan yang digunakan oleh Ahli Sufi yang memang terkenal sebagai kalangan yang benar-benar hampir dengan Allah. Bila taraf kehampiran dan kedekatan diri dengan Allah dapat dicapai, maka sebagaimana yang diberitahu oleh tradisi Islam sendiri, tentunya banyak sekali masalah peribadi atau masalah kemasyarakatan....akan dapat diselesaikan. Kemudian kalau dilihat dari perspektif Tauhid secara khusus, maka sudah pasti seorang yang menyedari dan melihat Allah sahaja yang benar-benar Wujud, yang benar-benar Berkuasa, yang benar-benar Mentadbir segala dan Melakukan segala, akan memandang mudah dan remeh kepada apa-apa pun juga yang selain daripada Allah; akan tidak ada ketakutan yang bukan-bukan; akan tidak membentuk bayang-bayang untuk ditakuti. Dan tentunya barangkali peribadi-peribadi yang sedemikian dapat diwujudkan oleh sesebuah masyarakat, maka masyarakat berkenaan akan dapat manfaat yang besar daripadanya, sebagaimana yang telah dilakukan oleh para Sahabah, para Syuhada dan para Sholihin yang Siddiq.


Dan (orang-orang yang beriman kepada Allah), kebanyakan mereka tidak beriman kepada Allah melainkan mereka mempersekutukannya juga dengan yang lain.(Surah Yusof:106)


Allahu A'lam



Semoga Allah memberi taufik dan hidayahnya

Tiada daya dan upaya melainkan dengan Allah yang Maha Mengetahui dan Maha Besar



Posted Image

http://www.globalunification.com/associatesASIA001.php
http://www.hi5.com/friend/profile/displayP...userid=24171023
http://www.mesra.net/forum/index.php?act=ST&f=32&t=49475
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
zarith
Member Avatar
Ibu
[ * ]
Posted Image



[size=7]Mengenal Diri Mengenal Allah [/size]


Setengah daripada jalan mencapai makrifat itu ialah dengan mengenal diri seperti kata seorang sahabat Rasulullah SAW., Yahya bin Muaz Al-Razi ;

"Barangsiapa mengenal dirinya maka sesungguhnya mengenal ia akan Tuhannya".

Yahya bin Muaz mengambil faham daripada perkataan Nabi SAW. daripada pertanyaan seorang sahabat;

"Siapakah yang lebih mengenali TuhanNya, ya Rasulullah? Maka sabdanya yang lebih mengenal mereka dengan dirinya."


Ada pun mengenal diri itu tiga[3] macam iaitu;

• Periksa dan memahami.
• Membuat bandingan dan ukuran.
• Lemah dan tertegah.



1. Periksa dan memahami.

Hendaklah dimusyahadahkan akan kejadian diri kita kepada dua pandangan iaitu;

a. Pandangan yang pertama kepada diri zhohir yang dijadikan akan dia daripada emapat anasir iaitu;

• Api
• Angin
• Air dan
• Tanah.



yang bermula daripada kejadian lembaga Nabi Adam 'Alaihi-Salam. Setelah sempurna lembaga Adam maka dimasukkan ruh ke dalamnya lalu hidup ia bernyawa, bergerak, melihat, mendengar, dan sebagainya seperti firman Allah dalam Surah Al-Shod; 71-72 yang bermaksud;

"Ingat olehmu hai Muhammad ketika firman oleh Tuhan kamu bagi malaikatNya bahawa Aku jadikan manusia daripada pati tanah maka apabila aku sempurnakan dia dan aku masukkan ke dalamnya ruhKu, maka sekelian malaikat duduk dan sujud baginya".

Demikian juga dijadikan seorang perempuan yang bernama Hawa iaitu daripada jenis Adam juga seperti firmanNya dalam Surah An-Nisaak:1 yang bermaksud;

"Hai sekelian manusia, takutlah kepada Tuhanmu yang menjadikan kamu dari diri yang satu dan menjadikan isteri daripadaNya. dan daripada keduanya berkembang biak laki-laki dan perempuan yang banyak."

Ini bermakna, daripada Adam dan Hawa dijadikan akan segala keturunan melalui setitik air mani(Nutfah) yang dikandungkan di dalam rahim ibunya selama 40 hari kemudian dijadikan seketul daging (Mudghoh) kemudian pecah berupa berbagai; suatu bentuk lembaga manusia seperti firman Allah dalam Surah Al-Mukminun;14 yang bermaksud;

"Sesungguhnya telah Kami jadikan manusia daripada pati berasal daripada tanah kemudian Kami jadikan akan pati tanah itu air mani yang disimpan dalam tempat yang kukuh(rahim), kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah; maka segumpal darah itu kami jadikan tulang; maka Kami bungkuskan tulang itu dengan daging kemudian jadikan itu makhluk yang berbentuk lain; maka Mahasuci Allah ialah Pencipta yang paling baik".

Kemudian apabila sempurna kandungan yang ghalib sembilan bulan lalu keluar dari perut ibunya berupa manusia yang lemah(bayi) kemudian beransur-ansur sedikit demi sedikit bertambah subur dan kuat yang lengkap dengan pancaindera yang lima iaitu;

• Penjamah,
• Perasa,
• Pendengar,
• Pelihat,
• Pencium.


Akhirnya menjadi seorang manusia yang gagah kuat yang mempunyai pancaindera batin yang lima iaitu;

• Khowatir,
• Cita,
• Niat,
• 'Alim,
• Fikir;


dan sempurnalah sepuluh pancaindera yang dinamakan INSAN.

b. Pandangan yang kedua kepada diri yang batin yang digelarkan nyawa atau Ruh yang telah diberikan nama oleh Arif bil-Lah dengan bermacam-macam nama. Setengah daripadanya menamakannya;

Syaiun Zat-tiah pada tatkala memandang pada Martabat Wahdah dimusyahadahkan pertama-tama nyata dalam Ilmu Allah itu Ruh Nabi Muhammad SAW. Daripada pancar benderang Israk Nur Muhammad itu zhohirlah sekelian alam dan segala yang benyawa. Setengah daripada Arif bil-Lah menamakan dia sebagai;

Alam Ma'ani iaitu tanda yang tersembunyi sungguh kuat nyata dalm Ilmu Allah tetapi tiada ia maujud. Ia tersembunyi dalam Wahdatul Wujud melainkan ibarat jua yang maujud pada keesaan diri Hak Allah Taala. Setengah Arif bil-Lah menamakanya sebagai;

Alam Laahut ertinya tanda kenyataan Zat dan setengah Arif bil-Lah menamakannya sebagai;

Alam Jabarut tatkala nyata ia pada martabat Wahdiah ertinya tanda kebesaran Zat dan sifatNya dan Af'alNya dan setengah daripada mereka menamakan sebagai;

A'yan Saabitah ertinya kenyataan yang amat teguh dan setengahnya menamakannya sebagai;

Alam Asror ertinya tanda menerima Asror(rahsia) Allah kerana ia tempat nyata Hak Taala.


• Maka tatkala sudah menjadikan Allah Taala nyawa ; maka menjadi Ia akan Alam Arwah dan maujud ia dengan Qudrat Allah dan Iradatnya. Maka dinamakan dia Alam Malakut ertinya tanda milik yakni tiada sekali terlepas daripada Ampunya Milik. Ini dinamakan juga A'yan Khorijah kerana sudah zohir wujudnya menerima asar(bekas/sesuatu yang dijadikan) dan hukum Zat Lawazim yang nyata ibaratnya dan syaratnya kepada Martabat Wahdah dan Wahdiah kerana A'yang Khorijah itu A'yan Saabitah dan A'yan Saabitah itu yang menerima zhohir Sifat Allah dan Asma Allah dan A'yan Khorijah dan Alam Malakut ialah sekelian alam sama ada Alam Kabir(Besar) atau Alam Shoghir(Kecil).Dan setengahnya menamakannya;

Ruh Idhofi kerana lengkap pada tubuh yang menggerak dan mendiam dan sebagainya. Setengah daripada mereka menamakannya sebagai;

Ruh Al-Qudus kerana ia suci daripada merasai mati dan daripada segala kecelaan dan sebagainya dan setengah daripada mereka menamakannya sebagai;

Ruh Al-Amri kerana ia menerima perintah Allah memerintah tubuh. Setengah daripada mereka menamakannya pula sebagai;

Ruh Al-Amin kerana ia menerima firman Allah yang datang pada hati hamba yang yakin akan Hak Taala. Setengah daripada mereka menamakannya sebagai;

Khotir ertinya gerak hati. Dan khotir itu ada empat macam iaitu;

Khotir Rahmaani iaitu apabila ia sentiasa berhadap dan musyahadah kehadirat Allah Taala; tidak memikirkan akan MaasyiwaLah(sesuatu yang lain daripada Allah).

Khotir Malaki iaitu apabila bertukar arah dan bergilir ganti. Kadang-kadang berhadap dan bermusyahadah ke Hadirat Allah Taala dan kadang-kadang sesuatu yang lain daripada Allah.

Khotir Nafsaani iaitu sentiasa berhadap kepada kegemaran dan kelazatan dunia dan kemegahan dan kemulian yang bergelumbang dengan Ajib, Riya', Takbur, Suma'ah dan lain-lain lagi daripada segala sifat-sifat mazmumah.

Khotir Syathooni iaitu sentiasa gemar kepada pekerjaan yang derhaka dan jauh daripada berbakti dan beribadat.
Maka adalah sekelian itu daripada kelakuan Ruh pada badan yang datang sekelian itu daripada Feil (Kelakuan) yang Hakiki. Setengah daripada mereka menamakannya sebagai;

Akal kerana mengeluarkan fikiran dan kira bicara dan setengah daripada mereka menamakannya sebagai;
Nafsu kerana angkuh dan dholim dan setengah menamakannya sebagai;
Qalbu kerana bertukar berbolak-balik sekali berhadap kepada Allah; sekali berhadap kepada dunia.

Adalah diri yang dhohir dan yang batin terdiri padanya tiga perkara iaitu;

Jisim iaitu susunan kulit, daging, tulang. urat, darah, lendir dan sebagainya.

Jauhar iaitu Ruh atau nyawa

'Aradh iaitu kelakuan dan rupa pandangan seperti panjang, pendek, tinggi, rendah, putih, hitam, bertemu, bercerai, baik, jahat dan sebagainya.



2. Membuat bandingan dan ukuran

Kejadian tubuh jasmani manusia itu mempunyai beberapa hikmah dan rahsia yang menyamai rahsia kejadian langit dan bumi. maka eloklah penulis cuba memberi gambaran perumpamaan dengan serba ringkas dalam Ilmu Tasrikh iaitu ilmu kejadian manusia.

• Bahawa manusia mempunyai 360 tulang yang menyamai dengan 360 darjah pada bulatan bumi.

• Manusia juga mempunyai 17 sendi yang besar-besar kerana lazim manusia jaga pada tiapa-tiap sehari semalam tujuh belas jam iaitu 3 jam pada awal malam dan 2 jam pada awal siang dan 12 jam pada masa siang. Maka dalam 17 jam inilah gerak-geri anggota yang 17 sendi itu melakukan kebajikan atau kejahatan; maka diwajibkan dan difardukan ke atas manusia mengerjakan sembahyang lima waktu dalam sehari semalam sebanyak 17 rekaat.

• Urat-urat besar dalam badan manusia berjumlah 12 urat iaitu jadi ibarat 12 bulan setahun dan 12 jam pada siang dan 12 jam pada malam.

• Dikatakan juga bilangan rambut manusia ada sebanyak 124 000 iaitu supaya mengingatkan bagi kita bilangan Nabi-nabi yang diikhtilafkan ulama sebanyak 124 000 orang dan banyak lagi rahsia-rahsia kejadian tubuh menasia yang sengaja ditinggalkan.

Pendek cakapnya tidak ada satu kejadian yang boleh menyamai dengan kejadian manusia pada nisbah elok dan baik perdiriannya dan mulia keadaannya dan tinggi darjatnya jika hendak dibandingkan dengan kejadian-kejadian yang lain seperti firman Allah dalam Surat Al-Tin;4 yang bermaksud;

"Demi sesungguhnya kami jadikan manusia itu seelok-elok kejadian"
dan tidak ada satu kejadian yang diperintah oleh Allah Taala kepada malaikat supaya memberi hormat dan tahiyat melainkan manusia(Adam) dan juga menyebabkan syaitan dimurkai oleh Allah dan dikutuk akan dia kerana ingkar pada perintah Allah yang diperintahkan kepadanya supaya memberi hormat dan tahiyat kepada manusia(Adam). Dijadikan sekelian perkara ini untuk manusia dan dilengkapi pada manusia sifat Ma'ani yang tujuh kerana tempat menerima Asar(bekas) Sifat Ma'ani Qadim yang dinamakan Naskhah Al-Haq.



3. Lemah dan Tertegah

Apabila dimusyahadahkan akan kejadian diri samada diri yang zhohir atau diri yang batin, maka tak sampai akal manusia untuk memikirkannya seperti Ruh, Akal, Nafsu dan Qalbu. Maka sukar hendak memberi gambaran atau takrif yang mensifatkan daripada jenis apa??

Al-Quran memberi pengajaran sebagaimana firman Allah dalam Surah Al Israk;85 yang bermaksud;

"Akan ditanya akan engkau hai Muhammad tentang ruh; Kata olehmu Ruh itu adalah daripada urusan Tuhanku".

Oleh kerana sukar hendak membuat takrif, maka digelar oleh orang-orang 'Ariffin dengan nama Lathifatul Rabaaniyah.


Keterangan Suluk

Walau bagaimanapun, Imam Ghazali telah berjaya menghampirkan faham kepada makna dan rahsia ruh ini mengikut tingkat tertinggi kemampuan manusia dalam sebuah Kitabnya yang bernama "Risalatul li-Duniyyah". Ikutilah kajian dan huraian yang dibuat secara ilmiah pada tajuk ini iaitu "Keistimewaan Ruh Insani" atau ikuti keseluruhan perbincangan tentang Ilmu Laduni yang diperolehi melalui ruh ini.




Semoga Allah memberi taufik dan hidayahnya

Tiada daya dan upaya melainkan dengan Allah yang Maha Mengetahui dan Maha Besar
Posted Image

http://www.globalunification.com/associatesASIA001.php
http://www.hi5.com/friend/profile/displayP...userid=24171023
http://www.mesra.net/forum/index.php?act=ST&f=32&t=49475
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
zarith
Member Avatar
Ibu
[ * ]
Posted Image


[size=7]Perang Salib, Shalahuddin dan Peringatan Maulid[/size]
Oleh : Redaksi 30 Mar 2007 - 7:50 pm


Posted Image

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS Al Ahzab [33]: 21).

Setiap Rabi'ul Awwal, umat Muslim sibuk menyiapkan varian agenda dalam rangka memperingati kelahiran Rasulullah SAW yang jatuh pada tangal 12 Rabi'ul Awal. Namun tak ada yang tahu, apa semangat digagasnya peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang pertama kali dilakukan Shalahuddin Al-Ayyubi, panglima perang Mesir.

Ia mengusulkan ide itu pada Sultan Mesir, Muzaffar ibn Baktati, yang terkenal arif dan bijaksana. Ia sangat menghormati sosok Shalahuddin, yang di kemudian hari membawa kemenangan bagi tentara Muslim dalam Perang Salib.

Shalahuddin juga merupakan panglima Islam di masa Khalifah Muiz Liddinillah dari dinasti Bani Fathimiyah di Mesir (berkuasa 365 H/975 M).

Gagasan Shalahuddin sederhana. Pada masa itu masjid Al Aqsha diambil alih dan diubah menjadi gereja. Kondisi tersebut diperparah oleh keadaan pasukan Islam yang mengalami penurunan ghirah perjuangan dan renggangnya ukhuwah Islamiyah.

Dari situlah Shalahuddin memiliki gagasan untuk menghidupkan kembali semangat juang dan persatuan umat dengan cara merefleksikan dan mempertebal kecintaan kepada Rasulullah. Selanjutnya digelarlah peringatan Maulid Nabi yang disambut luar biasa oleh seluruh kaum Muslimin kala itu. “Semangat Shalahuddin untuk memperingati Mauild Nabi dalam rangka mengajak ummat Islam untuk back to Quran dan Sunnah. Akhirnya peperangan dimenangkan oleh pasukan Islam. Peringatan Maulid ini banyak manfaatnya,” jelas ketua Majelis Ulama Indonesia, KH Syukri Zakrasyi.

Apa yang digelorakan Shalahuddin membuahkan hasil di kemudian hari. Jerusalem berhasil direbut. Di bawah kepemimpinannya, Perang Salib diakhiri dengan sedikit jumlah korban. Tak seperti saat tentara Kristen menduduki Jerusalem dan membunuh semua Muslim yang tersisa, pasukan Shalahuddin mengawal umat Kristen dan memastikan jiwa mereka selamat saat keluar dari Jerusalem. Begitulah akhlak Islam seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW. Tidak mentang-mentang menang dan berkuasa, maka bebas melakukan penindasan.

Muslim Indonesia pantas meniru sejarah Rasulullah dan sejarah lahirnya peringatan maulid Nabi. Sedikit banyak, situasi Muslim saat ini hampir sama dengan situasi umat Islam masa Shalahuddin Al-Ayubi. Selain terpuruk secara politik, ekonomi, sosial, budaya, dan akidah, juga tidak ada kebanggaan sebagai Muslim.

Berkaca lagi pada pribadi Nabi SAW, itulah semangat yang diusung Shalahuddin. Itu pula agaknya yang harus kita lakukan saat ini. ''Dalam kondisi bangsa yang penuh ujian seperti sekarang ini, sangat pantas jika kita melihat figur Rasulullah SAW terutama dalam membangun masyarakatnya yang berlandaskan nilai-nilai Ilahi. Beliau itu memiliki akhlak yang sangat terpuji: jujur, tanggungjawab dan kebersamaan,'' ujar Prof Dr KH Didin Hafidhuddin Msc, direktur Pasca Sarjana Univeristas Ibnu Khaldun Bogor. (dam/RioL)


Posted Image

[size=7]Perang Salib [/size]

Perang keagamaan antara umat Kristen Eropa dan umat Islam Asia selama hampir dua abad (1096-1291) dikenal dengan nama Perang Salib. Perang itu terjadi sebagai reaksi umat Kristen terhadap umat Islam.

Sejak tahun 632, sejumlah kota penting dan tempat suci umat Kristen dikuasai oleh umat Islam. Akibatnya, umat Kristen merasa terganggu ketika hendak berziarah ke kota suci Yerusalem. Umat Kristen tentu saja ingin merebut kembali kota itu. Perang itu disebut Perang Salib karena pasukan Kristen menggunakan tanda salib sebagai simbol pemersatu dan untuk menunjukkan bahwa peperangan yang mereka lakukan adalah perang suci.

Faktor utama penyebab terjadinya Perang Salib adalah agama, politik dan sosial ekonomi. Faktor agama, sejak Dinasti Seljuk merebut Baitulmakdis dari tangan Dinasti Fatimiah pada tahun 1070, pihak Kristen merasa tidak bebas lagi menunaikan ibadah ke sana. Hal ini disebabkan karena para penguasa Seljuk menetapkan sejumlah peraturan yang dianggap mempersulit mereka yang hendak melaksanakan ibadah ke Baitulmakdis. Bahkan mereka yang pulang berjiarah sering mengelu karena mendapatkan perlakuan jelek oleh orang-orang Seljuk yang fanatik. Umat Kristen merasa perlakuan para penguasa Dinasti Seljuk sangat berbeda dengan para penguasa Islam lainnya yang pernah menguasai kawasan itu sebelumnya.

Faktor politik, dipicu oleh kekalahan Bizantium --sejak 330 disebut Konstantinopel (Istambul)-- di Manzikart (Malazkirt atau Malasyird, Armenia) pada tahun 1071 dan jatuhnya Asia Kecil ke bawah kekuasaan Seljuk terlah mendorong Kaisai Alexius I Comnenus (Kaisar Constantinopel) untuk meminta bantuan kepada Paus Urbanus dalam usahanya untuk mengembalikan kekuasaannya di daerah-daerah pendudukan Dinasti Seljuk.

Di lain pihak, kondisi kekuasaan Islam pada waktu itu sedang melemah, sehingga orang-orang Kristen Eropa berani untuk ikut mengambil bagian dalam Perang Salib. Ketika itu Dinasti Seljuk di Asia Kecil sedang mengalami perpecahan, Dinasti Fatimiah di Mesir dalam keadaan lumpuh, sementara kekuasaan Islam di Spanyol semakin goyah. Situasi semakin bertambah parah karena adanya pertentangan segitiga antara khalifah Fatimiah di Mesir, khalifah Abbasiyah di Baghdad dan amir Umayyah di Cordoba yang memproklamirkan dirinya sebagai penguasa Kristen di Eropa untuk merebut satu persatu daerah-daerah kekuasaan Islam, seperti Dinasti-dinasti kecil di Edessa dan Baitulmakdis.

Sementara faktor sosial ekonomi dipicu oleh pedagang-pedagang besar yang berada di pantai timur Laut Tengah, terutama yang berada di kota Venezia, Genoa dan Pisa, berambisi untuk menguasai sejumlah kota-kota dagang di sepanjang pantai Timur dan selatan Laut Tengah untuk memperluas jaringan dagang mereka. Untuk itu mereka rela menanggung sebagian dana perang Salib dengan maksud menjadikan kawasan itu sebagai pusat perdagangan mereka apabila pihak Kristen Eropa memperoleh kemenangan.

Sejarawan Philip K Hitti penulis buku The History of The Arabs membagi Perang Salib ke dalam tiga periode. Periode pertama disebut periode penaklukkan daerah-daerah kekuasaan Islam. pasukan Salib yang dipimpin oleh Godfrey of Bouillon mengorganisir strategi perang dengan rapih. Mereke berhasil menduduki kota suci Palestina (Yerusalem) tanggal 7 Juni 1099. Pasukan Salib ini melakukan pembantaian besar-besaran selama lebih kurang satu minggu terhadap umat Islam tanpa membedakan laki-laki dan perempuan, anak-anak dan dewasa, serta tua dan muda. Kemenangan pasukan Salib dalam periode ini telah mengubah peta dunia Islam dan situasi di kawasan itu.

Periode kedua, disebut periode reksi umat Islam (1144-1192). Jatuhnya daerah kekuasaan Islam ke tangan kaum Salib membangkitkan kesadaran kaum Muslimin untuk menghimpun kekuatan guna menghadapi mereka. Di bawah komando Imaduddin Zangi, gubernur Mosul, kaum Muslimin bergerak maju membendung serangan kaum Salib. Bahkan mereka berhasil merebut kembali Allepo dan Edessa. Keberhasilan kaum muslimin meraih berbagai kemenangan, terutama setelah muculnya Salahuddin Yusuf al-Ayyubi (Saladin) di Mesir yang berhasil membebaskan Baitulmakdis (Jerusalem) pada 2 Oktober 1187, telah membangkitkan kembali semangat kaum Salib untuk mengirim ekspedisi militer yang lebih kuat.

Periode ketiga, berlangsung tahun 1193 hingga 1291 ini lebih dikenal dengan periode kehancuran di dalam pasukan Salib. Hal ini disebabkan karena periode ini lebih disemanganti oleh ambisi politik untuk memperoleh kekuasaan dan sesuatu yang bersifat material dari pada motivasi agama.
(dam/berbagai sumber/RioL)



http://www.youtube.com/watch?v=6A3MH1jHurA

http://www.youtube.com/watch?v=0ATouSgG9RI



Hak cipta dilindungi oleh Allohu Subhanahu wa Ta'ala
TIDAK DILARANG KERAS mengcopy, memperbanyak, mengedarkan
untuk kemaslahatan ummat syukur Alhamdulillah sumber dari swaramuslim dicantumkan
Posted Image

http://www.globalunification.com/associatesASIA001.php
http://www.hi5.com/friend/profile/displayP...userid=24171023
http://www.mesra.net/forum/index.php?act=ST&f=32&t=49475
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
zarith
Member Avatar
Ibu
[ * ]
Posted Image



[size=7]Tahukah Anda: Islam Masuk ke Nusantara Saat Rasulullah SAW Masih Hidup[/size]
Sejarah Oleh : Redaksi 21 Apr 2007 - 1:00 am

Islam masuk ke Nusantara dibawa para pedagang dari Gujarat, India, di abad ke 14 Masehi. Teori masuknya Islam ke Nusantara dari Gujarat ini disebut juga sebagai Teori Gujarat. Demikian menurut buku-buku sejarah yang sampai sekarang masih menjadi buku pegangan bagi para pelajar kita, dari tingkat sekolah dasar hingga lanjutan atas, bahkan di beberapa perguruan tinggi.

Namun, tahukah Anda bahwa Teori Gujarat ini berasal dari seorang orientalis asal Belanda yang seluruh hidupnya didedikasikan untuk menghancurkan Islam?

Orientalis ini bernama Snouck Hurgronje, yang demi mencapai tujuannya, ia mempelajari bahasa Arab dengan sangat giat, mengaku sebagai seorang Muslim, dan bahkan mengawini seorang Muslimah, anak seorang tokoh di zamannya.

Menurut sejumlah pakar sejarah dan juga arkeolog, jauh sebelum Nabi Muhammad SAW menerima wahyu, telah terjadi kontak dagang antara para pedagang Cina, Nusantara, dan Arab. Jalur perdagangan selatan ini sudah ramai saat itu.

Mengutip buku Gerilya Salib di Serambi Makkah (Rizki Ridyasmara, Pustaka Alkautsar, 2006) yang banyak memaparkan bukti-bukti sejarah soal masuknya Islam di Nusantara, Peter Bellwood, Reader in Archaeology di Australia National University, telah melakukan banyak penelitian arkeologis di Polynesia dan Asia Tenggara.

Bellwood menemukan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa sebelum abad kelima masehi, yang berarti Nabi Muhammad SAW belum lahir, beberapa jalur perdagangan utama telah berkembang menghubungkan kepulauan Nusantara dengan Cina. Temuan beberapa tembikar Cina serta benda-benda perunggu dari zaman Dinasti Han dan zaman-zaman sesudahnya di selatan Sumatera dan di Jawa Timur membuktikan hal ini.

Dalam catatan kakinya Bellwood menulis, “Museum Nasional di Jakarta memiliki beberapa bejana keramik dari beberapa situs di Sumatera Utara. Selain itu, banyak barang perunggu Cina, yang beberapa di antaranya mungkin bertarikh akhir masa Dinasti Zhou (sebelum 221 SM), berada dalam koleksi pribadi di London. Benda-benda ini dilaporkan berasal dari kuburan di Lumajang, Jawa Timur, yang sudah sering dijarah…” Bellwood dengan ini hendak menyatakan bahwa sebelum tahun 221 SM, para pedagang pribumi diketahui telah melakukan hubungan dagang dengan para pedagang dari Cina.

Masih menurutnya, perdagangan pada zaman itu di Nusantara dilakukan antar sesama pedagang, tanpa ikut campurnya kerajaan, jika yang dimaksudkan kerajaan adalah pemerintahan dengan raja dan memiliki wilayah yang luas. Sebab kerajaan Budha Sriwijaya yang berpusat di selatan Sumatera baru didirikan pada tahun 607 Masehi (Wolters 1967; Hall 1967, 1985). Tapi bisa saja terjadi, “kerajaan-kerajaan kecil” yang tersebar di beberapa pesisir pantai sudah berdiri, walau yang terakhir ini tidak dijumpai catatannya.

Di Jawa, masa sebelum masehi juga tidak ada catatan tertulisnya. Pangeran Aji Saka sendiri baru “diketahui” memulai sistem penulisan huruf Jawi kuno berdasarkan pada tipologi huruf Hindustan pada masa antara 0 sampai 100 Masehi. Dalam periode ini di Kalimantan telah berdiri Kerajaan Hindu Kutai dan Kerajaan Langasuka di Kedah, Malaya. Tarumanegara di Jawa Barat baru berdiri tahun 400-an Masehi. Di Sumatera, agama Budha baru menyebar pada tahun 425 Masehi dan mencapai kejayaan pada masa Kerajaan Sriwijaya.



Temuan G. R Tibbets

Adanya jalur perdagangan utama dari Nusantara—terutama Sumatera dan Jawa—dengan Cina juga diakui oleh sejarahwan G. R. Tibbetts. Bahkan Tibbetts-lah orang yang dengan tekun meneliti hubungan perniagaan yang terjadi antara para pedagang dari Jazirah Arab dengan para pedagang dari wilayah Asia Tenggara pada zaman pra Islam. Tibbetts menemukan bukti-bukti adanya kontak dagang antara negeri Arab dengan Nusantara saat itu.

“Keadaan ini terjadi karena kepulauan Nusantara telah menjadi tempat persinggahan kapal-kapal pedagang Arab yang berlayar ke negeri Cina sejak abad kelima Masehi, ” tulis Tibbets. Jadi peta perdagangan saat itu terutama di selatan adalah Arab-Nusantara-China.

Sebuah dokumen kuno asal Tiongkok juga menyebutkan bahwa menjelang seperempat tahun 700 M atau sekitar tahun 625 M—hanya berbeda 15 tahun setelah Rasulullah menerima wahyu pertama atau sembilan setengah tahun setelah Rasulullah berdakwah terang-terangan kepada bangsa Arab—di sebuah pesisir pantai Sumatera sudah ditemukan sebuah perkampungan Arab Muslim yang masih berada dalam kekuasaan wilayah Kerajaan Budha Sriwijaya.

Di perkampungan-perkampungan ini, orang-orang Arab bermukim dan telah melakukan asimilasi dengan penduduk pribumi dengan jalan menikahi perempuan-perempuan lokal secara damai. Mereka sudah beranak–pinak di sana. Dari perkampungan-perkampungan ini mulai didirikan tempat-tempat pengajian al-Qur’an dan pengajaran tentang Islam sebagai cikal bakal madrasah dan pesantren, umumnya juga merupakan tempat beribadah (masjid).

Temuan ini diperkuat Prof. Dr. HAMKA yang menyebut bahwa seorang pencatat sejarah Tiongkok yang mengembara pada tahun 674 M telah menemukan satu kelompok bangsa Arab yang membuat kampung dan berdiam di pesisir Barat Sumatera. Ini sebabnya, HAMKA menulis bahwa penemuan tersebut telah mengubah pandangan orang tentang sejarah masuknya agama Islam di Tanah Air. HAMKA juga menambahkan bahwa temuan ini telah diyakini kebenarannya oleh para pencatat sejarah dunia Islam di Princetown University di Amerika.



Pembalseman Firaun Ramses II Pakai Kapur Barus Dari Nusantara

Dari berbagai literatur, diyakini bahwa kampung Islam di daerah pesisir Barat Pulau Sumatera itu bernama Barus atau yang juga disebut Fansur. Kampung kecil ini merupakan sebuah kampung kuno yang berada di antara kota Singkil dan Sibolga, sekitar 414 kilometer selatan Medan. Di zaman Sriwijaya, kota Barus masuk dalam wilayahnya. Namun ketika Sriwijaya mengalami kemunduran dan digantikan oleh Kerajaan Aceh Darussalam, Barus pun masuk dalam wilayah Aceh.

Amat mungkin Barus merupakan kota tertua di Indonesia mengingat dari seluruh kota di Nusantara, hanya Barus yang namanya sudah disebut-sebut sejak awal Masehi oleh literatur-literatur Arab, India, Tamil, Yunani, Syiria, Armenia, China, dan sebagainya.

Sebuah peta kuno yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus, salah seorang Gubernur Kerajaan Yunani yang berpusat di Aleksandria Mesir, pada abad ke-2 Masehi, juga telah menyebutkan bahwa di pesisir barat Sumatera terdapat sebuah bandar niaga bernama Barousai (Barus) yang dikenal menghasilkan wewangian dari kapur barus.

Bahkan dikisahkan pula bahwa kapur barus yang diolah dari kayu kamfer dari kota itu telah dibawa ke Mesir untuk dipergunakan bagi pembalseman mayat pada zaman kekuasaan Firaun sejak Ramses II atau sekitar 5. 000 tahun sebelum Masehi!

Berdasakan buku Nuchbatuddar karya Addimasqi, Barus juga dikenal sebagai daerah awal masuknya agama Islam di Nusantara sekitar abad ke-7 Masehi. Sebuah makam kuno di kompleks pemakaman Mahligai, Barus, di batu nisannya tertulis Syekh Rukunuddin wafat tahun 672 Masehi. Ini memperkuat dugaan bahwa komunitas Muslim di Barus sudah ada pada era itu.

Sebuah Tim Arkeolog yang berasal dari Ecole Francaise D’extreme-Orient (EFEO) Perancis yang bekerjasama dengan peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (PPAN) di Lobu Tua-Barus, telah menemukan bahwa pada sekitar abad 9-12 Masehi, Barus telah menjadi sebuah perkampungan multi-etnis dari berbagai suku bangsa seperti Arab, Aceh, India, China, Tamil, Jawa, Batak, Minangkabau, Bugis, Bengkulu, dan sebagainya.

Tim tersebut menemukan banyak benda-benda berkualitas tinggi yang usianya sudah ratusan tahun dan ini menandakan dahulu kala kehidupan di Barus itu sangatlah makmur.

Di Barus dan sekitarnya, banyak pedagang Islam yang terdiri dari orang Arab, Aceh, dan sebagainya hidup dengan berkecukupan. Mereka memiliki kedudukan baik dan pengaruh cukup besar di dalam masyarakat maupun pemerintah (Kerajaan Budha Sriwijaya). Bahkan kemudian ada juga yang ikut berkuasa di sejumlah bandar. Mereka banyak yang bersahabat, juga berkeluarga dengan raja, adipati, atau pembesar-pembesar Sriwijaya lainnya. Mereka sering pula menjadi penasehat raja, adipati, atau penguasa setempat. Makin lama makin banyak pula penduduk setempat yang memeluk Islam. Bahkan ada pula raja, adipati, atau penguasa setempat yang akhirnya masuk Islam. Tentunya dengan jalan damai (Rz/eramuslim)


Posted Image


Islam Masuk ke Nusantara Ketika Rasulullah SAW Masih Hidup (Bag.2, Tamat)

Sejarahwan T. W. Arnold dalam karyanya “The Preaching of Islam” (1968) juga menguatkan temuan bahwa agama Islam telah dibawa oleh mubaligh-mubaligh Islam asal jazirah Arab ke Nusantara sejak awal abad ke-7 M.

Posted Image

Setelah abad ke-7 M, Islam mulai berkembang di kawasan ini, misal, menurut laporan sejarah negeri Tiongkok bahwa pada tahun 977 M, seorang duta Islam bernama Pu Ali (Abu Ali) diketahui telah mengunjungi negeri Tiongkok mewakili sebuah negeri di Nusantara (F. Hirth dan W. W. Rockhill (terj), Chau Ju Kua, His Work On Chinese and Arab Trade in XII Centuries, St.Petersburg: Paragon Book, 1966, hal. 159).

Bukti lainnya, di daerah Leran, Gresik, Jawa Timur, sebuah batu nisan kepunyaan seorang Muslimah bernama Fatimah binti Maimun bertanggal tahun 1082 telah ditemukan. Penemuan ini membuktikan bahwa Islam telah merambah Jawa Timur di abad ke-11 M (S. Q. Fatini, Islam Comes to Malaysia, Singapura: M. S. R.I., 1963, hal. 39).

Dari bukti-bukti di atas, dapat dipastikan bahwa Islam telah masuk ke Nusantara pada masa Rasulullah masih hidup. Secara ringkas dapat dipaparkan sebagai berikut: Rasululah menerima wahyu pertama di tahun 610 M, dua setengah tahun kemudian menerima wahyu kedua (kuartal pertama tahun 613 M), lalu tiga tahun lamanya berdakwah secara diam-diam—periode Arqam bin Abil Arqam (sampai sekitar kuartal pertama tahun 616 M), setelah itu baru melakukan dakwah secara terbuka dari Makkah ke seluruh Jazirah Arab.

Menurut literatur kuno Tiongkok, sekitar tahun 625 M telah ada sebuah perkampungan Arab Islam di pesisir Sumatera (Barus). Jadi hanya 9 tahun sejak Rasulullah SAW memproklamirkan dakwah Islam secara terbuka, di pesisir Sumatera sudah terdapat sebuah perkampungan Islam.

Selaras dengan zamannya, saat itu umat Islam belum memiliki mushaf Al-Qur’an, karena mushaf Al-Qur’an baru selesai dibukukan pada zaman Khalif Utsman bin Affan pada tahun 30 H atau 651 M. Naskah Qur’an pertama kali hanya dibuat tujuh buah yang kemudian oleh Khalif Utsman dikirim ke pusat-pusat kekuasaan kaum Muslimin yang dipandang penting yakni (1) Makkah, (2) Damaskus, (3) San’a di Yaman, (4) Bahrain, (5) Basrah, (6) Kuffah, dan (7) yang terakhir dipegang sendiri oleh Khalif Utsman.

Naskah Qur’an yang tujuh itu dibubuhi cap kekhalifahan dan menjadi dasar bagi semua pihak yang berkeinginan menulis ulang. Naskah-naskah tua dari zaman Khalifah Utsman bin Affan itu masih bisa dijumpai dan tersimpan pada berbagai museum dunia. Sebuah di antaranya tersimpan pada Museum di Tashkent, Asia Tengah.

Mengingat bekas-bekas darah pada lembaran-lembaran naskah tua itu maka pihak-pihak kepurbakalaan memastikan bahwa naskah Qur’an itu merupakan al-Mushaf yang tengah dibaca Khalif Utsman sewaktu mendadak kaum perusuh di Ibukota menyerbu gedung kediamannya dan membunuh sang Khalifah.

Perjanjian Versailes (Versailes Treaty), yaitu perjanjian damai yang diikat pihak Sekutu dengan Jerman pada akhir Perang Dunia I, di dalam pasal 246 mencantumkan sebuah ketentuan mengenai naskah tua peninggalan Khalifah Ustman bin Affan itu yang berbunyi: (246) Di dalam tempo enam bulan sesudah Perjanjian sekarang ini memperoleh kekuatannya, pihak Jerman menyerahkan kepada Yang Mulia Raja Hejaz naskah asli Al-Qur’an dari masa Khalif Utsman, yang diangkut dari Madinah oleh pembesar-pembesar Turki, dan menurut keterangan, telah dihadiahkan kepada bekas Kaisar William II (Joesoef Sou’yb, Sejarah Khulafaur Rasyidin, Bulan Bintang, cet. 1, 1979, hal. 390-391).

Sebab itu, cara berdoa dan beribadah lainnya pada saat itu diyakini berdasarkan ingatan para pedagang Arab Islam yang juga termasuk para al-Huffadz atau penghapal al-Qur’an.

Menengok catatan sejarah, pada seperempat abad ke-7 M, kerajaan Budha Sriwijaya tengah berkuasa atas Sumatera. Untuk bisa mendirikan sebuah perkampungan yang berbeda dari agama resmi kerajaan—perkampungan Arab Islam—tentu membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum diizinkan penguasa atau raja. Harus bersosialisasi dengan baik dulu kepada penguasa, hingga akrab dan dipercaya oleh kalangan kerajaan maupun rakyat sekitar, menambah populasi Muslim di wilayah yang sama yang berarti para pedagang Arab ini melakukan pembauran dengan jalan menikahi perempuan-perempuan pribumi dan memiliki anak, setelah semua syarat itu terpenuhi baru mereka—para pedagang Arab Islam ini—bisa mendirikan sebuah kampung di mana nilai-nilai Islam bisa hidup di bawah kekuasaan kerajaan Budha Sriwijaya.

Perjalanan dari Sumatera sampai ke Makkah pada abad itu, dengan mempergunakan kapal laut dan transit dulu di Tanjung Comorin, India, konon memakan waktu dua setengah sampai hampir tiga tahun. Jika tahun 625 dikurangi 2, 5 tahun, maka yang didapat adalah tahun 622 Masehi lebih enam bulan. Untuk melengkapi semua syarat mendirikan sebuah perkampungan Islam seperti yang telah disinggung di atas, setidaknya memerlukan waktu selama 5 hingga 10 tahun.

Jika ini yang terjadi, maka sesungguhnya para pedagang Arab yang mula-mula membawa Islam masuk ke Nusantara adalah orang-orang Arab Islam generasi pertama para shahabat Rasulullah, segenerasi dengan Ali bin Abi Thalib r. A..

Kenyataan inilah yang membuat sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara sangat yakin bahwa Islam masuk ke Nusantara pada saat Rasulullah masih hidup di Makkah dan Madinah. Bahkan Mansyur Suryanegara lebih berani lagi dengan menegaskan bahwa sebelum Muhammad diangkat menjadi Rasul, saat masih memimpin kabilah dagang kepunyaan Khadijah ke Syam dan dikenal sebagai seorang pemuda Arab yang berasal dari keluarga bangsawan Quraisy yang jujur, rendah hati, amanah, kuat, dan cerdas, di sinilah ia bertemu dengan para pedagang dari Nusantara yang juga telah menjangkau negeri Syam untuk berniaga.

“Sebab itu, ketika Muhammad diangkat menjadi Rasul dan mendakwahkan Islam, maka para pedagang di Nusantara sudah mengenal beliau dengan baik dan dengan cepat dan tangan terbuka menerima dakwah beliau itu,” ujar Mansyur yakin.

Dalam literatur kuno asal Tiongkok tersebut, orang-orang Arab disebut sebagai orang-orang Ta Shih, sedang Amirul Mukminin disebut sebagai Tan mi mo ni’. Disebutkan bahwa duta Tan mi mo ni’, utusan Khalifah, telah hadir di Nusantara pada tahun 651 Masehi atau 31 Hijriah dan menceritakan bahwa mereka telah mendirikan Daulah Islamiyah dengan telah tiga kali berganti kepemimpinan. Dengan demikian, duta Muslim itu datang ke Nusantara di perkampungan Islam di pesisir pantai Sumatera pada saat kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan (644-656 M). Hanya berselang duapuluh tahun setelah Rasulullah SAW wafat (632 M).

Catatan-catatan kuno itu juga memaparkan bahwa para peziarah Budha dari Cina sering menumpang kapal-kapal ekspedisi milik orang-orang Arab sejak menjelang abad ke-7 Masehi untuk mengunjungi India dengan singgah di Malaka yang menjadi wilayah kerajaan Budha Sriwijaya.



Gujarat Sekadar Tempat Singgah

Jelas, Islam di Nusantara termasuk generasi Islam pertama. Inilah yang oleh banyak sejarawan dikenal sebagai Teori Makkah. Jadi Islam di Nusantara ini sebenarnya bukan berasal dari para pedagang India (Gujarat) atau yang dikenal sebagai Teori Gujarat yang berasal dari Snouck Hurgronje, karena para pedagang yang datang dari India, mereka ini sebenarnya berasal dari Jazirah Arab, lalu dalam perjalanan melayari lautan menuju Sumatera (Kutaraja atau Banda Aceh sekarang ini) mereka singgah dulu di India yang daratannya merupakan sebuah tanjung besar (Tanjung Comorin) yang menjorok ke tengah Samudera Hindia dan nyaris tepat berada di tengah antara Jazirah Arab dengan Sumatera.

Bukalah atlas Asia Selatan, kita akan bisa memahami mengapa para pedagang dari Jazirah Arab menjadikan India sebagai tempat transit yang sangat strategis sebelum meneruskan perjalanan ke Sumatera maupun yang meneruskan ekspedisi ke Kanton di Cina. Setelah singgah di India beberapa lama, pedagang Arab ini terus berlayar ke Banda Aceh, Barus, terus menyusuri pesisir Barat Sumatera, atau juga ada yang ke Malaka dan terus ke berbagai pusat-pusat perdagangan di daerah ini hingga pusat Kerajaan Budha Sriwijaya di selatan Sumatera (sekitar Palembang), lalu mereka ada pula yang melanjutkan ekspedisi ke Cina atau Jawa.

Disebabkan letaknya yang sangat strategis, selain Barus, Banda Aceh ini telah dikenal sejak zaman dahulu. Rute pelayaran perniagaan dari Makkah dan India menuju Malaka, pertama-tama diyakini bersinggungan dahulu dengan Banda Aceh, baru menyusuri pesisir barat Sumatera menuju Barus. Dengan demikian, bukan hal yang aneh jika Banda Aceh inilah yang pertama kali disinari cahaya Islam yang dibawa oleh para pedagang Arab. Sebab itu, Banda Aceh sampai sekarang dikenal dengan sebutan Serambi Makkah.(Rz, Tamat/eramuslim)



Hak cipta dilindungi oleh Allohu Subhanahu wa Ta'ala
TIDAK DILARANG KERAS mengcopy, memperbanyak, mengedarkan
untuk kemaslahatan ummat syukur Alhamdulillah sumber dari swaramuslim dicantumkan
Posted Image

http://www.globalunification.com/associatesASIA001.php
http://www.hi5.com/friend/profile/displayP...userid=24171023
http://www.mesra.net/forum/index.php?act=ST&f=32&t=49475
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
zarith
Member Avatar
Ibu
[ * ]

Posted Image



[size=7]Mengenang KARTINI[/size]
Sejarah Oleh : Redaksi 21 Apr 2004 - 4:47 pm



http://swaramuslim.com/streaming/nasyid/jefry/radio.m3u

Kartini berada dalam proses dari kegelapan menuju cahaya. Namun cahaya itu belum purna menyinarinya secara terang benderang, karena terhalang oleh tabir tradisi dan usaha westernisasi. Kartini telah kembali kepada Pemiliknya, sebelum ia menuntaskan usahanya untuk mempelajari Islam dan mengamalkannya, seperti yang diidam-idamkannya: Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai. [Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902]



1. Mukadimah

Bismillahirrahmanirrahiim.
Tinta sejarah belum lagi kering menulis namanya, namun wanita-wanita negerinya sudah terbata-bata membaca cita-citanya. Kian hari emansipasi kian mirip saja dengan liberalisasi dan feminisasi. Sementara Kartini sendiri sesungguhnya semakin meninggalkan semuanya, dan ingin kembali kepada fitrahnya.

Perjalanan Kartini adalah perjalanan panjang. Dan dia belum sampai pada tujuannya. Kartini masih dalam proses. Jangan salahkan Kartini kalau dia tidak sepenuhnya dapat lepas dari kungkungan adatnya. Jangan salahkan Kartini kalau dia tidak dapat lepas dari pengaruh pendidikan Baratnya. Kartini bukan anak keadaan, terbukti bahwa dia sudah berusaha untuk mendobraknya. Yang kita salahkan adalah mereka yang menyalahartikan kemauan Kartini. Kartini tidak dapat diartikan lain kecuali sesuai dengan apa yang tersirat dalam kumpulan suratnya : "Door Duisternis Tot Licht", yang terlanjur diartikan sebagai "Habis Gelap Terbitlah Terang". Prof. Haryati Soebadio (cucu tiri Ibu Kartini) - mengartikan kalimat "Door Duisternis Tot Licht" sebagai "Dari Gelap Menuju Cahaya" yang bahasa Arabnya adalah "Minazh-Zhulumaati ilan-Nuur". Kata dalam bahasa Arab tersebut, tidak lain, merupakan inti dari dakwah Islam yang artinya: membawa manusia dari kegelapan (jahiliyyah atau kebodohan hidayah) ke tempat yang terang benderang (petunjuk atau kebenaran). Di dalam Al-Quran, surat Al-Baqarah : 257, ALLah menegaskan:

ALLAH pemimpin orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang kafir pemimpinnya adalah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya ke kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal didalamnya.

Kartini berada dalam proses dari kegelapan menuju cahaya. Namun cahaya itu belum purna menyinarinya secara terang benderang, karena terhalang oleh tabir tradisi dan usaha westernisasi. Kartini telah kembali kepada Pemiliknya, sebelum ia menuntaskan usahanya untuk mempelajari Islam dan mengamalkannya, seperti yang diidam-idamkannya:

Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai. [Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902]

Kartini yang dikungkung oleh adat dan dituntun oleh Barat, telah mencoba meretas jalan menuju benderang. Tapi anehnya tak seorangpun melanjutkan perjuangannya. Wanita-wanita kini mengurai kembali benang yang telah dipintal Kartini. Sungguhpun mereka merayakan hari lahirnya, namun mereka mengecilkan arti perjuangannya. Gagasan-gagasan cemerlang Kartini yang dirumuskan dalam kamar yang sepi, mereka peringati di atas panggung yang bingar. Kecaman Kartini yang teramat pedas terhadap Barat, mereka artikan sebagai isyarat untuk mengikuti wanita-wanita Barat habis-habisan. Kartini merupakan salah satu contoh figur sejarah yang lelah menghadapi pertarungan ideologi. Jangan kecam Kartini. Karena walau bagaimana pun, beliau telah berusaha mendobrak adat, mengelak dari Barat, untuk mengubah keadaan.

Manusia itu berusaha, ALLAH lah yang menentukan. [Surat Kartini kepada Ny. Ovink Soer, Oktober 1900]

Demikian kata-kata Kartini yang mencerminkan suatu sikapnya yang tawakkal. Memang, kita manusia sebaiknya berorientasi kepada usaha dan bukan berorientasi pada hasil. Hal ini perlu, agar kita tidak kehilangan cakrawala. Agar kita tidak mengukur keberhasilan suatu perjuangan dengan batasan usia kita yang singkat. Pula agar kita tidak mudah untuk mengecam kesalahan yang dibuat oleh orang-orang sebelum kita. Bukan mustahil, jika kita dihadapkan dalam kondisi yang sama, kita pun akan berbuat hal yang serupa.

Itu adalah umat yang telah lalu; baginya apa yang diusahakannya dan bagimu apa yang kamu usahakan; dan kamu tidak akan dimintai pertanggung jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan. [Al-Quran, surat Al-Baqarah : 134]



2. Siapakah Kartini?


Kartini lahir dari keluarga ningrat jawa. Ayahnya, R.M.A.A Sosroningrat, pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Teluwakur, Jepara. Peraturan Kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Ajeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan : R.A.A. Tjitrowikromo. Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Beliau adalah keturunan keluarga yang cerdas. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun. Kakak Kartini, Sosrokartono, adalah seorang jenius dalam bidang bahasa. Dalam waktu singkat pendidikannya di Belanda, ia menguasai 26 bahasa: 17 bahasa-bahasa Timur dan 9 bahasa-bahasa Barat. Kartini sendiri secara formal pendidikannya hanya sampai pada tingkat Sekolah Rendah. Tapi beliau dapat memberikan kritik dan saran yang jelas kepada kebijaksanaan pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu. Dengan nota yang berjudul: "Berilah Pendidikan kepada bangsa Jawa", Kartini mengajukan kritik dan saran kepada hampir semua Departemen Pemerintah Hindia Belanda, kecuali Departemen Angkatan Laut (Marine). Salah satu saran yang beliau ajukan kepada Departemen Kesehatan adalah sebagai berikut:

Para dokter hendaklah juga diberi kesempatan untuk melengkapi pengetahuannya di Eropa. Keuntungannya sangat menyolok, terutama jika diperlukan penyelidikan yang menghendaki hubungan langsung dengan masyarakat. Mereka dapat menyelidiki secara mendalam khasiat obat-obatan pribumi yang sudah sering terbukti mujarab. Jikalau seorang awam menceritakan bahwa darah cacing atau belut dapat menyembuhkan mata yang bengkak, mungkin ia akan ditertawakan. Namun adalah suatu kenyataan bahwa air kelapa dan pisang batu dapat dipakai sebagai obat. Soalnya, sebetulnya sangat sederhana : penyakit-penyakit dalam negeri sebaiknya diobati dengan obat-obatan dari negeri itu sendiri. Telah seringkali terjadi bahwa orang-orang sakit bangsa Eropa, teristimewa yang menderita penyakit disentri atau penyakit lain, yang oleh dokter-dokter sudah dinyatakan tak dapat disembuhkan, masih dapat ditolong oleh obat-obatan kita yang sederhana dan tidak membahayakan. Sebagai contoh, belum lama berselang, seorang gadis pribumi oleh seorang dokter dinyatakan menderita penyakit TBC kerongkongan. Dokter itu mengatakan bahwa ia hanya dapat bertahan 2 pekan dan akan meninggal dalam keadaan yang mengerikan. Dalam keadaan putus asa, ibunya membawanya kembali ke desanya untuk diobati. Dan gadis itu sembuh, menjadi sehat, tidak merasa sakit lagi dan dapat bicara kembali. Apa obatnya? Serangga-serangga kecil yang didapat di sawah, ditelan hidup-hidup dengan pisang emas. Pengobatan yang biadab? Apa boleh buat. Bagaimanapun obat itu menolong, sedang obat dokter tidak. Dokter-dokter kita, sebenarnya dapat mengumumkan kasus-kasus seperti itu, tetapi mereka tidak pernah melakukan hal demikian. Mungkin karena khawatir akan ditertawakan oleh para sarjana? Seorang dokter bumiputera yang pengetahuannya setaraf dengan rekannya bangsa Eropa, jika yakin akan sesuatu, mestinya harus berani menyatakan dan mempertahankan keyakinannya.

Dengan membaca petikan nota Kartini yang ditujukan kapada pemerintah Hindia Belanda tersebut, kita dapat memperkirakan daya nalar Kartini untuk ukuran jamannya.



3. Kartini Mendobrak Adat

Sesungguhnya adat sopan-santun kami orang Jawa amatlah rumit. Adikku harus merangkak bila hendak lalu di hadapanku. Kalau adikku duduk di kursi, saat aku lalu, haruslah segera ia turun duduk di tanah, dengan menundukkan kepala, sampai aku tidak kelihatan lagi. Adik-adikku tidak boleh berkamu dan berengkau kepadaku. Mereka hanya boleh menegur aku dalam bahasa kromo inggil (bahasa Jawa tingkat tinggi). Tiap kalimat yang diucapkan haruslah diakhiri dengan sembah.

Berdiri bulu kuduk bila kita berada dalam lingkungan keluarga bumiputera yang ningrat. Bercakap-cakap dengan orang yang lebih tinggi derajatnya, harus perlahan-lahan, sehingga orang yang didekatnya sajalah yang dapat mendengar. Seorang gadis harus perlahan-lahan jalannya, langkahnya pendek-pendek, gerakannya lambat seperti siput, bila berjalan agak cepat, dicaci orang, disebut "kuda liar". [Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899]

Peduli apa aku dengan segala tata cara itu ... Segala peraturan, semua itu bikinan manusia, dan menyiksa diriku saja. Kau tidak dapat membayangkan bagaimana rumitnya etiket di dunia keningratan Jawa itu ... Tapi sekarang mulai dengan aku, antara kami (Kartini, Roekmini, dan Kardinah) tidak ada tata cara lagi. Perasaan kami sendiri yang akan menentukan sampai batas-batas mana cara liberal itu boleh dijalankan. [Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899]

Menurut Kartini, setiap manusia sederajat dan mereka berhak untuk mendapat perlakuan sama. Kartini paham benar bahwa saat itu, terutama di Jawa, keningratan seseorang diukur dengan darah. Semakin biru darah seseorang maka akan semakin ningrat kedudukannya. Kartini menentang keningratan darah.

Bagi saya hanya ada dua macam keningratan : keningratan pikiran dan keningratan budi. Tidak ada yang lebih gila dan bodoh menurut persepsi saya daripada melihat orang, yang membanggakan asal keturunannya. Apakah berarti sudah beramal soleh, orang yang bergelar Graaf atau Baron? Tidak dapat mengerti oleh pikiranku yang picik ini. [Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899]

Keningratan darah sekarang ini hanya tinggal sebagai barang antik di museum. Sebagai gantinya sekarang muncul keningratan-keningratan baru: keningratan pangkat, keningratan jabatan dan semacamnya. Puncak dari segala keningratan itu adalah keningratan ekonomi. Siapa yang paling banyak menyimpan harta, dialah yang paling ningrat. Semua dapat diatur olehnya. Keputusan dan kebijaksanaan semua orang akan berjalan erunduk-runduk di hadapan keputusan dan kebijaksanaan orang tersebut. Anehnya lagi, mereka yang mengaku sebagai Kartini-Kartini Masa Kini, tidak menentang keningratan-keningratan baru tersebut. Bahkan sebagian besar mereka menjadi korbannya, kalau tidak boleh dikatakan sebagai abdinya yang setia.



4. Kartini Memandang Ke Barat


Orang kebanyakan meniru kebiasaan orang baik-baik; orang baik-baik itu meniru perbuatan orang yang lebih tinggi lagi, dan mereka itu meniru yang tertinggi pula ialah orang Eropa. [Surat Kartini kepada Stella, 25 Mei 1899]

Diskriminasi yang dilakukan penjajah Belanda terhadap bumiputera, telah menjatuhkan moral mereka. Kartini meskipun berasal dari kaum ningrat, tapi pendidikan Barat yang dikenyamnya telah mengajarkan kepadanya bahwa Timur itu rendah dan Barat itu mulia. Kartini bukannya tidak menyadari indoktrinasi ini, tapi kenyataan yang dilihatnya belum lagi dapat dibantah. Dalam dunia pendidikan misalnya, Kartini melihat perbedaan yang menyolok, antara apa yang dimiliki oleh Belanda dengan apa yang baru dapat dicapai oleh Bumiputera.

Bolehlah, negeri Belanda merasa berbahagia, memiliki tenaga-tenaga ahli, yang amat bersungguh mencurahkan seluruh akal dan pikiran dalam bidang pendidikan dan pengajaran remaja-remaja Belanda. Dalam hal ini anak-anak Belanda lebih beruntung dari pada anak-anak Jawa, yang telah memiliki buku selain buku pelajaran sekolah. [Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 20 Agustus 1902]

Dari sini nampak bahwa Kartini menyadari pentingnya peranan buku dalam mencerdaskan kehidupan anak manusia. Kalau masa kini, kebudayaan membaca terkalahkan oleh kebudayaan video, apakah jawabnya adalah Kartini masa kini sudah lebih maju dalam hal mendidik anak-anak mereka?

Aku mau meneruskan pendidikanku ke Holland, karena Holland akan menyiapkan aku lebih baik untuk tugas besar yang telah kupilih. [Surat Kartini kepada Ny. Ovink Soer, 1900]

Agar setaraf dengan Barat, Kartini merasa perlu untuk mengejar ilmu ke Barat. Barat adalah kiblat Kartini setelah melepaskan diri dari kungkungan adat.

Pergilah ke Eropa. Itulah cita-citaku sampai nafasku yang terakhir. Surat Kartini kepada Stella [12 Januari 1900]



5. Sahabat-sahabat Dekat Kartini

Adat pada dewasa itu tidak memperkenankan seorang ningrat bergaul lekat dengan rakyat biasa. Ningrat harus bergaul dengan ningrat. Hal seperti ini sengaja dilestarikan oleh pemerintah kolonial, agar para ningrat kehilangan kepekaan terhadap problematika rakyatnya, menghindari keterpihakan ningrat kepada rakyat yang tertindas; sekaligus pula memperbesar jarak agar antara ningrat dan rakyat tidak tergalang suatu kekuatan untuk melawan penguasa. Dalam situasi demikian, dapat dipahami bila pergaulan Kartini hanya terbatas pada lingkungan keluarganya dan orang-orang Belanda saja. Pergaulan dengan orang-orang Belanda, tidaklah dilarang, karena orang Belanda dianggap lebih ningrat daripada orang Jawa. Kartini adalah seorang wanita yang mempunyai pemikiran jauh ke depan. Hal ini sudah diamati dan diketahui oleh teman-temannya bangsa Belanda. Banyak orang Belanda di Hindia Belanda maupun di negeri Belanda sendiri ingin menjalin persahabatan dengan Kartini, namun pada umumnya sebenarnya mereka ini adalah "musuh-musuh dalam selimut" yang ingin memperalat Kartini dan memandulkan pikiran-pikirannya. Berikut ini adalah beberapa teman dekat Kartini, yang sering terlibat diskusi maupun korespondensi dengannya :

- J.H. Abendanon
Abendanon datang ke Hindia-Belanda pada tahun 1900. Ia ditugaskan oleh Nederland untuk melaksanakan Politik Etis. Tugasnya adalah sebagai Direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan. Karena 'orang baru' di Hindia-Belanda, Abendanon tidak mengetahui keadaan masyarakat Hindia-Belanda dan tidak paham bagaimana dan dari mana ia memulai programnya. Untuk keperluan itu, Abendanon banyak meminta nasihat dari teman sehaluan politiknya, Snouck Hurgronye, seorang orientalis yang terkenal sebagai arsitek perancang kemenangan Hindia-Belanda dalam Perang Aceh. Lebih jauh, Hurgronye mempunyai konsepsi yang disebut sebagai Politik Asosiasi, yaitu suatu usaha agar generasi muda Islam mengidentifikasikan dirinya dengan Barat. Menurut keyakinannya, golongan yang paling keras menentang penjajah Belanda adalah golongan Islam, terutama golongan santrinya. Memasukkan peradaban Barat dalam masyarakat pribumi adalah cara yang paling jitu untuk membendung dan akhirnya mengatasi pengaruh Islam di Hindia Belanda. Tidak mungkin membaratkan rakyat bumiputera, kecuali jika ningratnya telah dibaratkan. Untuk tujuan itu, maka langkah pertama yang harus diambil adalah mendekati kalangan ningrat terutama yang Islamnya teguh, untuk kemudian dibaratkan. Hurgronye menyarankan Abendanon untuk mendekati Kartini, dan untuk tujuan itulah Abendanon membina hubungan baik dengan Kartini. Kelak, Abendanonlah yang paling gigih berusaha menghalangi Kartini belajar ke Nederland. Ia tidak ingin Kartini lebih maju lagi.

- E.E. Abendanon (Ny. Abendanon)
Dia adalah pendamping setia suaminya dalam menjalankan tugasnya mendekati Kartini. Sampai menjelang akhir hayatnya, Kartini masih membina hubungan korespondensi dengannya.

- Dr. Adriani
Keluarga Abendanon pernah mengundang keluarga Kartini ke Batavia. Di Batavia inilah, Ny. Abendanon memperkenalkan Kartini dengan Dr. Adriani. Ia seorang ahli bahasa serta pendeta yang bertugas menyebarkan kristen di Toraja, Sulawesi Selatan. Dr Adriani berada di Batavia dalam rangka perlawatannya keliling Jawa dan Sumatera. Untuk selanjutnya, Dr. Adriani menjadi teman korespondensi Kartini yang intim.

- Annie Glasser
Ia adalah seorang guru yang memiliki beberapa akta pengajaran bahasa. Ia mengajarkan bahasa Perancis secara privat kepada Kartini tanpa memungut bayaran. Glasser diminta oleh Abendanon ke Kabupaten Jepara untuk mengamati dan mengikuti perkembangan pemikiran Kartini. Tidak mengherankan jika kelak Abendanon dapat mematahkan rencana Kartini untuk berangkat belajar ke Nederland, dengan mempergunakan diplomasi psikologis tingkat tinggi. Semua pihak telah gagal dalam segala upaya untuk menghalangi kepergian Kartini ke Belanda. Kartini telah berbulat tekad untuk ke Belanda. Tapi, tiba-tiba, Abendanon datang langsung dari Batavia ke Jepara untuk menemui Kartini tanpa perantaraan surat. Abendanon hanya berbicara beberapa menit saja dengan Kartini. Hasilnya? Kartini memutuskan untuk membatalkan keberangkatannya ke Belanda. Hal ini hanya mungkin jika Abandanon mengetahui secara persis kondisi psikologis Kartini; dan hal ini mudah baginya karena ia menempatkan Annie Glasser sebagai "mata-mata"nya.

- Stella (Estelle Zeehandelaar)
Sewaktu dalam pingitan (lebih kurang 4 tahun), Kartini banyak menghabiskan waktunya untuk membaca. Kartini tidak puas hanya mengikuti perkembangan pergerakan wanita di Eropa melalui buku dan majalah saja. Beliau ingin mengetahui keadaan yang sesungguhnya. Untuk itulah, beliau kemudian memasang iklan di sebuah majalah yang terbit di Belanda : "Hollandsche Lelie". Melalui iklan itu, Kartini menawarkan diri sebagai sahabat pena untuk wanita Eropa. Dengan segera iklan Kartini tersebut disambut oleh Stella, seorang wanita Yahudi Belanda. Stella adalah anggota militan pergerakan feminis di negeri Belanda saat itu. Ia bersahabat dengan tokoh sosialis; Ir. Van Kol, wakil ketua SDAQ (Partai Sosialis Belanda) di Tweede Kamer (Parlemen).

- Ir. Van Kol
Sebelum berkenalan dengan Kartini, Van Kol pernah tinggal di Hindia Belanda selama 16 tahun. Selain sebagai seorang insinyur, ia juga seorang ahli dalam masalah-masalah kolonial. Stella-lah yang selalu memberi informasi tentang Kartini kepadanya, sampai pada akhirnya ia berkesempatan datang ke Jepara dan berkenalan langsung dengan Kartini. Van Kol mendukung dan memperjuangkan kepergian Kartini ke negeri Belanda atas biaya Pemerintah Belanda. Namun, rupanya ada udang dibalik batu. Van Kol berharap dapat menjadikan Kartini sebagai "saksi hidup" kebobrokan pemerintah kolonial Hindia-Belanda. Semua ini untuk memenuhi ambisinya dalam memenangkan partainya (sosialis) di Parlemen.

- Nellie Van Kol (Ny. Van Kol)
Ia adalah seorang penulis yang mempunyai pendirian humanis dan progresif. Dialah orang yang paling berperan dalam mendangkalkan aqidah Kartini. Pada walnya, ia bermaksud untuk mengkristenkan Kartini, dengan kedatangannya seolah-olah sebagai penolong yang mengangkat Kartini dari ketidakpedulian terhadap agama. Memang, agaknya setelah perkenalannya dengan Ny. Van Kol, Kartini mulai perduli dengan agamanya, Islam. Kepeduliannya ditandai dengan diakhiri gerakan "mogok shalat" dan "mogok ngaji".

Sekarang kami merasakan badan kami lebih kokoh, segala sesuatu tampak lain sekarang. Sudah lama cahaya itu tumbuh dalam hati sanubari kami; kami belum tahu waktu itu, dan Nyonya Van Kol yang menyibak tabir yang tergantung di hadapan kami. Kami sangat berterima kasih kepadanya. [Surat Kartini kepada Ny. Ovink Soer, 12 Juni 1902]

Setelah Kartini kembali menaruh perhatian pada masalah-masalah agama, mulailah Nellie Van Kol melancarkan missi kristennya.

Nyonya Van Kol banyak menceritakan kepada kami tentang Yesus yang tuan muliakan itu, tentang rasul-rasul Petrus dan Paulus, dan kami senang mendengar semua itu [Surat Kartini kepada Dr. Adriani, 5 Juli 1902]

Nyonya van Kol gagal untuk mengkristenkan Kartini secara formal, tapi ia berhasil untuk memasukkan nilai kristen ke dalam keislaman Kartini. Dalam banyak suratnya Kartini menyebut ALLAH dalam konsep trinitas.

Malaikat yang baik beterbangan di sekeliling saya dan Bapak yang ada di langit membantu saya dalam perjuangan saya dengan bapakku yang ada di dunia ini. [Surat Kartini kepada Ny. Ovink Soer, 12 Juli 1902]



6. Kartini Ingin Menjadi Muslimah Sejati

Pada masa kecilnya, Kartini mempunyai pengalaman yang tidak menyenangkan ketika belajar mengaji (membaca Al-Quran). Ibu guru mengajinya memarahi beliau ketika Kartini menanyakan makna dari kata-kata Al-Quran yang diajarkan kepadanya untuk membacanya. Sejak saat itu timbullah penolakan pada diri Kartini.

"Mengenai agamaku Islam, Stella, aku harus menceritakan apa? Agama Islam melarang umatnya mendiskusikannya dengan umat agama lain. Lagi pula sebenarnya agamaku karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, kalau aku tidak mengerti, tidak boleh memahaminya? Al-Quran terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan kedalam bahasa apa pun. Di sini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. Di sini orang diajar membaca Al-Quran tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir, pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibacanya itu. Sama saja halnya seperti engkau mengajarkan aku buku bahasa Inggris, aku harus hafal kata demi kata, tetapi tidak satu patah kata pun yang kau jelaskan kepadaku apa artinya. Tidak jadi orang sholeh pun tidak apa-apa, asalkan jadi orang yang baik hati, bukankah begitu Stella?" [Surat Kartini kepada Stella, 6 November 1899]

"Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlunya dan apa manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al-Quran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya, dan jangan-jangan guru-guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepadaku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa, kitab yang mulia itu terlalu suci sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya. [Surat Kartini kepada E.E. Abendanon, 15 Agustus 1902]

Sampai suatu ketika Kartini berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati di Demak (Pangeran Ario Hadiningrat). Di Demak waktu itu sedang berlangsung pengajian bulanan khusus untuk anggota keluarga. Kartini ikut mendengarkan pengajian tersebut bersama para raden ayu yang lain, dari balik tabir. Kartini tertarik pada materi pengajian yang disampaikan Kyai Haji Mohammad Sholeh bin Umar, seorang ulama besar dari Darat, Semarang, yaitu tentang tafsir Al-Fatihah. Kyai Sholeh Darat ini - demikian ia dikenal - sering memberikan pengajian di berbagai kabupaten di sepanjang pesisir utara. Setelah selesai acara pengajian Kartini mendesak pamannya agar bersedia menemani dia untuk menemui Kyai Sholeh Darat. Inilah dialog antara Kartini dan Kyai Sholeh Darat, yang ditulis oleh Nyonya Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat :

"Kyai, perkenankanlah saya menanyakan, bagaimana hukumnya apabila seorang yang berilmu, namun menyembunyikan ilmunya?"
Tertegun Kyai Sholeh Darat mendengar pertanyaan Kartini yang diajukan secara diplomatis itu.

"Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?". Kyai Sholeh Darat balik bertanya, sambil berpikir kalau saja apa yang dimaksud oleh pertanyaan Kartini pernah terlintas dalam pikirannya.

"Kyai, selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama, dan induk Al-Quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan buatan rasa syukur hati aku kepada Allah, namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Quran dalam bahasa Jawa. Bukankah Al-Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?"


Setelah pertemuannya dengan Kartini, Kyai Sholeh Darat tergugah untuk menterjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Jawa. Pada hari pernikahan Kartini, Kyai Sholeh Darat menghadiahkan kepadanya terjemahan Al-Quran (Faizhur Rohman Fit Tafsiril Quran), jilid pertama yang terdiri dari 13 juz, mulai dari surat Al-Fatihah sampai dengan surat Ibrahim. Mulailah Kartini mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya. Tapi sayang tidak lama setelah itu Kyai Sholeh Darat meninggal dunia, sehingga Al-Quran tersebut belum selesai diterjemahkan seluruhnya ke dalam bahasa Jawa. Kalau saja Kartini sempat mempelajari keseluruhan ajaran Islam (Al-Quran) maka tidak mustahil ia akan menerapkan semaksimal mungkin semua hal yang dituntut Islam terhadap muslimahnya. Terbukti Kartini sangat berani untuk berbeda dengan tradisi adatnya yang sudah terlanjur mapan. Kartini juga memiliki modal kehanifan yang tinggi terhadap ajaran Islam. Bukankah pada mulanya beliau paling keras menentang poligami, tapi kemudian setelah mengenal Islam, beliau dapat menerimanya. Saat mempelajari Al-Islam lewat Al-Quran terjemahan berbahasa Jawa itu, Kartini menemukan dalam surat Al-Baqarah ayat 257 bahwa ALAH-lah yang telah membimbing orang-orang beriman dari gelap kepada cahaya (Minazh-Zhulumaati ilan Nuur). Rupanya, Kartini terkesan dengan kata-kata Minazh-Zhulumaati ilan Nuur yang berarti dari gelap kepada cahaya. Karena Kartini merasakan sendiri proses perubahan dirinya, dari pemikiran tak-berketentuan kepada pemikiran hidayah. Dalam banyak suratnya sebelum wafat, Kartini banyak sekali mengulang-ulang kalimat "Dari Gelap Kepada Cahaya" ini. Karena Kartini selalu menulis suratnya dalam bahasa Belanda, maka kata-kata ini dia terjemahkan dengan "Door Duisternis Tot Licht". Karena seringnya kata-kata tersebut muncul dalam surat-surat Kartini, maka Mr. Abendanon yang mengumpulkan surat-surat Kartini menjadikan kata-kata tersebut sebagai judul dari kumpulan surat Kartini. Tentu saja ia tidak menyadari bahwa kata-kata tersebut sebenarnya dipetik dari Al-Quran. Kemudian untuk masa-masa selanjutnya setelah Kartini meninggal, kata-kata Door Duisternis Tot Licht telah kehilangan maknanya, karena diterjemahkan oleh Armijn Pane dengan istilah "Habis Gelap Terbitlah Terang". Memang lebih puitis, tapi justru tidak persis.

Setelah Kartini mengenal Islam sikapnya terhadap Barat mulai berubah :
"Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa dibalik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?" [Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902]

Kartini juga menentang semua praktek kristenisasi di Hindia Belanda :

"Bagaimana pendapatmu tentang Zending, jika bermaksud berbuat baik kepada rakyat Jawa semata-mata atas dasar cinta kasih, bukan dalam rangka kristenisasi? .... Bagi orang Islam, melepaskan keyakinan sendiri untuk memeluk agama lain, merupakan dosa yang sebesar-besarnya. Pendek kata, boleh melakukan Zending, tetapi jangan mengkristenkan orang. Mungkinkah itu dilakukan?" [Surat Kartini kepada E.E. Abendanon, 31 Januari 1903]

Bahkan Kartini bertekad untuk memenuhi panggilan surat Al-Baqarah ayat 193, berupaya untuk memperbaiki citra Islam selalu dijadikan bulan-bulanan dan sasaran fitnah. Dengan bahasa halus Kartini menyatakan :

"Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai." [Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902]



7. Cita-cita Kartini Yang Sering Disalahartikan.

Kartini merasa bahwa hati kecilnya selalu mengatakan :

"Pergilah. Laksanakan cita-citamu. Kerjalah untuk hari depan. Kerjalah untuk kebahagiaan beribu-ibu orang yang tertindas dibawah hukum yang tidak adil dan paham-paham yang palsu tentang mana yang baik dan mana yang buruk. Pergi. Pergilah. Berjuanglah dan menderitalah, tetapi bekerjalah untuk kepentingan yang abadi" [Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902]

Petikan suratnya berikut ini adalah cita-cita Kartini yang banyak salah dimengerti :

"Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama. [Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902]

Inilah gagasan Kartini yang sebenarnya, namun kenyataannya sering diartikan secara sempit dengan satu kata: emansipasi. Sehingga setiap orang bebas mengartikan semaunya sendiri.



8. Pelajaran Bagi Umat Islam

Pada dasarnya Kartini ingin berjuang di jalan Islam. Tapi karena pemahamannya tentang Islam belum menyeluruh, maka Kartini tidak mengetahui panjangnya jalan yang akan ditempuh dan bagaimana cara berjalan diatasnya. (Mudah-mudahan Allah merahmati Kartini, beliau sudah berusaha, tapi ALLAH terlebih dahulu memanggilnya). Apabila kita mempelajari lebih jauh konsep-konsep yang diajukan Kartini, meskipun secara global adalah konsep Islam, tapi secara terperinci dan operasional, rancu dengan konsep-konsep Barat. Kita tahu sebagian besar teman-teman dekat Kartini adalah Yahudi dan Nasrani. Allah sudah memperingatkan kepada kita : Tidak akan pernah ridho orang-orang Yahudi dan Nasrani, sebelum kamu mengikuti tata cara mereka (Al-Quran, 2:120). Apa yang dialami Kartini merupakan sejarah yang senantiasa selalu terulangi. Setiap seseorang akan memperjuangkan Islam, maka tiba-tiba pihak-pihak yang tidak menyukai Islam akan bersatu untuk menghancurkannya. Bila posisi mereka lemah, maka mereka akan menempuhnya dengan cara yang halus dan tersembunyi. Tapi jika posisi mereka kuat, maka mereka akan menempuh cara-cara paksa. Secara tidak sadar Kartini menceritakan praktek keburukan umat Islam (bukan Islam yang buruk) kepada sahabat-sahabatnya non-Islam. Sehingga kelak kemudian hari menjadi bumerang dan fitnah bagi umat Islam. Sebaik-baiknya sahabat non-Islam, walau bagaimanapun tidak akan membantu Islam (Al-Quran, 3:119-120). Kartini berjuang seorang diri dan tidak menghimpun para santri lain yang ada di pulau Jawa. Salah seorang sahabat RasuluLLah, Ali bin Abi Thalib RA pernah berpesan kepada kita bahwa: Kebenaran yang tidak terorganisir dapat dikalahkan oleh kebathilan yang terorganisir. Dan Allah pun mencintai orang-orang yang berjuang di jalanNya dalam suatu barisan (Al-Quran, 61:4).

Wallahu'alam bissawab.

Reposting, sumber dari koleksi Isnet@
From: Abu Akhyar





Hak cipta dilindungi oleh Allohu Subhanahu wa Ta'ala
TIDAK DILARANG KERAS mengcopy, memperbanyak, mengedarkan
untuk kemaslahatan ummat syukur Alhamdulillah sumber dari swaramuslim dicantumkan
Posted Image

http://www.globalunification.com/associatesASIA001.php
http://www.hi5.com/friend/profile/displayP...userid=24171023
http://www.mesra.net/forum/index.php?act=ST&f=32&t=49475
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
zarith
Member Avatar
Ibu
[ * ]
Posted Image




[size=7]MCB-09 : Al Ihya Ulumuddien : Menghidupkan Kembali Ilmu Ilmu Agama[/size]
Oleh : Erros Jafar 01 Dec, 03 - 2:38 am




Posted Image

[size=7]Al Ihya Ulumuddien
Menghidupkan kembali ilmu ilmu agama
karangan Imam Al Ghazali[/size]





Karangan Imam Ghazali
Assalamu'alaikum wr wb
Bersama kami mengajak antum antum berinteraksi untuk menghimpun buku Al Ihya Ulumuddien karangan Imam Besar (Al Ghazali). Buku tersebut sangat langka... dan sekarang ini sangat sulit menemukannya ditokok toko buku (kalaupun ada mungkin sangat mahal harganya), padahal isinya sangat bagus untuk pedoman kita umat Islam dalam bersyariat.

Kami tim admin swaramuslim kesulitan mencari file buku tersebut dalam bentuk teks file *.txt. Oleh karena itu kami mengajak antum untuk langsung menghimpunnya di e-book swaramuslim dengan langsung mengisi ke Bab Bab sesuai daftar isi yang telah kami buat URLnya di : http://mcb.swaramuslim.net/index.php?section=9&page=-1



Wassalam





[size=7]SURAT IMAM AL-GHAZALI[/size]
Kepada Salah Seorang Muridnya


Wahai anak! Nasehat itu mudah, yang sulit adalah menerimanya; karena terasa pahit oleh segala hawa nafsu yang menyukai segala yang terlarang. Terutama dikalangan penuntut ilmu yang membuang waktu dalam mencari kebesaran diri dan kemegahan duniawi. Ia mengira bahwa di dalam ilmu yang tak bersari itulah terkandung keselamatan dan kebahagiaan, dan ia menyangka tak perlu beramal. Inilah kepercayaan filsuf - filsuf.

Ia tidak tahu bahwa ketika telah ada pada seseorang ilmu, maka ada yang memberatkan, seperti disabdakan Rasulullah SAW: "Orang yang berat menanggung siksa di hari kiamat ialah orang yang berilmu namun tidak mendapat manfaat dari ilmunya itu".

Wahai anak! Janganlah engkau hidup dengan kemiskinan amal dan kehilangan kemauan kerja. Yakinlah bahwa ilmu tanpa amal semata-mata tidak akan menyelamatkan orang.

Jika disuatu medan pertempuran ada seorang yang gagah berani dengan persenjataan lengkap dihadapkan dengan seekor singa yang galak, dapatkah senjatanya melindunginya dari bahaya, jika tidak diangkat, dipukulkan dan ditikamkan? Tentu saja tidak akan menolong, kecuali jika diangkat, dipukulkan dan ditikamkan!

Demikian pula, jika seseorang membaca dan mempelajari seratus ribu masalah ilmiah, jika tidak diamalkan maka tidaklah akan mendatangkan faedah.

Wahai anak! berapa malam engkau berjaga guna mengulang - ulang ilmu, membaca buku, dan engkau haramkan tidur atas dirimu. Aku tak tahu, apa yang menjadi pendorongmu. Jika yang menjadi pendorongmu adalah kehendak mencari materi dan kesenangan dunia, atau mengejar pangkat atau mencari kelebihan atas kawan semata, maka malanglah engkau.

Namun jika yang mendorongmu adalah keinginan untuk menghidupkan syariat Rasulullah SAW, dan menyucikan budi pekertimu, dan menundukkan nafsu yang tiada henti mengajak kepada kejahatan, maka mujurlah engkau. Benar sekali kata seorang penyair, 'Biarpun kantuk menyiksa mata, Akan percuma semata-mata. Jika tak karena Allah semata'.

Wahai anak! Hiduplah sebagaimana maumu. Namun Ingat! bahwasannya engkau akan mati. Dan cintalah siapa yang engkau sukai. Namun Ingat! Engkau akan berpisah dengannya. Dan berbuatlah seperti yang engkau kehendaki. Namun ingat! Engkau akan menerima balasannya nanti.
masing-masing.



6 PERTANYAAN IMAM AL GHOZALI.

Imam Al Ghozali dikenal sebagai ulama besar. Di akhir hidupnya beliau lebih menekuni tasawuf. Karya besar beliau berjudul Ihya Ullumudin. Sedangkan karya yang lain adalah 'Tahafut Al-Falasifa' kerancuan berpikir ahlu filsafat. Buku ini menjadikannya polemik dengan Ibnu Rusdy (setelah Al-Ghazali meninggal).

Imam Al Ghozali mempunyai 6 pertanyaan penting:


1. "Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?".
Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman,dan kerabatnya.

Imam Ghozali menjelaskan semua jawaban itu benar. tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "Mati". Sebab itu sudah janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. (Ali Imran 185)


2. "Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?".
Murid -muridnya ada yang menjawab negara Cina, bulan, matahari, dan bintang-bintang.

Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan adalah benar. Tapi yang paling benar adalah masa lalu. Bagaimanapun kita, apapun kenderaan kita, tetap kita tidak boleh kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.


3. "Apa yang paling besar di dunia ini?".
Murid-muridnya ada yang menjawah gunung, bumi,dan matahari.

Semua jawaban itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "Nafsu" (Al A'Raf 179). Maka kita harus
hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.


4. "Apa yang paling berat di dunia ini?".
Ada yang menjawab baja, besi, dan gajah.

Semua jawaban itu benar, kata Imam Ghozali. Tapi yang paling berat adalah "memegang AMANAH" (Al Ahzab 72). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi khalifah (pemimpin)
di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak bisa memegang amanahnya.


5. "Apa yang paling ringan di dunia ini?".
Ada yang menjawab kapas, angin, debu, dan daun-daunan.

Semua itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling ringan di dunia ini adalah meninggalkan Sholat. Gara-gara pekerjaan kita tinggalkan sholat, gara-gara meeting kita tinggalkan sholat.


6. "Apakah yang paling tajam di dunia ini?".
Murid-muridnya menjawab dengan serentak, pedang...

Benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling tajam adalah "lidah manusia". Karena melalui lidah, Manusia dengan mudah menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.




Nasyid Ustd.Jefry Al Buchory

http://swaramuslim.com/streaming/nasyid/jefry/radio.m3u




Hak cipta dilindungi oleh Allohu Subhanahu wa Ta'ala
TIDAK DILARANG KERAS mengcopy, memperbanyak, mengedarkan
untuk kemaslahatan ummat syukur Alhamdulillah sumber dari swaramuslim dicantumkan
Posted Image

http://www.globalunification.com/associatesASIA001.php
http://www.hi5.com/friend/profile/displayP...userid=24171023
http://www.mesra.net/forum/index.php?act=ST&f=32&t=49475
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
zarith
Member Avatar
Ibu
[ * ]
Posted Image



[size=7]Cara Mudah Hancurkan Zionis (Bag.1)[/size]
Oleh : Redaksi 11 Jun 2007 - 4:00 pm



Kamis dinihari, 7 Juni 2007, saat matahari masih terlelap dalam tidurnya, sebuah pesan singkat tiba-tiba masuk di ponselku dan pesannya cukup jelas:. “Hadiri ‘MUNASHOROH PALESTINA’ utk menentang 40th pejajahan Yahudi terlaknat. Ahad 10/6 di HI... ”

Aku tersenyum. Tiba-tiba saja aku teringat salah satu sabda Rasulullah SAW, “Ilmu qobla ‘amal”. Ilmu sebelum beramal, yang memiliki arti sebagai: Sebelum melakukan sesuatu, hendaknya engkau mengetahui dengan benar apa yang akan kau lakukan. ”

Pesan tersebut mengandung niat yang sungguh mulia. Semua manusia yang memiliki nurani pasti akan mendukungnya. Namun kalimat pesan tersebut mengandung bias dengan adanya tulisan “40th penjajahan Yahudi terlaknat. ”

Yang tidak diketahui banyak kalangan, tidak semua Yahudi itu Zionis. Bahkan ada banyak orang-orang Yahudi yang dengan gigih menentang Zionisme. Sebut saja Rabbi Yisroel Dovid Weiss dengan kelompok Neturei Karta-nya di Amerika, Norman Finkelstein yang membuka kedustaan kaum Zionis soal Holocoust, Noam Chomsky yang membeberkan kelakuan Zionis-Amerika sehingga dengan berani menyebut AS sebagai ‘The Rogue State’ (Negara Bajingan), dan sebagainya. Saya yakin, orang-orang Yahudi yang berjuang keras menentang dan melawan Zionisme ini tentu tidak terlaknat.



Posted Image
[size=7]Detail Galery Dapat dilihat di [/size]
http://swaramuslim.net/galery/boycott/inde...ancurkan_zionis


Di sisi lain, ada banyak orang-orang Melayu, Anglo-Saxon, dan ras selain Yahudi yang secara aktif membantu Zionisme Internasional. Ironisnya, di negeri ini ternyata ada banyak orang yang mengaku Muslim yang turut membantu penjajahan Zionis-Israel di Palestina. Di negeri ini ada banyak orang yang turut menyumbangkan uangnya untuk dijadikan senjata-senjata dan peluru-peluru tentara Zionis yang pada akhirnya membunuhi bayi-bayi Palestina yang tak berdosa dan para Mujahidin Palestina lainnya.


Masih Beli McDonald’s?

Dari Senin hingga Jum’at ba’da maghrib, dalam perjalanan pulang dari kantor, saya nyaris selalu melewati resto McDonald’s di Pondok Indah, Jakarta. Hampir setiap malam resto itu penuh oleh pembeli. Banyak di antara mereka perempuan-perempuan berjilbab. Tahukah mereka jika sebagian keuntungan dari McD itu disalurkan ke Israel? Tahukah mereka jika CEO McD yang bernama Jack M Greenberg menjabat sebagai Direktur Kehormatan American-Israel Chamber of Commerce and Industry—Kadinnya Amerika—yang berlokasi di Chicago?

McDonald yang telah berdiri di lebih 121 negara, dengan jumlah armada restorannya sekitar 30. 000 buah, merupakan rekanan dari Jewish United Fund dan Jewish Federation. Sebab itu, ketika dalam perayaan 100 tahun berdirinya Jewish United Fund dan Jewish Federation di Chicago-AS di tahun 2002, McD mendapat penghargaan dari dua organisasi zionis itu sebagai perusahaan penyumbang ketiga terbesar di dunia setelah AOL Corporation dan Illinois Tool Works Foundation kepada Zionis-Israel.

Walau fakta-fakta ini sudah tersebar ke seluruh dunia sejak tahun 2000-an lalu, namun masih teramat banyak saudara-saudara kita yang mengabaikan hal tersebut. Ironisnya, di Makkah, sebuah kota suci umat Islam, resto McD bahkan telah mendirikan sekurangnya dua gerainya. Dan di Saudi Arabia sendiri McD telah mendirikan sekitar 71 gerai restonya. Pangeran Misha-al-bin Khalid bin Fahad al-Faisal Al-Saud tercatat sebagai pemegang lisensi restoran McD di Saudi Arabia. Dia bukan Yahudi. Tapi jelas terlaknat!

Sesungguhnyalah, jika ada seseorang—siapa pun dia—yang membeli produk makanan rekanan Zionis-Israel tersebut, maka dia telah ikut andil dalam pembunuhan bayi-bayi Palestina!

Sesungguhnyalah, jika ada seseorang—siapa pun dia—yang membeli dan memakan produk makanan rekanan Zionis-Israel tersebut, maka dia sebenarnya tengah memakan, mengunyah, dan memamah daging bayi-bayi Palestina yang telah dibunuhnya!


Bukan Hanya McDonald’s

Sahabat Zionis-Israel bukan cuma McDonald’s. Di dunia ini ada banyak sekali perusahaan-perusahaan yang secara aktif dan giat menyalurkan sebagian labanya kepada Zionis-Israel. Ironisnya, perusahaan-perusahaan tersebut bisa hidup dari menyedot uang milik kaum Muslimin seluruh dunia. Kenyataan ini membuat ulama besar asal Qatar, Dr. Yusuf Qaradhawy, pada November 2000 mengeluarkan fatwanya yang sangat monumental:

“Tiap-tiap riyal, dirham, dan sebagainya, yang digunakan untuk membeli produk dan barang Israel atau Amerika, dengan cepat akan menjelma menjadi peluru-peluru yang merobek dan membunuhi pemuda dan bocah-bocah Palestina. Sebab itu, diharamkan bagi umat Islam membeli barang-barang atau produk musuh-musuh Islam tersebut. Membeli barang atau produk mereka, berarti ikut serta mendukung kekejaman tirani, penjajahan, dan pembunuhan yang dilakukan mereka terhadap umat Islam... ”


Fatwa ini didukung oleh ulama-ulama dan cendekiawan Muslim dunia seperti Syaikh Al-Azhar Ath-Thantawy, Dr. Abdul Satar Fathullah Said (Dosen Syariah Universitas Al-Azhar), Dr. Naser Farid Wasil (mantan Mufti Mesir), Dr. Muhammad Imarah (Pemikir Muslim Dunia), Dr. Abdul Hamid Ghazali (pakar ekonomi dan politik Islam), dan sebagainya. Puluhan ulama Sudan juga menulis surat dukungan terhadap fatwa tersebut.

Di Lebanon, Ayatullah Sayyid Muhammad Husayn Fadhlullah mengeluarkan fatwa sejenis pada tanggal 20 November 2000. Dari Iran, dari Markas Besar di Kota Qum, Imam Syed Ali Khamenei mengeluarkan fatwa mengharamkan membeli produk dan barang buatan Zionis-Israel dan seluruh negara yang mendukung Zionisme.

“Tiap-tiap transaksi dengan perusahaan yang mana pasti memberikan laba kepada mereka, pada hakikatnya adalah tindakan menolong musuh-musuh Islam dan Muslim, dan juga berarti mendukung rezim Zionis-Israel. Ini adalah perbuatan haram. Membeli produk dan barang dagangan mereka sama saja melakukan tindakan yang tidak bermoral, ini tentu saja tidak dibenarkan. ”


Pemimpin Muslim Irak, Ayatullah as-Sayyid Ali as-Seestani juga mengeluarkan fatwa sejenis.

Yang menarik, fatwa Dr. Yusuf Qaradhawy ini ternyata juga direspon sangat positif oleh banyak sekali aktivis kemanusiaan Eropa dan Amerika. Mereka bukan orang Islam, bahkan kelompok Yahudi anti Zionisme yang ada di AS seperti Kelompok Neturei-Karta, dengan tegas menyatakan bahwa Zionisme dan Talmud adalah ajarannya Iblis.

Fatwa Boikot Dr. Qaradhawy bergema ke seluruh dunia. Di Eropa timbul gelombang pasang aksi boikot terhadap Zionis-Israel dan Zionis AS. Inilah beberapa kejadian di antaranya yang dikutip dari buku “Ketika Rupiah Jadi Peluru Zionis” (Rizki Ridyasmara, Pustaka Alkautsar, 2005):
- Belgia: Negara Eropa ini adalah pelopor suatu kampanye internasional untuk memboikot perusahaan-perusahaan minyak AS. Kampanye anti-AS itu dilakukan dalam rangka mengecam invasi AS atas Irak.

Aksi-aksi boikot itu dilakukan aktivis kemanusiaan Belgia dengan jalan menutup stasiun-stasiun bahan bakar milik perusahaan minyak AS seperti Esso dan Texaco di hampir seluruh wilayah Belgia. Di SPBU Esso di provinsi Gent misalnya, aksi boikot itu digelar dalam bentuk pergelaran happening art, ada sebuah karpet menutup mayat-mayat manusia, lalu sekelompok marinir AS bersenjata, dan sosok Presiden George W. Bush. Adegan itu untuk menggambarkan ribuan warga Irak tak berdosa yang menjadi korban ambisi perang minyak yang dikobarkan AS di Irak. Aksi itu juga menyimbolkan betapa ladang-ladang minyak dan gas penting milik Irak telah dirampok dan kemudian dijual perusahaan multinasional AS, Esso dan Texaco.

Organisasi HAM “For Mother Earth” sebagai salah satu anggota aliansi LSM “Kampanye Boikot Bush” memaparkan hal ini dalam pernyataan persnya yang dirilis Sabtu (14/6/03) di Belgia. Aliansi LSM “Kampanye Boikot Bush” merupakan satu koalisi LSM internasional yang terdiri dari Attac, America Watchers, For Mother Earth, dan Christian Movement for Peace.

Aliansi ini menegaskan bahwa AS telah bertindak sebagai “negara bajingan” sejak Bush terpilih sebagai presidennya. LSM For Mother Earth (FME) yang bermarkas di Belgia itu mencantumkan daftar produk-produk AS yang harus diboikot bersama produk-produk alternatif lainnya dalam situs mereka. FME juga mencantumkan perusahaan-perusahaan yang dianggap telah memberikan sumbangan terbesar kepada Partai Republik dalam kampanye Pemilu 2000 AS.

Dengan mengenakan pita dan bendera-bendera peringatan “berbahaya”, para aktivis aksi boikot AS itu menutup stasiun-stasiun bahan bakar Esso dan Texaco tanpa kekerasan. Sejumlah lokasi stasiun bahan bakar yang berhasil sukses mereka tutup terletak di Antwerp, Arlon, Bruges, Brussels, Gent, Hasselt, dan Namur. “Ada darah ribuan korban tak berdosa pada logo-logo Esso dan Texaco. Kedua perusahaan minyak multinasional itu, bersama-sama telah menyumbangkan dua juta dolar AS untuk Bush pada kampanye Pemilu 2000. Mereka juga yang mendorong kebijakan pemerintahan Bush untuk menggelar perang di Irak, ” tegas Pol D’Huyvetter, jurubicara FME.

Tokoh FME ini juga berkata, “Ketika Bush sama sekali melecehkan peringatan PBB dan opini publik internasional, boikot hari ini adalah model aksi paling efektif yang dapat kami tawarkan pada seluruh warga negara di manapun. Setiap orang bisa dengan mudah mendaftarkan sikap perlawanannya terhadap kebijakan AS. Yakni dengan cara memboikot produk-produk AS yang ada dalam daftar kami, atau bisa juga memboikot seluruh produk AS. Uang adalah bahasa yang biasa digunakan pemerintah Bush untuk memaksa negara-negara lain masuk dalam koalisi mereka. Aksi boikot adalah bahasa yang bisa dimengerti dan dipahami Washington. ”

Dalam hampir semua aksi penutupan SPBU milik perusahaan Esso dan Texaco, para pekerja pom bisa memahami tujuan aksi para aktivis. Dialog berjalan cukup lancar. Para pengendara mobil dan motor yang mendengar seruan kampanye boikot perusahaan-perusahan minyak AS dari udara, umumnya memberikan respon mendukung. Mereka memberikan senyuman dan acungan jempol. (Bersambung/Rizki Ridyasmara)


Posted Image

Link :
- http://www.inminds.co.uk/qa-rabbi-weiss.html
- http://en.wikipedia.org/wiki/Norman_Finkelstein
- http://www.normanfinkelstein.com/
- http://www.chomsky.info/
- http://en.wikipedia.org/wiki/Noam_Chomsky



Hak cipta dilindungi oleh Allohu Subhanahu wa Ta'ala
TIDAK DILARANG KERAS mengcopy, memperbanyak, mengedarkan
untuk kemaslahatan ummat syukur Alhamdulillah sumber dari swaramuslim dicantumkan


Posted Image

http://www.globalunification.com/associatesASIA001.php
http://www.hi5.com/friend/profile/displayP...userid=24171023
http://www.mesra.net/forum/index.php?act=ST&f=32&t=49475
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
zarith
Member Avatar
Ibu
[ * ]
Posted Image



[size=7]Sayidina Ali, Sang Inspirator Uluhiyah[/size]

Tokoh Teladan Oleh : Redaksi 25 Oct 2003 - 3:17 am
Oleh : Wawan Susetya


http://www.swaramuslim.com/streaming/nasyid/jefry/Iqra.wma

Sayyidina Ali bin Abi Thalib memiliki kepribadian yang penuh inspirasi Uluhiyah atau Ketuhanan. Ali tidak memerlukan proses pengalaman atau tabrakan atau penimbangan dengan dan atas apa pun benda dan peristiwa dalam hidupnya sebagaimana seniornya; Abu Bakar, Umar, dan Usman. Ia tidak perlu menggali ilmu tentang daun dan hujan untuk menemukan kebesaran Allah. Begitu ia memandang daun, yang dijumpainya adalah langsung Allah.

Rasulullah memberikan metafor dengan sabdanya, ''Aku ibarat alun-alunnya ilmu, sedangkan Ali bin Abi Thalib adalah pintunya (gerbang).''

Pernyataan Rasulullah ini menimbulkan perasaan iri pada kaum Khawarij terhadap Ali. Mereka kemudian mengadakan majelis musyawarah yang dihadiri 10 orang dari kalangan para tokoh. Mereka sepakat menguji Ali: masing-masing akan mengajukan pertanyaan yang sama, tapi harus dijawab oleh Ali dengan jawaban yang berbeda.

Lalu, mereka menemui Ali bin Abi Thalib, masing-masing mengajukan pertanyaan, ''Ya Ali, istimewa manakah antara ilmu dan harta?''

Ali bin Abi Thalib dengan tangkas menjawab pertanyaan mereka satu per satu, yang masing-masing jawaban disertai argumentasi yang berbeda. Jawaban yang disampaikan Ali, yakni: pertama, ilmu lebih istimewa daripada harta. Sebab, ilmu adalah warisan para Nabi, sedangkan harta adalah warisan Qarun, Haman, dan Fir'aun.

Kedua, ilmu lebih istimewa daripada harta. Sebab, ilmu selalu menjagamu, sedangkan engkau harus menjaga harta milikmu.

Ketiga, ilmu lebih istimewa daripada harta. Sebab, orang berilmu banyak kawan, sedangkan orang kaya banyak musuhnya.

Keempat, ilmu lebih istimewa daripada harta. Sebab, ilmu bila diinfakkan (diajarkan) semakin bertambah, sedangkan harta bila diinfakkan semakin berkurang.

Kelima, ilmu lebih istimewa daripada harta. Sebab, orang berilmu dipanggil dengan sebutan mulia, sedangkan orang berharta dipanggil dengan sebutan hina.

Keenam, ilmu lebih istimewa daripada harta. Sebab, ilmu tidak perlu dijaga, sedangkan harta minta dijaga.

Ketujuh, ilmu lebih istimewa daripada harta. Sebab, orang berilmu di hari kiamat dapat memberi syafaat, sedangkan orang berharta di hari kiamat dihisab dengan berat.

Kedelapan, ilmu lebih istimewa daripada harta. Sebab, ilmu dibiarkan saja tidak akan pernah rusak, sedangkan harta dibiarkan pasti berkurang (bahkan habis dimakan).

Kesembilan, ilmu lebih istimewa daripada harta. Sebab, ilmu memberikan penerang di dalam hati, sedangkan harta dapat membuat kerusakan di dalam hati (seperti menimbulkan sifat takabur, pamer, dan ingkar).

Kesepuluh, ilmu lebih istimewa daripada harta. Sebab, orang berilmu bersikap lemah lembut dan selalu berbakti kepada Allah, sedangkan orang berharta seringkali memiliki sifat takabur dan ingkar kepada Allah.

Sepuluh orang tokoh Khawarij yang mengajukan pertanyaan kemudian ditantang oleh Ali bin Abi Thalib: ''Seandainya seluruh kaum Khawarij satu per satu mengajukan pertanyaan 'istimewa mana antara ilmu dan harta' tentu aku akan memberikan argumentasi yang berbeda selagi hayat masih di kandung badan.'' Akhirnya kaum Khawarij mengakui kealiman Ali dan mengakui pula kebenaran sabda Rasulullah. Mereka pun tunduk patuh kepada Ali.

Demikianlah kehebatan Ali, kemenakan dan kader gemblengan Rasulullah. Abu Bakar, Umar, dan Usman, serta kita semua berupaya mencapai ''kota'' itu, memasuki lewat ''pintunya'' dengan cara kita masing-masing untuk memperoleh kemungkinan mendapatkan kemuliaan liqa-u Rabb; untuk mengalami pertemuan agung dengan Allah. Kita melewati ''pintu'', sedangkan Ali adalah ''pintu'' itu sendiri.

Sebagian kita ditakdirkan Allah sejak dinihari kehidupan memperoleh jalan lempang memasuki ''kota ilmu'' Tuhan. Bahkan, ada yang memperoleh rahmat dengan sudah berada di dalamnya tanpa susah payah. Tapi, tak sedikit juga di antara kita yang malah sibuk mencari jalan keluar dari ''kota Tuhan''.



Hak cipta dilindungi oleh Allohu Subhanahu wa Ta'ala
TIDAK DILARANG KERAS mengcopy, memperbanyak, mengedarkan
untuk kemaslahatan ummat syukur Alhamdulillah sumber dari swaramuslim dicantumkan



Posted Image

http://www.globalunification.com/associatesASIA001.php
http://www.hi5.com/friend/profile/displayP...userid=24171023
http://www.mesra.net/forum/index.php?act=ST&f=32&t=49475
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
zarith
Member Avatar
Ibu
[ * ]
Posted Image


Posted Image

[size=7]Sejarah dan Fadilat Ayat Qursi[/size]


Semasa penurunannya ia telah diiringi oleh beribu-ribu malaikat kerana kehebatan dan kemuliaannya. Syaitan dan iblis juga menjadi gempar kerana adanya satu perintang dalam perjuangan mereka. Rasullah s. a. w. dengan segera memerintahkan Zaid b Tsabit menulis serta menyebarkannya.



Sesiapa yang membaca ayat Kursi dengan khusyuk setiap kali selepas sembahyang fardhu, setiap pagi dan petang setiap kali keluar masuk rumah atau hendak musafir, InsyaAllah akan terpeliharalah dirinya dari godaan syaitan, kejahatan manusia, binatang buas yang akan memudaratkan dirinya bahkan keluarga, anak-anak, harta bendanya juga akan terpelihara dengan izin Allah s. w. t.

Mengikut keterangan dari kitab"Asraarul Mufidah" sesiapa mengamalkan membacanya setiap hari sebanyak 18 kali maka akan dibukakan dadanya dengan berbagai hikmah, dimurahkan rezekinya, dinaikkan darjatnya dan diberikannya pengaruh sehingga semua orang akan menghormatinya serta terpelihara ia dari segala bencana dengan izin Allah.

Syeikh Abu Abbas ada menerangkan, siapa yang membacanya sebanyak 50 kali lalu ditiupkannya pada air hujan kemudian diminumnya, insyaAllah, Allah akan mencerdaskan akal fikirannya serta memudahkannya menerima ilmu pengetahuan.

Untuk amalan kita semua..... Fadhilat Ayat Al-Kursi mengikut Hadis-Hadis Rasullullah s. a. w. bersabda bermaksud: "Sesiapa pulang ke rumahnya serta membaca ayat Kursi, Allah hilangkan segala kefakiran di depan matanya.

Sabda baginda lagi; "Umatku yang membaca ayat Kursi 12 kali pada pagi Jumaat, kemudian berwuduk dan sembahyang sunat dua rakaat, Allah memeliharanya daripada kejahatan syaitan dan kejahatan pembesar." Orang yang selalu membaca ayat Kursi dicintai dan dipelihara Allah sebagaimana DIA memelihara Nabi Muhammad.

Mereka yang beramal dengan bacaan ayat Kursi akan mendapat pertolongan serta perlindungan Allah daripada gangguan serta hasutan syaitan. Pengamal ayat Kursi juga, dengan izin Allah, akan terhindar daripada pencerobohan pencuri. Ayat Kursi menjadi benteng yang kuat menyekat pencuri daripada memasuki rumah. Mengamalkan bacaan ayat Kursi juga akan memberikan keselamatan ketika dalam perjalanannya.

Ayat Kursi yang dibaca dengan penuh khusyuk, Insya-Allah, boleh menyebabkan syaitan dan jin terbakar. Jika anda berpindah ke rumah baru maka pada malam pertama anda menduduki rumah itu eloklah anda membaca ayat Kursi 100 kali, insya-Allah mudah-mudahan anda sekeluarga terhindar daripada gangguan lahir dan batin. Barang siapa membaca ayat Al-Kursi apabila berbaring di tempat tidurnya,

Allah mewakilkan 2 orang Malaikat memeliharanya hingga subuh. Barang siapa membaca ayat Al-Kursi di akhir setiap sembahyang Fardhu, ia akan berada dalam lindungan Allah hingga sembahyang yang lain. Barang siapa membaca ayat Al-Kursi di akhir tiap sembahyang, tidak menegah akan dia daripada masuk syurga kecuali maut, dan barang siapa membacanya ketika hendak tidur, Allah memelihara akan dia ke atas rumahnya, rumah jirannya & ahli rumah2 di sekitarnya. Barang siapa membaca ayat Al-Kursi diakhir tiap-tiap sembahyang Fardhu, Allah menganugerahkan dia hati-hati orang yang bersyukur perbuatan2 orang yang benar, pahala nabi2 juga Allah melimpahkan padanya rahmat. Barang siapa membaca ayat Al-Kursi sebelum keluar rumahnya, maka Allah mengutuskan 70,000 Malaikat kepadanya, mereka semua memohon keampunan dan mendoakan baginya. Barang siapa membaca ayat Al-Kursi di akhir sembahyang Allah azza wajalla akan mengendalikan pengambilan rohnya dan ia adalah seperti orang yang berperang bersama nabi Allah sehingga mati syahid. Barang siapa yang membaca ayat al-Kursi ketika dalam kesempitan nescaya Allah berkenan memberi pertolongan kepadanya





Dipetik dari Posted Image

Dikirim pada Friday, July 14 @ 01:00:00 MYT dengan Sofiadie
Posted Image

http://www.globalunification.com/associatesASIA001.php
http://www.hi5.com/friend/profile/displayP...userid=24171023
http://www.mesra.net/forum/index.php?act=ST&f=32&t=49475
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
ZetaBoards - Free Forum Hosting
Free Forums with no limits on posts or members.
Learn More · Register Now
Go to Next Page
« Previous Topic · Peringatan dan Teladan · Next Topic »
Add Reply
  • Pages:
  • 1
  • 3

JUMLAH PENGUNJUNG (VISITOR) SETAKAT INI:
................................................................................................................................................................
My Topsites List Search Engine Submission & Optimization Search Engine Submission and Internet Marketing
................................................................................................................................................................